Dari Buruh Pabrik hingga Pengusaha Tahu, Sudarto Buktikan Usaha Kecil Bisa Naik Kelas

- Selasa, 30 Juni 2026 | 19:25 WIB
Dari Buruh Pabrik hingga Pengusaha Tahu, Sudarto Buktikan Usaha Kecil Bisa Naik Kelas

Sudarto duduk di depan pabrik tahunya di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sambil memantau aktivitas produksi. Dari tempat itu, ia mengawasi para pegawainya mengolah kedelai hingga menjadi tahu siap jual. Kini, usahanya mampu memproduksi hingga 6 kuintal tahu per hari. Namun, perjalanan pria asal Nganjuk, Jawa Timur, ini tidak dimulai dengan mudah.

Sebelum menjadi pengusaha, Sudarto bekerja sebagai buruh pabrik. Ia merantau ke Jakarta pada 1995 dan berpindah-pindah tempat kerja demi upah yang lebih layak. "Pengin nyari gaji yang gede pindah ke sana, pindah ke sini. Dan akhirnya kan kita ambil pengalaman dari kita kerja, akhirnya kan menguasai cara pembuatan tahu itu," katanya.

Belasan tahun bekerja di pabrik orang lain, pada 2010 Sudarto memutuskan memproduksi tahu sendiri. Awalnya hanya skala kecil, sekitar 50 kilogram. Perlahan usaha itu berkembang hingga ia membeli tempat produksi sendiri lima tahun kemudian. Untuk membangun pabrik, ia meminjam sekitar Rp70 juta sebagai modal, sementara peralatan dilengkapi bertahap sejak awal merintis.

"Kalau tahu tergantung kualitas ya. Kalau kualitas kita bagus, setoran kita agak miring ama yang lain, itu kemungkinan naiknya itu cepat," ujar Sudarto. Kini, kapasitas produksinya mencapai 6-7 kuintal per hari. Produk dipasarkan ke Pasar Minggu hingga Lenteng Agung, Jakarta Selatan, dengan harga sekitar Rp35 ribu per lempeng.

Setiap hari produksi, Sudarto mengeluarkan modal sekitar Rp10 juta, sebagian besar untuk membeli kedelai dan biaya operasional. "Kalau kedelai harga sekarang aja udah hampir Rp12.000. Kalau bikin 5 kuintal aja ini misalnya, udah Rp6 juta. Rp6 juta itu baru kedelai doang. Biaya operasional kalau 5 kuintal itu kurang lebih 3 juta setengah sampai 4 juta. Jadi 10 juta lebih kalau bikin produksi 5 kuintal," jelasnya.

Proses pembuatan tahu dimulai sejak pagi. Kedelai direndam, digiling, direbus, dan diambil sarinya. Sari kedelai kemudian digumpalkan dengan air asam sebelum dicetak. Untuk produksi 5 kuintal, proses berlangsung dari pukul 06.00 hingga 17.00, lalu tahu dikirim pada malam hari. "Habis magrib ini tahu udah keluar semua," kata Sudarto.

Dalam distribusi, Sudarto mempekerjakan tiga orang pengantar. Enam pekerja lainnya bertugas di bagian pengolahan dengan gaji sekitar Rp3 juta per bulan. "Ya itu udah bersih. Udah dapat makan, dapat kopi dua kali," ujarnya.

Kembangkan Usaha dengan KUR BRI

Sejak 2020, Sudarto mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Awalnya Rp100 juta, kemudian dilanjutkan Rp200 juta. Dana itu digunakan untuk menambah peralatan produksi dan memperbarui kendaraan operasional. "Sekarang kan alat-alat makin canggih itu. Dulu kalau kayak gentong-gentong itu dari kayu, sekarang udah mainnya udah stainless semua. Lalu mesin yang saring itu dulu orang, sekarang yang tadi udah pakai mesin kayak robot itu. Jadi gerak sendiri dia," ujar Sudarto.

Tambahan modal dari KUR membantu menjaga perputaran bisnis karena sebagian pelanggan tidak membayar tunai. "Jadi ada yang tempo seminggu, 3 hari. Kalau saya malah ada yang sebulan. 1 bulan itu baru setor. Nah, dengan adanya modal ini kan kita bisa nutup kedelai lebih dulu, lebih awal. Sebelum langganan kita setor, kita udah bisa membeli kedelai lagi. Jadi buat tambahan putaran keuangan juga. Arusnya, perputarannya tetap berjalan," katanya.

Meski demikian, keuntungan usaha tahu sangat bergantung pada kondisi pasar dan harga kedelai. Harga tahu tidak bisa langsung dinaikkan saat harga kedelai naik. "Ini nggak bisa serta merta besok kedelai naik ikut naik, nggak bisa. Tetap segitu terus. Itu se-Jabodetabek harga tahu itu sama. Jadi enggak bisa naikin harga sendiri itu nggak bisa. Paling bisa kita mengurangi bahan, kita tipisin," ujar dia.

Produksi 6 Kuintal Sampai Pasok MBG

Dalam lima tahun terakhir, produksi tahu Sudarto meningkat hingga 6 kuintal sehari. Peningkatan itu terjadi karena tambahan pelanggan, termasuk pedagang keliling dan pesanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk pedagang keliling, ia memasok hampir 1 kuintal per pengiriman. Sementara untuk MBG, pesanan mulai diterima tahun lalu, namun tidak setiap hari karena menyesuaikan menu. "Kalau dapur itu kan menunya nggak mesti tahu. Jadi seminggu itu paling dua kali, tiga kali," ujar dia.

Usaha Tahu Ubah Kehidupan Sudarto

Soal keuntungan, Sudarto mengaku sulit menghitung secara pasti. Namun, ia memperkirakan pendapatan kotor mencapai sekitar Rp30 juta per bulan. "Pokoknya sehari itu kalau 5 kuintal Rp1 juta kotor dapat. Belum kerusakan, belum bensin," katanya. Dari usaha ini, ia juga membuka lapangan kerja bagi pegawai dan memudahkan masyarakat sekitar membeli tahu eceran.

Perjalanan 16 tahun usaha tahu mengubah kondisi ekonomi Sudarto. Ia yang dulu buruh kini memiliki tempat tinggal dan kendaraan sendiri. "Dulu nggak punya mobil, sekarang udah punya mobil. Dulu enggak punya lahan di sini, sekarang udah punya tempat tinggal di Jakarta," ujarnya. Ia bersyukur rezeki dari usaha tahu juga bisa membeli sawah di kampung halaman. "Alhamdulillah di kampung juga punya sawah, punya ini. Udah bisa nikahin anak sampai punya cucu. Kan itu rezeki juga itu," imbuh Sudarto.

Sementara itu, Pimpinan Cabang BRI Pasar Minggu, Yanuar Akademikus Arbifirdaus, menyambut positif perkembangan UMKM di wilayah tersebut. Ia menegaskan komitmen BRI memajukan UMKM. "Tentunya kami sangat bersyukur apabila dari pelaku-pelaku UMKM yang menikmati pembiayaan atau modal kerja, untuk usahanya dari Bank BRI. Saya turut bersyukur dan bangga," ujarnya. Ia berharap BRI terus membantu masyarakat dengan penyaluran KUR agar usaha mereka bisa naik kelas. "Tentunya ini jadi harapan kita semua. Kita bisa menyalurkan khususnya KUR, ke pelaku usaha UMKM ini untuk apa? Men-generate kemampuan usaha pelaku UMKM itu sendiri. Dengan bertambahnya modal, atau dia dengan kredit investasi buka tempat baru, sehingga bisa memperluas usaha dan memajukan usaha dari pelaku-pelaku UMKM," ujar Arbi.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags