Penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berlanjut. Hingga Selasa (18/8/2026) sore, jumlah korban meninggal mencapai 70 orang setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah dekat Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada Sabtu (15/8/2026). Sementara itu, data korban luka menunjukkan perbedaan mencolok antara catatan Basarnas dan Kementerian Kesehatan.
Dalam konferensi pers pada Selasa (18/6), Basarnas dan BNPB memaparkan perkembangan operasi pencarian serta penanganan korban. Direktur Operasi Basarnas, Laksma TNI Yudhi Bramantyo, menyampaikan bahwa total korban yang terdata hingga hari ketiga pukul 23.30 WIB mencapai 202 orang, dengan rincian 70 orang meninggal dunia dan 132 orang luka-luka.
"Sampai dengan hari ketiga kemarin, pukul 23.30 WIB, telah kami kompulir, total korban adalah 202 orang, meninggal dunia 70 orang dan luka-luka 132 orang," kata Yudhi. Ia merinci 132 korban luka tersebut terdiri dari 40 orang luka berat dan 92 orang luka ringan.
Basarnas menyatakan operasi yang berjalan kini lebih difokuskan pada penyisiran lokasi terdampak karena belum ada lagi laporan warga yang masih hilang.
Data Luka dan Gempa Susulan
Di sisi lain, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut jumlah korban luka berdasarkan data Kementerian Kesehatan jauh lebih besar, mencapai 1.182 orang. Angka ini dihitung dari warga yang mendapatkan layanan di fasilitas kesehatan.
"Jumlah korban luka-luka berdasarkan data Kementerian Kesehatan adalah 1.182 orang. Namun, perbedaan data tak perlu dipermasalahkan karena memang dasar perhitungannya yang berbeda," kata Berton. Menurut dia, selisih angka itu muncul karena Basarnas mencatat korban luka berdasarkan temuan di lapangan, sedangkan Kementerian Kesehatan menghitung warga yang dirawat atau dilayani fasilitas kesehatan.
BNPB juga melaporkan gempa susulan masih terus terjadi hingga Selasa, pukul 16.00 WIB. "Per hari ini, 18 Agustus 2026, pukul 16.00 WIB, kondisi gempa terkini, jumlah gempa susulan sebanyak 2.119 kali. Magnitudo terbesar adalah 6,2 dan terkecil 1,3. (Magnitudo) Di atas 5 ada 24 kali, sedangkan gempa susulan yang dirasakan sebanyak 70 kali," ujar Berton.
BNPB memperkirakan aktivitas gempa masih fluktuatif dan pola peluruhannya belum terlihat jelas sehingga kondisi itu diproyeksikan baru berangsur stabil dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Tim di lapangan kini juga membantu penguatan layanan kesehatan, terutama di wilayah yang terdampak besar dan sulit dijangkau seperti Kecamatan Lamba Leda di Kabupaten Manggarai Timur.
Gempa utama yang memicu bencana ini sempat menimbulkan tsunami di 10 titik dari Nusa Tenggara Timur hingga Sulawesi Selatan, sementara pusat gempa berada di laut sekitar 38 kilometer timur laut Mbay pada kedalaman 15 kilometer.