Pramuka dan PBB di Jambore Nasional: Lima Tahun untuk Wujudkan Mimpi 2030

- Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:25 WIB
Pramuka dan PBB di Jambore Nasional: Lima Tahun untuk Wujudkan Mimpi 2030

Bumi Perkemahan Cibubur bergemuruh oleh derap langkah ribuan kaki mungil yang berlarian di antara simpul tali dan tenda terpal. Pada 19 Agustus 2026, Jambore Nasional XII menjadi saksi perjumpaan yang tak biasa. Di tengah hiruk-pikuk api unggun dan yel-yel khas penggalang, angin perubahan bertiup dari sudut Global Development Village.

Sebanyak 20.857 anggota Pramuka berusia 11 hingga 15 tahun dari 38 provinsi dan perwakilan gugus depan luar negeri hadir bukan hanya untuk mendirikan tenda. Mereka datang untuk memikul timbangan raksasa bernama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Pertemuan yang dirancang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia ini berlangsung singkat, tetapi intens: satu jam perjalanan panjang untuk memahami bahwa hanya ada waktu kurang dari lima tahun menuju 2030.

Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Gita Sabharwal, mengingatkan bahwa anak muda bukan sekadar penerima manfaat, melainkan mitra penting yang pilihannya hari ini menentukan bentuk bumi esok hari.

Belajar Lewat Permainan dan Skenario

Bukan ceramah menggurui yang mereka dapat di Global Development Village. PBB bergerak seperti dalang orkestra, memimpin lima pilar utama dengan pendekatan teatrikal. Di pilar Manusia, yang dipandu oleh UNICEF, UNHCR, dan UN Women, anak-anak diajak berdialog dalam permainan berjudul "Boleh atau Tidak Boleh?". Mereka disuguhi skenario kehidupan sehari-hari untuk belajar tentang rasa hormat, batasan diri, dan konsen.

Sementara itu, di pilar Bumi, FAO dan IOM mengajak mereka berhadapan dengan fakta lewat "One Planet, One Mission". Puluhan tangan teracak cepat saat pernyataan tentang iklim dilontarkan. Mereka belajar bahwa bumi bukan warisan, melainkan titipan yang harus dirawat dari kesalahan kecil sehari-hari.

Pilar Perdamaian mengingatkan bahwa ancaman paling dekat sering kali berada di genggaman tangan, lewat layar ponsel. UNODC dan UNFPA mengajak anak-anak memeriksa ulang perilaku aman di dunia maya. Mereka diperkenalkan pada dampak bohong dan ejekan yang menjalar cepat. Ini bukan sekadar pelajaran moral, melainkan pelatihan survival di abad digital yang rentan disinformasi.

Pada pilar Kesejahteraan, ILO dan UNHCR mengocok kartu harapan dalam permainan "Cards for Change". Anak-anak diajak berpikir tentang keadilan, kerja sama tim, dan kesetaraan kesempatan. Mereka memahami bahwa masa depan tidak hanya tentang menjadi pintar, tetapi juga tentang menjadi adil.

Film yang Menggugah Keberanian

Selesai menjelajahi lima pilar, mereka diajak ke program pamungkas yang paling sunyi tetapi menggema di hati: pemutaran film spesial berjudul Bubble Trouble. Karya O.M.G Film ini lahir dari inisiasi UN Women dan UNFPA dalam program UNiTE Short Film Fellowship 2025.

Film ini bukan tontonan biasa untuk anak seusia mereka. Bubble Trouble mengisahkan pergumulan tiga anak perempuan dalam suasana kumpul keluarga di hari Lebaran. Di balik senyum dan hidangan khas, ada trauma yang membekap. Mayang, tokoh utamanya, adalah korban pelecehan dari pamannya sendiri. Hingga akhirnya mereka mengambil sikap: menolak sungkem. Suatu bentuk perlawanan halus tetapi penting dalam budaya yang sering mengagungkan senioritas tanpa makna.

Fala Pratika, sutradara muda asal Yogyakarta, mengakui bahwa film ini lahir dari ingatan pahit masa kecilnya sendiri dan sepupunya. Baginya, perlawanan tak selalu harus beringas. Ruang keluarga sering menjadi tempat penyalahgunaan kuasa yang paling tidak terlihat. Film ini menjadi medium berani untuk anak-anak agar tidak mengubur ketakutan. Para peserta Pramuka yang menonton diajak merenungkan momen-momen dalam film, memikirkan tindakan yang seharusnya diambil tokoh, dan diakhiri dengan Pembacaan Komitmen Pramuka tentang Rasa Hormat dan Perlindungan; sebuah ikrar untuk berani angkat bicara jika melihat ada yang salah.

Pramuka dan Swasembada Pangan

Semua permainan di arena itu bukan tanpa tujuan besar. Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Budi Waseso, menegaskan bahwa Pramuka adalah ujung tombak pendidikan karakter. Ia mengaitkan seluruh edukasi interaktif dengan isu strategis bangsa: swasembada pangan.

Ia berujar tegas bahwa swasembada pangan bukan cuma soal tanam-menanam. Ada lautan keterampilan di dalamnya: teknologi, kewirausahaan, cinta pertanian, hingga kemampuan mengolah sumber daya. Data BPS sempat menjadi cermin buram bagi regenerasi petani; terjadi penurunan minat pemuda. Melalui Pramuka, energi itu dibangkitkan kembali. Mereka diajak mencintai tanah, mengolah teknologi tepat guna, dan memiliki kesadaran ekologis sejak dini, demi visi Indonesia Emas 2045.

Saat matahari sore mulai memanjang di Cibubur, para penggalang meninggalkan Global Development Village. Mereka membawa lebih dari sekadar lencana atau pin. Ada tinta kesadaran yang tercetak di relung jiwa. Mereka menyadari bahwa menuju 2030 bukanlah lari cepat, melainkan lari estafet. Dan tongkat estafet itu sedang berada di telapak tangan mereka.

Dunia tidak akan berubah hanya dalam satu Jambore. Namun, ketika 20.857 anak pulang ke kampung halaman masing-masing dengan pengetahuan bahwa tujuan global adalah aksi kita sendiri, maka benih perubahan telah tersebar di seluruh Nusantara. Dari Kalimantan hingga Papua, dari Sumatera hingga Nusa Tenggara, mereka pulang sebagai pembawa pesan: SDGs adalah realitas, dan mereka adalah bagian dari jawabannya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags