Investigasi arsip mengungkap bahwa dalam garis keturunan Presiden Prabowo Subianto, terdapat seorang leluhur yang menjadi bagian dari pasukan bantuan kolonial Belanda dalam Perang Jawa melawan Pangeran Diponegoro. Temuan ini memperkuat narasi tentang kompleksitas sejarah kolonial yang mewarnai keluarga elit Indonesia.
Ibu Presiden Prabowo, Dora Marie Sigar, lahir pada 1921 di Langowan, Minahasa, Sulawesi Utara. Ia berasal dari keluarga Kristen yang telah beberapa generasi berada di lingkaran pemerintahan kolonial. Ayahnya, Philip Frederik Laurens Sigar, adalah pegawai tinggi pemerintah kolonial dan anggota Volksraad di Batavia. Pada usia 12 tahun, Dora dikirim bersekolah ke Belanda, belajar perawatan pascabedah di Utrecht, lalu menikah dengan ekonom Sumitro Djojohadikusumo.
Naik lima generasi dari Dora, terdapat Benjamin Thomas Sigar, seorang laki-laki yang meninggal di Langowan sekitar Januari 1880 pada usia 90 tahun. Pada 2 Februari 1880, koran Soerabaijasch Handelsblad memuat berita kematiannya. Salah satu baris menyebutkan bahwa ia adalah salah satu pemimpin lokal yang ikut mengalami Perang Jawa melawan Diponegoro. Namun, ia tidak berada di pihak Diponegoro. Benjamin Thomas Sigar adalah komandan prajurit Minahasa yang masuk ke dalam pasukan bantuan yang dikirim Residen Manado untuk membantu tentara kolonial menumpas perlawanan di Jawa. Dalam istilah yang pernah digunakan Presiden Prabowo di Senayan, ia adalah "londo ireng" orang Indonesia yang ikut Belanda berperang melawan bangsanya sendiri.
Karya jurnalistik ini memanfaatkan teknologi dengan menyertakan gambar dan foto bagian buku sebagai bukti. Narasinya lugas dan tidak membingungkan, menjadikannya bacaan yang langka dan berharga dalam bahasa Indonesia.
Artikel Terkait
Prabowo Setujui Kenaikan Tunjangan Kinerja TNI, Kepala Staf Angkatan Terima Rp48,6 Juta per Bulan
Presiden Prabowo Lantik 1.204 Pamong Praja Muda IPDN, Siap Mengabdi di Seluruh Indonesia
Survei Terbaru: Kepuasan Publik terhadap Kinerja Prabowo Anjlok Drastis
Prabowo: Indonesia Harus Jadi Negara Maju yang Mandiri, Tak Bisa Diatur Bangsa Lain