Selama lebih dari satu dekade, kolektif ACT MOVE membangun praktik artistik yang lahir dari kultur jalanan. Mereka tumbuh melalui teknik kolase, whitepaste, dan apropriasi visual, lalu berkembang menjadi bahasa artistik yang mudah dikenali. Namun, pameran terbaru mereka, ACT MOVE in Collaboration, menunjukkan fase berbeda: alih-alih mengintervensi ruang kota, mereka kini berinteraksi dengan sesama seniman.
Pameran yang berlangsung di Orbital Dago, Bandung, dari 29 Juli hingga 23 Agustus 2026 ini mempertemukan ACT MOVE dengan tujuh seniman dari berbagai disiplin, mulai dari lukisan, patung, instalasi, hingga musik elektronik. Kurator Rifky "Goro" Effendy membaca kolaborasi ini bukan sekadar strategi produksi, melainkan proses dialog yang memungkinkan setiap seniman membawa latar pengalaman dan sensibilitasnya masing-masing.
Namun, di balik semangat kolaborasi tersebut, terselip kegelisahan yang patut diajukan. Ada kesan bahwa keterbukaan ACT MOVE terhadap gagasan dan bahasa visual para seniman lain justru berpotensi membuat identitas artistiknya mengalami dilusi. Apa yang selama ini menjadi kekuatan mereka sikap intervensif, keberanian mengapropriasi citra dan benda keseharian, serta energi kritik yang berakar pada kultur jalanan seolah harus berbagi ruang dengan gagasan kreatif yang dibawa oleh seniman lain.
Strategi Interupsi
Praktik ACT MOVE sebenarnya konsisten: mereka mengambil sesuatu yang telah memiliki fungsi dan makna tertentu traffic cone, shopping trolley, patung plastik, graffiti, logo korporasi, alat ukur, hingga musik kemudian memindahkannya ke dalam hubungan baru sehingga maknanya bergeser. Yang berubah bukan bendanya, melainkan cara kita membacanya. Dalam kolaborasi dengan Aryo Saloko, lanskap kota dalam Beyond dipertemukan dengan penggaris, busur, dan segitiga ukur, menghadirkan kota sebagai ruang yang dirancang, diukur, sekaligus dikendalikan. Bersama Evie Satijadi, traffic cone dalam Babel bergeser dari benda pengatur lalu lintas menjadi semacam monumen tentang manusia dan ruang publik.
Sementara bersama Toni Antonius, citra anjing, api, mahkota duri, serta shopping trolley dalam Party Club Anjing mempertemukan kekerasan, simbol kesakralan, dan budaya konsumsi. Pada karya bersama Iwonk, material plastik bekas dibentuk menjadi figur manusia dalam Paradoksal, mempertemukan persoalan limbah, tubuh, konsumsi, dan kerentanan manusia urban. Kolaborasi dengan Dadan Januar membenturkan bahasa korporasi dan slogan Free for Fight Corporate dalam FFF.co dengan persoalan kekuasaan, kebebasan, dan struktur sosial. Bersama Agung Jenong, grafiti Bekerja Untuk Kita yang semula hadir di ruang kota dalam konteks May Day 2023 dipindahkan ke kaos, sehingga pesan tentang kerja dan buruh menjadi sesuatu yang dapat bergerak bersama tubuh pemakainya. Kolaborasi dengan Iyay AIMER memperluas praktik tersebut ke ranah performans melalui DJ set, sementara Flowercans menghadirkan zine sebagai bentuk distribusi dan sirkulasi karya di luar batas objek galeri.
Paradoks Kolaborasi
Jika dibaca secara keseluruhan, berbagai kolaborasi tersebut memperlihatkan pola yang relatif konsisten: sesuatu yang telah memiliki fungsi dan makna sosial dipindahkan ke dalam konteks baru, kemudian mengalami pergeseran makna. Alat ukur menjadi simbol kontrol kota; traffic cone berubah menjadi monumen; limbah menjelma tubuh; slogan korporasi menjadi bahasa perlawanan; graffiti berubah menjadi pesan yang bergerak; sementara zine dan musik memperluas karya dari objek menuju pengalaman dan distribusi. Di sinilah kekuatan kolaborasi ACT MOVE sekaligus membuka persoalan kritis: semakin banyak bahasa artistik dari luar yang masuk, semakin penting pertanyaan mengenai sejauh mana intervensi para kolaborator memperkaya bahasa ACT MOVE, dan sejauh mana ia justru menggeser atau mencairkan identitas artistik yang selama ini menjadi kekuatan mereka.
Bahkan muncul pertanyaan yang lebih mengusik: apakah ACT MOVE sedang memperluas wilayah artistiknya, atau secara perlahan justru sedang terkooptasi oleh estetika dan gagasan para kolaboratornya? Kekhawatiran ini tentu bukan vonis terhadap proyek kolaboratif tersebut, melainkan sebuah pertanyaan tentang batas keterbukaan sebab bagi sebuah praktik artistik yang telah memiliki karakter kuat, membuka diri kepada yang lain selalu berarti mengambil risiko kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.
Artikel Terkait
BAIC T1: Bukan yang Terkuat, Tapi Nyaman Diajak ke Bandung
Pemuda Pembawa Golok yang Anarkis di Jalan Banjaran-Pangalengan Ditangkap Polisi
Danpusterad Ingatkan Generasi Muda Bijak Bermedia Sosial Jelang HUT ke-81 RI
Wali Kota Bandung Dorong Pengelolaan Wakaf Produktif di Masjid