Netanyahu Tiba di Washington di Tengah Ketegangan dengan Trump soal Iran dan Tepi Barat

- Selasa, 28 Juli 2026 | 22:50 WIB
Netanyahu Tiba di Washington di Tengah Ketegangan dengan Trump soal Iran dan Tepi Barat

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tiba di Washington, DC, pada Senin (14/10) untuk bertemu Presiden Donald Trump di Gedung Putih. Kunjungan ini terjadi di tengah meningkatnya penggerebekan Israel di Tepi Barat yang diduduki dan hanya berselang tiga bulan sebelum pemilu Israel pada 27 Oktober.

Pertemuan antara Netanyahu dan Trump diperkirakan akan membahas perang melawan Iran, yang dimulai setelah serangan ke Teheran pada 28 Februari lalu. Ini adalah pertemuan pertama mereka sejak AS dan Israel melancarkan perang tersebut. Selain itu, kedua pemimpin juga akan membahas serangan Israel di Lebanon dan pendudukan di wilayah itu.

Netanyahu datang ke AS terutama untuk menghadiri upacara penghormatan terakhir bagi Senator Lindsey Graham, sekutu dekat Trump yang meninggal pada 11 Juli. Upacara akan digelar pada Selasa pukul 14.00 waktu setempat. Sebelumnya, Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump pada pukul 11.00 waktu setempat.

Perbedaan Pendapat soal Iran

Meski sebelumnya dikenal memiliki hubungan erat, Trump dan Netanyahu kini menunjukkan keretakan, terutama terkait perang melawan Iran. Bulan lalu, Trump dilaporkan menyebut Netanyahu "gila sekali" dalam percakapan telepon, menuduhnya menghambat upaya diplomatik AS untuk mengakhiri perang. Trump menilai Netanyahu terus melanjutkan serangan ke Lebanon dan mengambil langkah yang menggagalkan perundingan damai.

"Saya yang menentukan. Saya yang menentukan semuanya, bukan dia," tegas Trump kepada Financial Times.

Para pengamat politik menilai kedua pemimpin digerakkan oleh kepentingan politik masing-masing. Di AS, perang dengan Iran tidak populer di mata publik, sehingga Trump membutuhkan kesepakatan damai. Sebaliknya, bagi Netanyahu, perang yang berlanjut dianggap menguntungkan secara politik menjelang pemilu.

Salah satu perbedaan mendasar adalah soal gagasan pergantian rezim di Iran. Alex Vatanka dari Middle East Institute mengatakan Netanyahu kemungkinan akan kembali mencoba menjual gagasan itu, tetapi Trump diperkirakan menolaknya. "Saya rasa Presiden Trump tidak menginginkan hal itu. Secara politik, perang ini sangat tidak populer di Amerika Serikat," ujar Vatanka.

Ketegangan di Tepi Barat dan Desakan 600 Mantan Pejabat Israel

Kunjungan Netanyahu juga berlangsung di tengah meningkatnya kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat. Eskalasi terjadi setelah baku tembak mematikan di Kota Tal yang menewaskan dua warga Israel dan empat warga Palestina. Sejak 2022, Netanyahu membentuk pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel, yang mendorong perluasan permukiman ilegal.

Sekitar 600 mantan pejabat Israel mengajukan permohonan kepada Trump melalui surat yang dipublikasikan pada Selasa. Mereka menilai hanya Trump yang dapat mencegah malapetaka akibat meningkatnya kekerasan di Tepi Barat. "Jika tidak segera dihentikan secara cepat dan tegas, meningkatnya kekerasan di Tepi Barat berpotensi membakar seluruh kawasan," tulis kelompok Commanders for Israel's Security (CIS).

CIS beranggotakan lebih dari 550 purnawirawan kolonel dan jenderal militer Israel, serta mantan pejabat dari Mossad, Shin Bet, kepolisian, dan dinas luar negeri.

Isu Lain: Penjualan F-35 ke Turki dan Penarikan Pasukan dari Lebanon

Ketegangan lain muncul terkait rencana AS menjual pesawat tempur F-35 ke Turki. Netanyahu menentang keras penjualan itu karena dianggap mengganggu keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. "Saya tidak berpikir mereka seharusnya diberi F-35 atau mesin untuk pesawat tempur mereka," tegasnya dalam wawancara dengan Fox News.

Sementara itu, Israel tetap bersikeras menolak menarik pasukannya dari Lebanon. Menurut laporan Axios, Trump telah menelepon Netanyahu pada awal Juni dan berkata, "Sekarang semua orang membencimu, semua orang membenci Israel karena hal ini." Seorang pejabat Israel dikutip CNN mengatakan bahwa pemerintahan Trump menginginkan Israel menarik pasukannya dari Lebanon, Suriah, dan Gaza, tetapi Netanyahu menolak.

Hubungan yang Masih Dianggap Baik

Meski ada perbedaan, Netanyahu berusaha meredam kesan keretakan. Dalam wawancara dengan Fox News, ia menyebut hubungannya dengan Trump "baik-baik saja" dan kedua negara tetap "sekutu teladan". Namun, seorang pejabat Israel mengatakan kepada CNN bahwa penjadwalan pertemuan tidak mudah dan sempat menemui jalan buntu, baru mendapat konfirmasi setelah pengumuman upacara Graham.

Trump, saat dalam perjalanan ke Michigan, menegaskan bahwa Israel membutuhkan AS. "Tahukah Anda siapa yang tidak akan bisa bertahan tanpa kami? Israel," ujarnya. "Bibi akan datang, dan dia akan mengatakannya kepada Anda." Meski demikian, Trump mengklaim hubungan mereka masih dekat.

Pertemuan ini menjadi momentum krusial bagi Netanyahu. Sumber Reuters menyebut ia akan melobi Trump untuk dukungan kampanye menjelang pemilu, berharap citra hubungan erat dapat meningkatkan posisinya yang tengah menurun dalam jajak pendapat.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags