Nutri Level: Panduan Baru Memilih Pangan Sehat

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:36 WIB
Nutri Level: Panduan Baru Memilih Pangan Sehat

Sebuah anekdot menggambarkan perbedaan cara pandang konsumen di negara maju dan Indonesia saat membeli produk pangan kemasan. Orang Amerika cenderung memperhatikan kandungan kalori, sementara masyarakat Indonesia lebih fokus pada harga. Fenomena ini mencerminkan kesadaran gizi yang masih rendah di tengah meningkatnya prevalensi obesitas dan penyakit tidak menular.

Padahal, informasi komposisi gizi pada label pangan merupakan hak konsumen yang dijamin undang-undang. Pencantuman komposisi gizi bukan hanya kewajiban produsen, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan promosi. Namun, memahami informasi tersebut seringkali tidak mudah bagi konsumen awam.

Untuk menjembatani kesenjangan itu, Indonesia kini memiliki Nutri Level, sistem pelabelan yang membagi produk pangan menjadi empat kategori: Level A (hijau tua), Level B (hijau muda), Level C (kuning), dan Level D (merah). Level A menandakan produk dengan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) rendah, sedangkan Level D menunjukkan kandungan GGL yang melebihi batas aman rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan menekan angka penyakit tidak menular seperti obesitas dan diabetes. Pelabelan dinilai lebih efektif mengubah perilaku konsumen dibandingkan kebijakan cukai minuman berpemanis. Singapura yang menerapkan sistem serupa, Nutri-Grade, telah menunjukkan hasil positif dengan meningkatnya kesadaran konsumen memilih minuman lebih sehat.

Lemak memang membuat makanan lebih lezat, tetapi tidak semua lemak aman. Asam lemak trans, yang banyak ditemukan pada margarin nonsawit hasil hidrogenasi parsial, menjadi faktor risiko penyakit jantung koroner yang lebih berbahaya daripada lemak jenuh dan kolesterol. Kadar kolesterol total di atas 200 mg/dL atau rasio LDL/HDL melebihi 4 juga meningkatkan risiko serangan jantung.

Garam dan gula juga perlu dibatasi. Konsumsi garam berlebih dapat menyebabkan hipertensi, sementara gula berlebih memicu berbagai masalah metabolik. Padahal, kebutuhan natrium tubuh bisa dipenuhi dari bahan alami seperti wortel, sayuran hijau, telur, dan susu, tanpa harus menambahkan garam dapur. Batas aman konsumsi garam adalah 5 gram per hari, dan gula 50 gram per hari.

Edukasi menjadi kunci keberhasilan Nutri Level. Institusi pendidikan dan media massa diharapkan gencar mengampanyekan pola makan sehat. Dengan adanya logo Nutri Level pada kemasan, masyarakat diharapkan lebih mudah memilih produk rendah GGL dan menjadikan konsumsi sehat sebagai kebiasaan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.