Belajar itu bukan cuma soal otak. Percaya atau tidak, perasaan kita sedang senang, stres, atau cemas punya pengaruh besar terhadap seberapa baik kita menyerap dan mengingat pelajaran. Kalau emosi sedang stabil, fokus dan ingatan biasanya ikut terjaga. Tapi coba bayangkan saat kita dikejar deadline atau dilanda kecemasan akan nilai, rasanya sulit sekali berkonsentrasi, bukan? Materi yang dibaca pun seolah mudah menguap.
Tekanan akademik, mau tak mau, jadi bagian dari keseharian pelajar dan mahasiswa. Tuntutan prestasi, seabrek tugas, dan persaingan kerap memicu stres. Menurut sejumlah pengamatan, kondisi emosional semacam ini langsung berdampak pada kualitas belajar. Makanya, memahami kaitan antara perasaan dan kerja otak ini jadi hal yang krusial.
Emosi, baik yang positif maupun negatif, punya andil besar. Rasa percaya diri dan motivasi bisa mendorong kita lebih terlibat dalam proses belajar. Sebaliknya, rasa frustrasi atau cemas berlebihan justru menghambat. Stres akademik, misalnya, muncul ketika tuntutan belajar terasa jauh melampaui kemampuan yang kita miliki. Dampaknya tak cuma pada kesehatan mental, tapi juga fungsi kognitif kita.
Nah, coba kita lihat konsentrasi. Kemampuan memusatkan perhatian ini sangat rentan diganggu oleh gejolak emosi. Pikiran yang dipenuhi kekhawatiran akan kegagalan atau penilaian orang lain pasti sulit fokus. Perhatian jadi terpecah sebagian ke materi, sebagian lagi ke hal-hal yang mencemaskan.
Di sisi lain, mereka yang punya kecerdasan emosional baik biasanya lebih mampu mengelola perasaannya. Mereka bisa mengenali ketika kecemasan mulai muncul dan punya cara untuk menenangkan diri. Hasilnya? Mereka lebih bisa menjaga fokus meski situasi sedang menekan.
Artikel Terkait
Nvidia Bongkar Vera Rubin, Chip AI yang Klaim 5 Kali Lebih Cepat di CES 2026
Grok Buat Deepfake Seksual, Pemerintah Dunia Bergerak
Bunga Telang: Dari Pewarna Makanan Jadi Penjaga Mata di Era Digital
China Borong 2 Juta Chip NVIDIA, Stok Global Terancam Menipis