Wall Street Melemah, Saham Semikonduktor Terpukul Kekhawatiran Inflasi

- Rabu, 19 Agustus 2026 | 06:18 WIB
Wall Street Melemah, Saham Semikonduktor Terpukul Kekhawatiran Inflasi

Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Selasa (18/8), dengan saham semikonduktor memimpin penurunan di sektor teknologi. Ketidakpastian di Timur Tengah mendorong imbal hasil obligasi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya pinjaman dan inflasi.

Indeks S&P 500 turun 53,30 poin atau 0,69 persen menjadi 7.691,76, sedangkan Nasdaq Composite melemah 355,20 poin atau 1,33 persen menjadi 26.289,71. Keduanya mencatat penurunan persentase harian terbesar sejak 29 Juli. Dow Jones Industrial Average juga turun 116,38 poin atau 0,22 persen menjadi 53.343,40.

Memudarnya harapan akan perdamaian di Timur Tengah mendorong harga minyak naik, yang kemudian memicu kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007. Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun juga menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.

Philadelphia SE Semiconductor Index pun anjlok 5 persen karena investor melepas saham-saham yang sebelumnya menguat berkat tingginya permintaan terkait kecerdasan buatan (AI). Kenaikan biaya pinjaman membuat investor menurunkan valuasi yang bersedia mereka bayarkan untuk potensi pertumbuhan laba perusahaan teknologi.

“Ini hampir seperti efek domino. Perundingan gagal. Hal itu menyebabkan harga minyak naik. Kemudian memicu kenaikan ekspektasi inflasi dan imbal hasil obligasi pun naik,” kata manajer portofolio di NFJ Investment Group, Burns McKinney.

“Setiap kali imbal hasil obligasi naik, hal itu cenderung memberikan tekanan yang tidak proporsional terhadap saham-saham teknologi,” lanjutnya.

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, sektor teknologi informasi menjadi pemberi tekanan terbesar terhadap indeks dan sekaligus mencatatkan penurunan persentase terbesar, yakni 1,9 persen.

Tekanan terbesar terhadap S&P 500 dari saham-saham individual berasal dari perusahaan chip, termasuk produsen chip AI terkemuka Nvidia yang turun 2,3 persen, serta produsen chip memori Micron Technology yang merosot 7 persen setelah sebelumnya melonjak hampir 18 persen dalam lima sesi perdagangan terakhir.

Saham-saham lain yang terkena tekanan cukup besar antara lain perusahaan penyimpanan data Sandisk dan Western Digital, yang masing-masing turun 9 persen dan 7,4 persen. Roundhill Memory ETF anjlok 8,8 persen setelah sebelumnya mencatat kenaikan selama lima sesi berturut-turut.

“Tidak banyak hal yang bisa mematahkan reli saham berbasis momentum selain kenaikan suku bunga, dan kita mendapatkan buktinya hari ini,” kata Chief Investment Officer di SignatureFD, Tony Welch.

Ia menambahkan kenaikan imbal hasil menunjukkan kebijakan Federal Reserve terlalu longgar jika dibandingkan dengan prospek pertumbuhan dan inflasi.

Ketika meninggalkan sektor-sektor dengan pertumbuhan tinggi, investor beralih ke sektor yang lebih defensif, seperti sektor kesehatan yang naik 1,6 persen dan barang kebutuhan pokok konsumen yang menguat 1,1 persen. Indeks yang menjadi indikator ketakutan di Wall Street ditutup naik 0,65 poin menjadi 15,84, sekaligus mencatatkan level penutupan tertinggi sejak 4 Agustus.

Didukung oleh kenaikan harga minyak, sektor energi S&P 500 menjadi sektor dengan kinerja terbaik pada hari itu, naik 1,8 persen. Menjelang sore, kontrak berjangka minyak mentah AS telah memangkas sebagian besar kenaikannya, tetapi tetap ditutup naik 0,5 persen, setelah Iran mengancam untuk beralih ke posisi militer yang “sepenuhnya ofensif” dan Washington menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata.

Saham peritel perlengkapan rumah tangga Home Depot turun tipis 0,1 persen, meskipun perusahaan tersebut membukukan penjualan kuartal II di atas perkiraan.

Investor menantikan laporan kinerja yang akan dirilis oleh sejumlah peritel lainnya pada akhir pekan ini, termasuk Walmart yang menjadi salah satu indikator utama sektor tersebut. Risalah rapat The Fed pada Juli yang akan dirilis pada Rabu (19/8) juga dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai bagaimana bank sentral menilai kondisi ekonomi saat ini.

Investor menilai laporan keuangan kuartalan Nvidia yang akan datang sebagai ujian besar berikutnya bagi momentum pasar yang didorong oleh AI.

Jumlah saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 1,94 banding 1 di NYSE. Di bursa tersebut, terdapat 169 saham yang mencatatkan level tertinggi baru dan 252 saham yang mencapai level terendah baru. Di Nasdaq, sebanyak 1.778 saham menguat dan 2.977 saham melemah, sehingga saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 1,67 banding 1.

S&P 500 mencatatkan 10 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan empat saham yang mencapai level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatatkan 75 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 121 saham yang mencapai level terendah baru.

Di bursa AS, sebanyak 14,86 miliar saham diperdagangkan, dibandingkan dengan rata-rata pergerakan 16,88 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.