Mobil listrik di harga Rp300 jutaan kerap menghadirkan dilema: tenaga besar berarti baterai besar, dan baterai besar berarti harga ikut membumbung. Jika harganya murah, biasanya ada kompromi di sana-sini. BAIC T1 mencoba menempuh jalan berbeda. Tenaganya bukan yang terbesar, baterainya juga bukan yang terbesar, tetapi justru kenyamanan yang paling terasa saat dibawa melaju dari Alam Sutera ke Bandung.
Perjalanan dimulai dari diler BAIC di Alam Sutera dengan kondisi baterai 95 persen. Rute yang diambil menuju Gerbang Tol Parigi, masuk tol, melintasi Jakarta dan sekitarnya, lalu beristirahat di rest area Cipularang KM 88. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke restoran Gayem Ning Pawon di Padalarang, dan berakhir di Hotel GH Universal Bandung. Total jarak yang ditempuh hampir 200 kilometer, dengan mode berkendara yang bergantian antara Comfort dan Sport.
Sesampainya di GH Universal, baterai tersisa 16 persen, dan MID masih menunjukkan estimasi jarak 55 kilometer. Artinya, T1 benar-benar dipakai untuk perjalanan jauh, bukan sekadar keliling kompleks perumahan. Di sinilah karakter mobil ini mulai terlihat.
BAIC menyematkan tagline "Surprisingly" untuk T1, dan kata itu ternyata tepat untuk menggambarkan suspensinya. Jalan layang MBZ yang bergelombang, dengan sambungan dan permukaan yang tidak rata, bukan tempat ideal untuk menguji kenyamanan. Namun, T1 melewatinya dengan cukup santai. Bantingan suspensinya empuk, tidak terasa seperti mobil kecil yang dipaksa menjadi SUV. Kursi depan dan belakang juga empuk, memberikan kenyamanan yang penting mengingat mobil ini kemungkinan besar akan digunakan sebagai kendaraan harian keluarga.
Meski tenaganya hanya 70 kW (sekitar 95 PS) dengan torsi 176 Nm, karakter motor listrik membuat angka itu tidak terasa loyo. Respons pedal gasnya menyenangkan, baik untuk menyalip, menanjak, maupun cruising di kecepatan 100 km/jam. Dalam mode Sport, responsnya lebih sigap, sementara Comfort lebih cocok untuk perjalanan jauh. T1 ternyata fun to drive, bukan karena kencang, melainkan karena mudah dikendalikan.
Efisiensi dan Jarak Tempuh
T1 memang bukan raja tenaga. Sebagai perbandingan, BYD Dolphin memiliki tenaga sekitar 201 dk dan torsi 310 Nm, sementara Wuling Cloud EV Pro sekitar 214,5 dk dan 320 Nm. T1 hanya 94-95 dk dan 176 Nm. Baterainya juga hanya 42,3 kWh dengan teknologi LFP, dan jarak tempuh yang diklaim mencapai 425 km berdasarkan standar CLTC, atau 310 km berdasarkan WLTC.
Namun, konsumsi energi rata-ratanya diklaim sekitar 11,2 kWh/100 km. Angka ini menarik karena baterainya kecil, tetapi efisiensinya cukup baik untuk penggunaan harian. Perjalanan ke Bandung memberikan gambaran nyata: dari 95 persen menjadi 16 persen setelah hampir 200 km dengan kombinasi Comfort dan Sport, dan masih ada estimasi 55 km. Tentu angka ini tergantung pada kecepatan, lalu lintas, temperatur, kontur jalan, dan gaya mengemudi. Tetapi setidaknya, T1 bukan mobil yang membuat pengemudi terus-menerus melihat indikator baterai.
Ruang dan Fitur
Yang dijual T1 bukan tenaga, dan BAIC tampaknya tahu diri. Senjata utama T1 adalah ruang dan fitur. Wheelbase-nya 2.770 mm, paling panjang di kelasnya, memberikan ruang kabin belakang yang lega. Dimensi bodinya 4.337 x 1.850 x 1.573 mm, dengan ground clearance 181 mm. Angka ini menarik untuk Indonesia, karena lebih tinggi dari Dolphin yang hanya sekitar 130 mm dan Cloud EV Pro yang sekitar 170 mm. Selisih 51 mm dengan Dolphin bukan angka kecil, membuat T1 lebih siap menghadapi jalan berlubang, polisi tidur, dan permukaan tidak rata.
Velgnya berukuran 18 inci, juga terbesar di antara pembandingnya. Di dalam kabin, kesan mobil murah tidak terlalu terasa. Desainnya bersih, dashboard modern, material soft touch dipadukan dengan jok kulit. Kursi pengemudi memiliki pengaturan memory 6-way, kursi penumpang 4-way, dan keduanya dilengkapi ventilated seat. Fitur ini sangat berguna di iklim Indonesia yang panas. Ada pula panoramic sky curtain sepanjang 2,34 meter tanpa border, yang disebut sebagai yang terbesar di kelasnya, dengan sudut pandang depan 180 derajat dan electric sunshade.
Layar instrumennya berukuran 8,8 inci, dan layar utama 15,6 inci. Ada enam speaker, Apple CarPlay dan Android Auto, port fast charging depan 66W, USB A-Port di depan, USB C-Port 27W di belakang, spion elektrik, dan banyak kompartemen penyimpanan. Shifter berada di sebelah kanan setir. Ada empat driving mode, rem cakram di kedua roda, suspensi MacPherson di depan dan torsion beam di belakang, serta empat airbag.
Fitur yang paling menarik justru di bidang keselamatan. T1 sudah membawa ADAS Level 2 dengan total 10 fitur, kamera 540 derajat, dan Automatic Parking Assist (APA). Untuk mobil di kisaran Rp300 jutaan, ini cukup menarik. Fitur parkir otomatis mungkin tidak wajib, tetapi akan terasa berguna saat parkir di tempat sempit atau keluar dari parkiran yang penuh. Ada juga Hill Hold Control, Hill Descent Control, Brake Energy Regeneration, Auto Hold, dan EPB. Yang lebih menarik lagi, T1 memiliki V2V dan V2L, sehingga energi dari baterai bisa digunakan untuk kendaraan lain atau perangkat listrik lain, menjadikan mobil ini sumber listrik berjalan.
Harga dan Perbandingan
BAIC Indonesia memasang harga khusus Rp373 juta untuk 1.000 pembeli pertama, dengan harga normal Rp393 juta. Ini membuat pertarungan T1 menarik. Dolphin berada di kisaran Rp369 juta-Rp429 juta, sementara Cloud EV Pro di kisaran Rp415 juta-Rp443 juta. Namun, jangan membeli T1 hanya karena harga. Jika ukurannya tenaga dan kapasitas baterai, T1 memang kalah. Dolphin dan Cloud EV Pro lebih unggul di atas kertas.
Dolphin punya tenaga sekitar 201 dk dan torsi 310 Nm, Cloud EV Pro sekitar 214,5 dk dan 320 Nm, dengan baterai sekitar 60 kWh. Jarak tempuh T1 425 km CLTC, sementara Dolphin diklaim 490 km dan Cloud EV Pro 495 km, meski dengan standar pengukuran yang berbeda. T1 juga tidak memiliki beberapa fitur yang ditawarkan kompetitor, seperti wireless charger, Wi-Fi connectivity, NFC key card, dan audio Dirac 6-speaker pada Dolphin. Cloud EV Pro menawarkan reclining bangku belakang hingga 135 derajat. ADAS T1 juga 10 fitur, sementara Cloud EV Pro 13.
Jadi, jelas bahwa T1 bukan mobil yang menang di semua kategori. Tetapi setelah hampir 200 km, ada satu kesimpulan: T1 bukan dibuat untuk menjadi mobil listrik paling kencang, juga bukan untuk menjadi mobil dengan baterai paling besar. BAIC memilih ruang kabin, ground clearance, kenyamanan, efisiensi, dan kelengkapan fitur. Dan setelah dibawa dari Alam Sutera sampai Bandung, pilihan itu terbukti menarik.
Artikel Terkait
Pemuda Pembawa Golok yang Anarkis di Jalan Banjaran-Pangalengan Ditangkap Polisi
ACT MOVE dan Estetika Interupsi: Saat Street Art Masuk Galeri
Danpusterad Ingatkan Generasi Muda Bijak Bermedia Sosial Jelang HUT ke-81 RI
Wali Kota Bandung Dorong Pengelolaan Wakaf Produktif di Masjid