Mana yang benar? Enggak ada yang mutlak. Masing-masing lahir dari konteks sosial, ekonomi, dan demografi yang unik.
Lantas, Indonesia Pilih yang Mana?
Kondisi kita saat ini spesifik. Bonus demografi masih berjalan, literasi keuangan tumbuh tapi belum merata, kapasitas fiskal terbatas, dan tuntutan transparansi makin keras.
Jadi, pertanyaannya bukan, “Sistem mana yang paling ngetren di dunia?”
Tapi harusnya, “Sistem mana yang paling cocok dengan watak bangsa dan tahap pembangunan kita?”
DB murni memberatkan fiskal. DC murni terlalu berisiko secara sosial. Di tengah-tengah itu, NDC menawarkan jalan tengah yang rasional. Mungkin di situlah jawabannya.
Martabat Itu Bukan Cuma Angka
Pensiun bermartabat jelas bukan cuma persoalan hitung-hitungan aktuaria atau persentase manfaat. Bukan cuma neraca keuangan negara.
Ini soal kepastian hidup setelah puluhan tahun mengabdi. Soal rasa aman yang tidak bergantung pada siapa yang berkuasa. Soal hak yang tumbuh seiring pengabdian, dan perlindungan yang tidak menciptakan kecemasan fiskal bagi negara.
Intinya, martabat lahir dari keseimbangan. Bukan dari ekstremitas.
Merawat Warisan, Menatap Masa Depan
Dari DB kita belajar tentang kehormatan dan perlindungan. NDC mengajarkan keadilan dan keberlanjutan. Sementara DC memberi pelajaran tentang tanggung jawab individu.
Bangsa yang bijak bukanlah bangsa yang menolak masa lalunya. Ia adalah bangsa yang merawat warisan dengan baik, sambil menyiapkan masa depan dengan akal sehat.
Pilihan di Tangan Kita
Jadi, tiga jalan terbentang. Jalan lama yang penuh jasa, jalan tengah yang penuh pertimbangan, dan jalan baru yang penuh tantangan. Masing-masing punya konsekuensi, termasuk jika kita memilih kombinasi dari ketiganya.
Tapi, satu hal yang mutlak tidak boleh berubah: masa tua para aparatur haruslah bermartabat. Bukan sekadar bertahan hidup.
Bangsa besar merancang martabat itu dari sekarang, jauh sebelum krisis datang memaksa. Mungkin, sekaranglah waktunya untuk mulai.
Catatan: Tulisan ini adalah gagasan dan harapan untuk menggugah kesadaran literasi publik. Gunakan dengan bijak.
Artikel Terkait
Umpatan Ternyata Bisa Jadi Bahan Bakar Ekstra Saat Olahraga
Salah Dengar Lirik Lagu? Itu Bukti Otakmu Sedang Berpikir Keras
Gawai vs PR: Mengapa Anak Rajin di Sekolah, Malas Belajar di Rumah?
Antarmuka: Penerjemah Tak Kasat Mata yang Menentukan Nasib Tanaman Hidroponik