PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) selaku Agen Pemegang Merek (APM) Mazda meresmikan pabrik perakitan bernama Mazda Indonesia Plant di Citeureup, Bogor, Jawa Barat. Fasilitas ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Mazda di industri otomotif nasional sekaligus menunjukkan komitmen investasi jangka panjang.
Presiden Direktur PT Eurokars Produksi Pratama, Ricky Thio, menyatakan bahwa investasi ini diharapkan dapat mengembangkan manufaktur nasional dan memberi nilai tambah bagi industri otomotif Indonesia. Pabrik berdiri di atas lahan seluas 6,2 hektare dan mulai beroperasi pada 29 Juli 2026.
Berbeda dengan pabrik perakitan lain yang umumnya berbagi lini produksi dengan merek lain, fasilitas ini khusus hanya untuk model-model Mazda. Seluruh mesin, peralatan produksi, hingga area pengujian merupakan investasi baru yang dirancang sesuai standar manufaktur global Mazda.
Kapasitas dan Model Awal
Pada tahap awal, pabrik ini memiliki kapasitas produksi 5.700 unit per tahun dengan fokus merakit Mazda CX-30. Ke depannya, fasilitas ini dipersiapkan untuk merakit lebih banyak varian model, meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap, mendongkrak Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta membuka peluang ekspor.
Ricky Thio menambahkan, peresmian pabrik ini bukan sekadar manufaktur, melainkan wujud nyata bahwa Indonesia memiliki talenta dan kapasitas dalam mendukung pengembangan Mazda di Indonesia.
Filosofi Produksi dan Proses Perakitan
Untuk menjaga konsistensi mutu, Mazda menerapkan dua fondasi utama: sumber daya manusia dan kualitas. Seluruh personel lini produksi direkrut secara khusus dan menjalani pelatihan berstandar global di bawah pendampingan langsung ahli Mazda Jepang. Filosofi Monozukuri atau seni penciptaan dengan ketelitian khas manufaktur otomotif Jepang juga diterapkan.
Proses perakitan terintegrasi melalui delapan area utama. Dimulai dari POS 1 untuk penerimaan komponen CKD dari Jepang dan inspeksi cat di Light Tunnel, lalu POS 2 (Sub Assembly Line) untuk persiapan komponen utama. Pusat perakitan berada di POS 3 (Main Assembly Line) yang mencakup 18 stasiun produksi, terhubung dengan Manufacturing Execution System.
Setelah perakitan, kendaraan menjalani penyesuaian bodi dan pengujian fungsi di POS 4, termasuk lintasan artifisial, uji rem, dan kalibrasi ADAS. POS 5 adalah uji jalan dinamis di Dedicated Test Track dengan tujuh variasi permukaan jalan. Rangkaian produksi ditutup di POS 6 (Final Quality Inspection) dengan uji kedap air dan pemeriksaan bawah bodi. Unit yang lolos dipindahkan ke POS 7, stockyard berkapasitas 160 unit untuk distribusi ke diler. Seluruh operasional didukung POS 8 yang mengelola sistem proteksi kebakaran dan limbah B3.
Ricky Thio menegaskan komitmen menjaga kualitas tanpa kompromi melalui kolaborasi kuat dengan Mazda Motor Corporation, pemerintah Indonesia, dan seluruh rekan bisnis.
Artikel Terkait
Remaja Pengamuk Bawa Golok di Warung Jamu Bogor Ditetapkan sebagai Tersangka
Remaja 18 Tahun Ditangkap Usai Mengamuk Bawa Golok di Dua Warung Bogor
Polisi Tangkap Pemuda Bawa Golok yang Resahkan Warga Citeureup
Mazda Pilih Jalur Konsisten di Tengah Gempuran Merek China