Nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya tak terhitung jumlahnya. Dari udara yang dihirup, jantung yang terus berdetak, keluarga yang menemani, hingga hidayah untuk bersujud. Jika nikmat sebanyak itu, wajar jika Allah memiliki hak atas diri kita. Hak tersebut tentu harus diutamakan daripada hak makhluk mana pun.
Lalu, apa hak Allah yang paling dasar terhadap hamba-Nya? Jawabannya sederhana: adab. Kita sering membicarakan adab kepada guru, orang tua, hingga adab di media sosial. Namun, jarang bertanya bagaimana adab kita kepada Allah. Setidaknya, ada delapan adab utama yang wajib dijaga oleh setiap hamba.
Beriman dan Tidak Kufur
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa beriman kepada-Nya dan utusan-Nya. Hal ini termaktub dalam Al-Qur'an: "Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya…" (QS An-Nisa [4]: 136). Sangat tidak beradab jika kita justru mengingkari Zat yang telah memberikan kehidupan. Allah bertanya dengan tegas: "Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkanmu…" (QS Al-Baqarah [2]: 28).
Bersyukur dan Tidak Kufur Nikmat
Syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah di lisan. Syukur yang hakiki adalah mengakui nikmat dari-Nya, memuji-Nya, serta menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan. Allah berfirman: "…bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS Al-Baqarah [2]: 152).
Mengingat Allah dan Tidak Melupakan-Nya
Di tengah hiruk-pikuk urusan dunia, manusia sering lalai dan lupa. Padahal, Allah telah memberikan peringatan keras: "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri…" (QS Al-Hasyr [59]: 19).
Taat dan Tidak Bermaksiat
Ketaatan merupakan bukti nyata cinta seorang hamba kepada Penciptanya. Allah menegaskan: "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul…" (QS An-Nisa [4]: 59). Sangat tidak beradab jika kita berani melanggar aturan dari Zat yang paling menyayangi kita.
Takut kepada Allah
Setiap Muslim wajib menanamkan rasa takut hanya kepada Allah. Perintah ini tertuang dalam Al-Qur'an: "…Janganlah kamu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku…" (QS Al-Maidah [5]: 44). Kita sering takut kehilangan pekerjaan atau takut terhadap penilaian orang lain. Namun, jangan sampai rasa takut kepada makhluk mengalahkan rasa takut kepada Allah.
Malu kepada Allah
Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Sudah sepatutnya kita merasa malu untuk bermaksiat kepada-Nya, meskipun secara sembunyi-sembunyi. Rasa malu tersebut merupakan cerminan keimanan seseorang. Rasulullah menegaskan keutamaan sifat ini dalam berbagai tuntunannya.
Bertaubat kepada Allah
Manusia tempatnya salah dan khilaf. Rasulullah bersabda: "Setiap anak Adam pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertobat." (HR At-Tirmidzi). Pintu taubat dari Allah selalu terbuka lebar bagi hamba-Nya yang ingin kembali.
Berprasangka Baik (Husnudzan) kepada Allah
Kita dilarang keras berburuk sangka terhadap segala ketetapan Allah. Allah mengingatkan: "Tetapi kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu kerjakan." (QS Fushshilat [41]: 22). Sangkaan buruk seperti inilah yang justru akan membinasakan kehidupan seorang hamba.
Pada akhirnya kita menyadari bahwa masalah terbesar kita bukanlah kurangnya rezeki, melainkan kurangnya adab. Selama kita masih diberi nikmat, selama itu pula Allah menuntut adab dari kita. Tuntutan ini ada bukan karena Allah butuh, melainkan karena kitalah yang membutuhkan-Nya. Kita sangat membutuhkan rida-Nya, kasih sayang-Nya, dan surga-Nya. Semoga Allah senantiasa membimbing kita agar selalu berada dalam ketaatan dan kebaikan.