Indonesia Ekspor 200.000 Ton Beras ke Malaysia, Pengiriman Perdana 1.000 Ton

- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 12:37 WIB
Indonesia Ekspor 200.000 Ton Beras ke Malaysia, Pengiriman Perdana 1.000 Ton

Indonesia akan mengekspor beras ke Malaysia dengan potensi pengiriman mencapai 200.000 ton, senilai Rp 3,39 triliun atau Rp 17.000 per kilogram. Beras yang diekspor adalah jenis premium dengan tingkat pecahan 5 persen. Pengiriman dilakukan secara bertahap, dengan pengiriman perdana sebanyak 1.000 ton.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, ekspor ini merupakan langkah Indonesia memperluas pasar setelah berhasil mencapai swasembada beras. "Mudah-mudahan kita bisa kirim secepatnya, tetapi 1.000 ton ini kita minta mudah-mudahan bisa dikapalkan dalam minggu ini karena berasnya ada. Nilainya Rp 3,39 triliun kalau 200.000 ton," ujarnya dalam konferensi pers penandatanganan nota kesepahaman di Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (14/8).

Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan MoU antara Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dan General Manager Padi dan Beras Borneo Sdn Bhd, Jumaat bin Ibrahim. Acara tersebut turut disaksikan oleh Mentan Amran.

Amran menjelaskan, kebutuhan beras untuk Sarawak mencapai sekitar 200 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan Malaysia secara keseluruhan berkisar 1,5 juta hingga 1,7 juta ton per tahun. Karena itu, ia berharap Indonesia dapat memasok sebagian besar kebutuhan tersebut. "Tetapi harapan kita kalau bisa kita rebut yang 1 juta. Ini ada pertimbangan El Nino juga, tapi sesuai hitungan di atas kertas insyaallah stok kita aman sampai bulan Mei tahun depan. Dan bulan Februari sudah panen puncak lagi," jelasnya.

Ia memastikan ekspor ini tidak akan mengganggu kebutuhan dalam negeri. Stok beras Indonesia saat ini mencapai 5,2 juta ton, dan produksi hingga Oktober diperkirakan sekitar 30 juta ton. Pemerintah menilai stok tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga Mei 2027.

Alasan Malaysia Pilih Beras Indonesia

Jumaat bin Ibrahim mengatakan, Malaysia sebelumnya mengimpor beras dari Vietnam, Kamboja, dan Thailand. Namun, kini melihat Indonesia sebagai sumber potensial. Perkembangan sektor pertanian Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi pertimbangan utama, terutama produksi padi yang pesat dan surplus stok yang besar.

"Tradisionally, berasnya dari Vietnam, Cambodia, Thailand dan sebagainya. Itu dulu. Sekarang ini, Indonesia sudah berkembang di bawah pemerintahan Pak Prabowo, di mana pertaniannya amat-amat advance, khasnya bagian penanam padi," katanya. Ia juga menilai kualitas beras Indonesia sudah diterima pasar internasional, dan kesamaan selera masyarakat menjadi nilai tambah. "Apalagi Malaysia negara jiran. Lidahnya sama, cara masakannya sama. Jadi berasnya pun dapat diterima oleh orang Malaysia. Kualitas Indonesia sekarang sudah amat tinggi. Justru itu, kenapa tidak diimpor dari Indonesia ke Malaysia?" ujarnya.

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menambahkan, pengiriman perdana 1.000 ton akan segera dilakukan. "Insyaallah ekspor ini sebagai permulaan akan kita ekspor totalnya adalah 1.000 ton dan potensinya untuk di Sarawak sendiri sekitar 200.000 ton," katanya. Dari total tersebut, lima kontainer akan dikirim melalui perbatasan Entikong, sementara sekitar 950 ton lainnya melalui jalur laut dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pelabuhan Kuching. "Untuk nilai sesuai dengan kesepakatan MOU harga berasnya per kilogramnya dihitung Rp 17.000 sehingga kalau 1.000 ton lebih kurang sekitar Rp 17 miliar untuk pendahuluan," jelasnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.