Survei Populix: Uang Tunai Masih Dominan, Tapi Pembayaran Digital Kian Melonjak Selama Ramadan

- Rabu, 29 Juli 2026 | 17:40 WIB
Survei Populix: Uang Tunai Masih Dominan, Tapi Pembayaran Digital Kian Melonjak Selama Ramadan

Penggunaan pembayaran digital terus menguat selama Ramadan 2026, meskipun uang tunai masih menjadi metode transaksi utama masyarakat. Di sisi lain, minat terhadap produk keuangan syariah juga meningkat, didorong oleh kemudahan, transparansi, dan kesesuaian dengan nilai keagamaan.

“Meskipun kesadaran terhadap keuangan syariah sudah mulai terbentuk, masih ada tantangan untuk membantu konsumen memahami bagaimana produk tersebut bekerja, serta manfaat yang relevan bagi kebutuhan mereka sehari-hari,” ujar Indah Tanip, Senior Research Director Populix, di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Survei Populix bertajuk Ramadan Finance Outlook 2026 melibatkan 1.100 responden perempuan Muslim berusia 18–45 tahun di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan pada 26 Februari hingga 3 Maret 2026. Mayoritas responden berasal dari Pulau Jawa (81 persen), berstatus bekerja (64 persen), dan memiliki rata-rata pendapatan rumah tangga Rp4,35 juta per bulan, dengan rata-rata pengeluaran mencapai Rp7,56 juta.

Hasil survei menunjukkan 73 persen responden masih menggunakan uang tunai sebagai metode pembayaran utama selama Ramadan. Namun, adopsi pembayaran digital terus meningkat: 64 persen responden menggunakan QRIS, disusul e-wallet (57 persen), mobile banking (43 persen), bank digital (23 persen), virtual account (22 persen), kartu debit (13 persen), paylater (12 persen), dan kartu kredit (3 persen).

Uang tunai masih menjadi pilihan utama untuk membeli bahan makanan, membayar zakat atau sedekah, serta memberikan hadiah. Sementara itu, QRIS dan dompet digital lebih banyak digunakan untuk transaksi gaya hidup seperti berbuka puasa, membeli produk kecantikan, dan fesyen.

Momen yang paling mendorong penggunaan pembayaran digital selama Ramadan adalah membeli baju Lebaran (49 persen) dan memanfaatkan flash sale atau promo marketplace (49 persen). Selain itu, pembayaran digital juga digunakan untuk membeli kebutuhan sahur dan berbuka (30 persen), membeli hampers Lebaran (29 persen), membayar tagihan sebelum Lebaran (29 persen), membeli tiket mudik (22 persen), zakat atau donasi online (21 persen), hingga membagikan THR (13 persen).

Menariknya, penggunaan pembayaran digital tidak selalu membuat masyarakat lebih konsumtif. Sebanyak 60 persen responden mengaku pembayaran digital justru membantu mengontrol pengeluaran, sedangkan hanya 17 persen yang merasa menjadi lebih boros.

Survei juga mencatat perubahan dalam pengelolaan Tunjangan Hari Raya (THR). Sebanyak 30 persen responden menyimpan THR di bank konvensional, 29 persen di bank digital, 27 persen mengalokasikannya ke e-wallet, 24 persen membagikannya dalam bentuk tunai, 21 persen langsung digunakan untuk berbelanja, dan 18 persen diinvestasikan.

Produk syariah yang paling dikenal masyarakat adalah tabungan syariah (63 persen), diikuti e-wallet atau fintech syariah (38 persen), Pegadaian Syariah (35 persen), reksa dana syariah (29 persen), dan deposito syariah (23 persen). Namun dari sisi penggunaan, tabungan syariah masih yang paling banyak dimanfaatkan dengan tingkat penggunaan 32 persen, disusul e-wallet syariah (26 persen), reksa dana syariah (10 persen), serta Pegadaian Syariah (9 persen).

“Ke depan, prospek pertumbuhan industri dinilai masih terbuka. Survei menunjukkan 51 persen responden berencana menggunakan atau menambah produk keuangan syariah dalam enam bulan mendatang. Dari jumlah tersebut, 64 persen memilih menambah layanan syariah tanpa meninggalkan layanan keuangan yang telah digunakan, sedangkan 24 persen berencana beralih dari bank konvensional dan 6 persen dari fintech konvensional,” jelas Indah.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags