Asosiasi Bullion Indonesia Resmi Dibentuk untuk Perkuat Ekosistem Emas Nasional

- Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:18 WIB
Asosiasi Bullion Indonesia Resmi Dibentuk untuk Perkuat Ekosistem Emas Nasional

Indonesia kini memiliki wadah resmi bagi pelaku industri bullion. Indonesia Bullion Market Association (IBMA) resmi dibentuk dengan tujuan mendorong pengembangan pasar bullion yang kredibel, efisien, dan berkelanjutan melalui kolaborasi, standardisasi, edukasi, serta penguatan ekosistem industri nasional. Peresmian berlangsung di BSI Tower pada Kamis (20/8).

Pembentukan IBMA sejalan dengan peluncuran kegiatan usaha bullion (Layanan Bank Emas) oleh Presiden Prabowo Subianto pada 26 Februari 2025. Setelah satu tahun berjalan, kinerja bullion bank mendapat respons positif dari masyarakat dan menunjukkan besarnya potensi ekosistem bullion Indonesia.

Saat ini, bullion bank di Indonesia telah mengelola lebih dari 170 ton emas, dengan 153 ton di antaranya dikelola oleh Pegadaian. Capaian ini diapresiasi langsung oleh Presiden Prabowo dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI, 14 Agustus 2026. Presiden menilai Bank Emas Indonesia merupakan terobosan strategis yang mampu mengamankan aset nasional, memperkuat sistem keuangan, dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.

Peresmian IBMA dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Ketua Umum IBMA Selfie Dewiyanti yang juga Direktur Pemasaran, Penjualan dan Pengembangan Produk PT Pegadaian (Persero), serta Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo. Acara ini disaksikan oleh 11 founder IBMA yang diwakili masing-masing direktur utama perusahaan. Turut hadir Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma'ruf, Dewan Komisioner OJK Dicky Kartikoyono, Chief Economist BPI Danantara Reza Yamora Siregar, Kepala Badan Standardisasi Nasional Donny Purnomo Januardhi Effyandono, Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya, serta perwakilan World Gold dan Malaysia Gold Association.

Indonesia sebenarnya memiliki fondasi geologis yang kuat sebagai salah satu produsen emas terbesar dunia. Namun, potensi tersebut belum teroptimalkan karena belum adanya lembaga tunggal yang menyatukan pelaku usaha dan menetapkan standar industri yang seragam. IBMA hadir untuk mengisi celah tersebut, menjadi mitra strategis regulator, dan menjembatani seluruh pemangku kepentingan dari hulu ke hilir, termasuk sektor pertambangan, jasa keuangan, pemurnian, manufaktur, dan jasa pendukung bisnis lainnya, sejalan dengan tujuan Asta Cita pemerintah.

Sejumlah perusahaan telah bergabung dalam IBMA, antara lain PT Pegadaian (Persero), Bank Syariah Indonesia (BSI), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN), Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, ICDX Group, PT Central Mega Kencana (CMK) yang menaungi merek perhiasan Mondial, Frank & co., dan The Palace Jeweler, PT Sentral Kreasi Kencana (SKK Jewels), serta PT Laku Emas Indonesia.

Pemerintah menempatkan pengembangan pasar bullion sebagai pilar kunci transformasi ekonomi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029. Berdasarkan data World Gold Council, produksi emas Indonesia pada 2025 mencapai 104 ton, menempatkan Indonesia di peringkat ke-10 dunia. Potensi hulu yang melimpah ini didukung tren global, di mana permintaan investasi emas melalui ETF serta pembelian emas batangan dan koin melonjak ke level tertinggi dalam 12 tahun terakhir.

Melalui integrasi IBMA, proses hilirisasi komoditas emas diharapkan berjalan lebih cepat. Instrumen keuangan berbasis emas seperti tabungan, pembiayaan, perdagangan, dan penitipan emas akan semakin beragam, serta tercipta pasar yang lebih dalam dengan likuiditas lebih tinggi.

Menuju Pusat Bullion Regional

Ketua Umum IBMA Selfie Dewiyanti menyatakan, kehadiran IBMA diproyeksikan menjadi katalis utama perubahan lanskap industri emas Indonesia. Organisasi ini diharapkan mampu membawa Indonesia bertransformasi dari sekadar negara produsen komoditas emas menjadi pusat perdagangan (bullion hub) terkemuka di kawasan regional, sekaligus memberikan kontribusi signifikan bagi perluasan investasi, pendalaman pasar keuangan, dan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Kehadiran IBMA diharapkan menjadi platform utama bagi seluruh pelaku industri untuk membangun pasar bullion Indonesia yang kredibel, kompetitif, dan berstandar internasional. Dengan ekosistem yang semakin kuat, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara penghasil emas, tetapi juga berkembang sebagai pusat perdagangan dan jasa bullion di kawasan yang mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap investasi, pendalaman pasar keuangan, dan pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Selfie.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan organisasi, PT Pegadaian (Persero) telah menyiapkan kantor sekretariat dan ruang rapat IBMA di lantai dua kawasan perkantoran Pegadaian Tower. Fasilitas tersebut siap digunakan sebagai pusat koordinasi dan aktivitas organisasi.

"Kami meyakini bahwa penempatan sekretariat IBMA di lingkungan Pegadaian Tower merupakan pilihan yang tepat. Kawasan Pegadaian telah berkembang menjadi salah satu pusat ekosistem emas nasional. Di sini telah tersedia berbagai fasilitas yang saling terintegrasi, mulai dari layanan Bullion Pegadaian, penyimpanan vault berstandar internasional, ATM Emas, Galeri 24, G-Lab, pusat lelang emas, hingga berbagai kegiatan bazar emas yang rutin diselenggarakan. Masyarakat pun telah mengenal kawasan ini sebagai destinasi untuk berinvestasi emas, memperoleh pembiayaan berbasis emas, maupun menikmati berbagai layanan lainnya yang mendukung perkembangan industri bullion Indonesia," tambah Selfie.

Melalui penguatan ekosistem bullion yang terintegrasi dan berdaya saing global, seluruh anggota IBMA berkomitmen mengoptimalkan potensi emas nasional untuk mendukung stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pengembangan produk bullion, penguatan sinergi dengan sektor keuangan syariah, kemudahan berusaha, serta peningkatan literasi masyarakat akan terus didorong guna memperluas basis investor sekaligus meningkatkan pemanfaatan emas dalam sistem keuangan nasional.

Pembentukan IBMA menandai keseriusan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengidentifikasi peluang, menjawab tantangan, dan memperkuat arah kebijakan dalam membangun rantai nilai emas nasional dari hulu ke hilir. Melalui kolaborasi ini, Indonesia diharapkan mampu mengembangkan inovasi produk keuangan dan perdagangan berbasis emas yang inklusif, transparan, dan berkelanjutan, sehingga potensi emas nasional tidak hanya menjadi aset komoditas, tetapi juga menjadi penggerak hilirisasi, penguatan sistem keuangan, dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags