Pemerintah menetapkan rata-rata Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) periode Juni 2026 sebesar USD83,45 per barel, turun signifikan dari realisasi Mei yang mencapai USD106,56 per barel. Penurunan sebesar USD22,50 per barel ini tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 282.K/MG.03/MEM.M/2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa penurunan harga dipicu oleh meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. "Penurunan ini secara umum dipengaruhi oleh tensi geopolitik yang cenderung melandai sepanjang Juni," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (19/7/2026).
Selain faktor geopolitik, peningkatan produksi oleh negara-negara OPEC dan proyeksi pertumbuhan permintaan dari International Energy Agency (IEA) sebesar 1,1 juta barel per hari turut menekan harga minyak mentah dunia. Tren ini sejalan dengan pergerakan harga acuan global: Brent ICE turun ke USD84,98 per barel dan WTI Nymex di level USD82,41 per barel.
Untuk Juli 2026, pemerintah memproyeksikan ICP berada pada kisaran USD67 hingga USD71 per barel. Namun, proyeksi ini bersifat dinamis, tergantung pada perkembangan geopolitik dan keseimbangan pasokan-permintaan internasional. Laode menegaskan pemerintah akan terus memantau kondisi pasar untuk menjaga ketahanan energi nasional. "Pemerintah memastikan formula ICP tetap transparan dan akuntabel mencerminkan dinamika pasar internasional," katanya.
Artikel Terkait
Harga Minyak Mentah Indonesia Turun Drastis Jadi 83,45 Dolar AS per Barel
Harga Minyak RI Turun 21,69% Imbas Meredanya Ketegangan Timur Tengah
ICP Juni 2026 Turun ke USD83,45 per Barel, Dipicu Meredanya Ketegangan Timur Tengah
Harga Minyak Mentah Turun, Komoditas Lain Menguat