Gaji Bukan Lagi Segalanya: Mengapa Karyawan Muda Memilih Bertahan atau Pergi

- Minggu, 16 Agustus 2026 | 04:06 WIB
Gaji Bukan Lagi Segalanya: Mengapa Karyawan Muda Memilih Bertahan atau Pergi

Anggapan lama bahwa gaji adalah alasan utama seseorang bertahan di perusahaan mulai bergeser. Bagi banyak pekerja muda, khususnya Gen Z, pertanyaan tentang pekerjaan tidak lagi sekadar "berapa gajinya?", melainkan juga "apakah saya bisa berkembang di sini?", "apakah pekerjaan ini membuat hidup saya lebih baik?", "apakah lingkungan kerjanya sehat?", dan "ke mana karier saya akan berkembang?".

Perlu diluruskan, Gen Z tetap membutuhkan gaji yang layak. Persoalannya bukan "gaji tidak penting", melainkan gaji saja tidak selalu cukup untuk membuat seseorang bertahan.

Work-Life Balance Mulai Jadi Pertimbangan

Pekerjaan adalah bagian dari kehidupan, bukan seluruh kehidupan. Gen Z cenderung melihat apakah pekerjaan memberikan ruang untuk keluarga, kesehatan, kehidupan sosial, maupun pengembangan diri. Work-life balance bukan berarti ingin bekerja lebih sedikit, melainkan bekerja secara produktif tanpa kehilangan kualitas hidup. Jika seseorang mendapatkan gaji tinggi tetapi setiap hari mengalami tekanan, tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri, dan terus-menerus merasa burnout, maka muncul pertanyaan sederhana: "apakah gaji tersebut sepadan dengan kehidupan yang saya korbankan?".

Career Growth: Bukan Hanya Naik Gaji

Karyawan juga ingin tahu masa depan mereka. Mereka ingin mengetahui skill apa yang bisa dipelajari, apakah ada kesempatan promosi, apakah perusahaan menyediakan pelatihan, apakah atasan memberikan feedback, dan apakah ada jalur karier yang jelas. Temuan PwC menunjukkan bahwa perusahaan perlu menciptakan skill pathways dan mobilitas karier yang lebih jelas agar pekerja dapat terus berkembang. Di Indonesia, 64% pekerja non-manajer mengatakan mereka memiliki akses terhadap sumber daya pembelajaran, tetapi akses tersebut masih lebih tinggi pada level manajerial. Karena itu, perusahaan yang hanya berkata "kerja dulu, nanti juga berkembang" mungkin tidak lagi cukup. Karyawan ingin melihat bagaimana mereka bisa berkembang.

Lingkungan Kerja Menentukan Bertahan

Gaji bisa membuat seseorang menerima pekerjaan, tetapi lingkungan kerja sering kali menentukan apakah seseorang bertahan. Atasan yang tidak komunikatif, budaya saling menyalahkan, micromanagement, kurangnya apresiasi, atau komunikasi yang buruk dapat membuat pekerjaan dengan gaji tinggi terasa tidak menarik. Sebaliknya, lingkungan yang memberikan kepercayaan, ruang berpendapat, dan kesempatan belajar dapat meningkatkan keterikatan karyawan. Dalam survei PwC 2025, motivasi pekerja berkaitan erat dengan kepercayaan, pengembangan skill, makna pekerjaan, keselarasan dengan tujuan organisasi, dan psychological safety.

Makna Pekerjaan Semakin Dipertanyakan

Gen Z tidak selalu mencari pekerjaan yang "sempurna", namun mereka ingin memahami: "untuk apa saya melakukan pekerjaan ini?". Ketika seseorang memahami kontribusinya terhadap perusahaan, pelanggan, atau masyarakat, pekerjaan dapat terasa lebih bermakna. Ini berkaitan dengan konsep Job Characteristics Model dari Hackman dan Oldham. Teori ini menjelaskan bahwa motivasi kerja dapat tumbuh ketika seseorang merasakan adanya skill variety, task identity, task significance, autonomy, dan feedback. Sederhananya, orang akan lebih termotivasi ketika mereka merasa pekerjaannya berarti, memiliki ruang untuk berkontribusi, dan mendapatkan umpan balik atas pekerjaannya.

Studi Kasus Singkat

Bayangkan dua perusahaan menawarkan posisi yang sama. Perusahaan A menawarkan gaji Rp8 juta, tetapi lembur tidak jelas, atasan sering melakukan micromanagement, dan tidak ada jalur pengembangan karier. Perusahaan B menawarkan gaji Rp7 juta, tetapi memiliki jam kerja lebih teratur, atasan terbuka terhadap diskusi, tersedia pelatihan, serta memiliki jalur karier yang jelas. Bagi sebagian pekerja, Perusahaan A mungkin terlihat lebih menarik di awal. Namun setelah satu atau dua tahun, Perusahaan B bisa menjadi pilihan yang lebih kuat karena memberikan pertumbuhan, keseimbangan, dan lingkungan kerja yang sehat. Inilah perubahan cara melihat pekerjaan.

Yang Harus Dilakukan Perusahaan

Perusahaan tidak harus memberikan gaji paling tinggi di pasar, tetapi perlu memberikan total employee experience yang baik, mulai dari gaji yang adil, lingkungan yang sehat, career growth, komunikasi yang terbuka, work-life balance, hingga pekerjaan yang bermakna. Deloitte dalam 2026 Gen Z and Millennial Survey juga menunjukkan bahwa tekanan finansial menjadi isu penting bagi generasi muda; lebih dari separuh Gen Z dan milenial yang disurvei mengatakan kondisi finansial membuat mereka menunda keputusan besar dalam hidup. Karena itu, perusahaan juga perlu memahami bahwa kebutuhan karyawan tidak bisa disederhanakan menjadi "Gen Z tidak loyal". Bisa jadi mereka bukan tidak loyal, mereka hanya lebih berani bertanya: "apakah perusahaan ini juga memberikan alasan bagi saya untuk bertahan?".

Pada akhirnya, retensi karyawan bukan hanya tentang berapa besar perusahaan membayar seseorang, tetapi tentang seberapa besar perusahaan memberikan alasan untuk tetap tinggal. Gaji membuat seseorang datang, tetapi budaya, pertumbuhan, keseimbangan, dan makna pekerjaanlah yang dapat membuat seseorang memilih untuk bertahan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.