Menpora Dorong Olahraga sebagai Sektor Ekonomi Baru, Bukan Lagi Beban Anggaran

- Kamis, 02 Juli 2026 | 18:18 WIB
Menpora Dorong Olahraga sebagai Sektor Ekonomi Baru, Bukan Lagi Beban Anggaran

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan bahwa olahraga tidak lagi bisa dipandang sebagai beban anggaran, melainkan sebagai peluang pendapatan dan pencitraan bangsa. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers Badan Komunikasi (Bakom) RI di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Bersama Kepala Bakom RI Muhammad Qodari, Erick memaparkan perkembangan program prioritas dan penguatan ekosistem olahraga nasional tahun 2026, khususnya setelah pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu.

"Jadi ini paradigma yang kami dari Kemenpora sekarang sedang mencoba menyamakan pola pikir dengan seluruh pemangku kepentingan stakeholders," ujar Erick membuka pemaparannya.

Menurutnya, sektor pariwisata merupakan contoh nyata di mana sport tourism menjadi komponen besar. Secara global, sport tourism menyumbang pendapatan hampir USD 625 miliar atau sekitar Rp 9.800 triliun, dengan pertumbuhan sekitar 8 persen per tahun.

"Sekarang berapa negara di dunia yang punya pertumbuhan ekonomi sampai 8 persen? Bapak Presiden ingin 8 persen. Artinya komponen dari sport tourism ini mesti menjadi salah satu bagian dari pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh," terang Menpora.

Ia menambahkan, industri olahraga global mencapai USD 521 miliar atau Rp 8.000 triliun dan diprediksi tumbuh 25 persen hingga 2032. Indonesia, kata Erick, memiliki sumber daya alam dan industrialisasi, tetapi potensi sport tourism kerap terabaikan.

Kemenpora pun terus mendorong penyelenggaraan event olahraga nasional dan internasional untuk menggerakkan sektor ekonomi. Salah satu contohnya adalah event lari maraton. Di Indonesia, terdapat 104 event maraton dengan total 10,4 juta pelari. Dari angka itu, transaksi pembelian sepatu lari saja sudah sangat besar.

"Kalau saya melihat sekarang beberapa pameran olahraga itu sudah banyak mulai diisi brand lokal," ucap Erick.

Gelaran maraton yang kerap digelar akhir pekan memberikan dampak berganda. Kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, dan Malang mencatatkan peningkatan hunian hotel. Di Bandung, pendaftar bisa mencapai 15 ribu hingga 20 ribu pelari. Di Mandalika, event serupa yang disponsori sebuah brand mampu menarik 10 ribu peserta.

"Mereka ini kan mesti cari hotel, dan biasanya sehabis lari mereka makan-makan. Nah ini perputaran ekonomi yang kadang-kadang kita lupakan," papar Menpora.

Event besar seperti MotoGP dan Formula 1 juga menjadi incaran banyak negara. Singapura, misalnya, menjadwalkan ajang Formula 1 bersamaan dengan MotoGP di Indonesia. Menurut Erick, hal itu menunjukkan besarnya pasar Indonesia sehingga event besar saling bertabrakan.

Dampak MotoGP di Indonesia kini mencapai Rp 4,9 triliun. Perputaran ekonomi terlihat di Mandalika, dengan banyak rumah makan baru dan investasi vila di kawasan pesisir. Destinasi wisata di sekitar lokasi acara juga ikut merasakan imbasnya.

"Nah hal-hal seperti ini yang membuat sebuah event besar olahraga akan menurunkan juga tetesan uang ke subjek wisata lainnya. Multiplier effect-nya pun terjadi," tegas Erick.

Potensi sport tourism Indonesia masih banyak yang belum maksimal, seperti selancar air dan pendakian gunung. Kemenpora saat ini tengah fokus pada pengembangan potensi tersebut.

Di sisi lain, kompetisi liga olahraga dalam negeri juga turut menyumbang perputaran ekonomi. Liga sepak bola saat ini bernilai sekitar Rp 700 miliar, sementara liga bola basket mencapai Rp 60 miliar. Angka itu belum termasuk pengeluaran masing-masing klub.

"Bayangkan kalau di Indonesia itu ada sembilan liga olahraga. Sekarang ini kan baru sepak bola, bola basket, dan bola voli. Untuk yang lainnya masih belum," jelas Menpora.

Ia mencontohkan Amerika Serikat yang memiliki banyak liga olahraga kelas dunia seperti NBA dan MLB. Industri olahraga di negara tersebut sudah masif dan mendominasi pendapatan global dari sektor ini.

"Jadi perspektif ini yang kami di Kemenpora ingin mengingatkan, bahwa olahraga ini bukan cost center, tetapi ini revenue opportunity. Apalagi Bapak Presiden pada beberapa pernyataannya mengatakan, bahwa dalam pembangunan sebuah negara, olahraga adalah suatu cermin dari keberhasilan negara tersebut," tegas Menpora Erick.

Selain potensi industri, Menpora juga memaparkan program-program Kemenpora, seperti pembinaan prestasi atlet jangka panjang, inisiasi dana pensiun, penyederhanaan peraturan keolahragaan, kerja sama lintas kementerian, hingga pemerataan kesempatan pada olahraga disabilitas.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags