Cerpen “Ibu Pertiwi” Bongkar Luka Sejarah dan Mitos Pahlawan yang Tak Pernah Sederhana

- Jumat, 26 Juni 2026 | 02:06 WIB
Cerpen “Ibu Pertiwi” Bongkar Luka Sejarah dan Mitos Pahlawan yang Tak Pernah Sederhana

Ada anggapan yang sudah lama mengendap di benak banyak orang: sastra adalah pelarian, ruang aman untuk berimajinasi jauh dari hiruk-pikuk realitas. Namun, semakin dalam seseorang menyelami cerita pendek atau novel, justru kerap menemukan hal sebaliknya. Sastra, dalam bentuknya yang paling jujur, seringkali menjadi tamparan paling keras terhadap kenyataan. Cerpen “Ibu Pertiwi” karya Muhammad Gibran Aryeseno adalah salah satu buktinya.

Sekilas, cerita ini tampak seperti kisah tentang Kafka, seorang mantan pejuang yang dipuja sebagai pahlawan perang. Ia hidup bersama keluarga, dan dari permukaan, ia adalah sosok yang berhasil melewati masa pertempuran dengan terhormat. Namun, semakin jauh cerita bergulir, semakin jelas bahwa kehidupan Kafka tidak pernah benar-benar tenang. Ada kegelisahan yang menggerogoti, ketakutan yang membayangi, dan luka yang seolah tak kunjung sembuh.

Di titik inilah cerpen ini melampaui sekadar kisah seorang tokoh. “Ibu Pertiwi” dapat dibaca sebagai cermin bagi luka sejarah yang jauh lebih besar luka yang bukan hanya dimiliki oleh seorang individu, melainkan juga oleh sebuah bangsa.

Pahlawan yang Tak Lagi Sederhana

Dalam narasi kebangsaan pada umumnya, pahlawan digambarkan sebagai figur mulia yang tak perlu dipertanyakan lagi. Ia adalah simbol keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air yang utuh. Namun, cerpen ini justru menyajikan sosok yang sebaliknya. Kafka digambarkan rapuh, mudah panik, dan terus dihantui oleh bayang-bayang masa lalunya. Cerita ini seakan menegaskan bahwa kepahlawanan bukanlah kategori yang bersih dari kontradiksi.

“Siapa yang disebut pahlawan sering bergantung pada siapa yang menulis sejarah.” Pertanyaan ini menjadi krusial. Dalam kehidupan nyata, gelar “pahlawan” tidak semata-mata dibentuk oleh tindakan, tetapi juga oleh narasi yang dibangun di sekelilingnya. Sejarah tidak pernah sepenuhnya netral. Ada pihak yang menulis, ada yang memilih apa yang perlu diingat, dan ada pula yang memutuskan apa yang harus dilupakan. Sosok pahlawan dalam cerpen ini menjadi simbol bahwa sejarah kebangsaan seringkali jauh lebih rumit daripada apa yang diajarkan di bangku sekolah.

Luka Kolektif yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Yang membuat “Ibu Pertiwi” terasa kuat adalah kemampuannya menggambarkan luka kolektif bangsa melalui pengalaman personal tokohnya. Luka itu tidak hadir dalam bentuk pidato besar atau penjelasan sejarah yang panjang. Ia muncul lewat tubuh tokoh utama yang gelisah, pikirannya yang tidak tenang, dan rasa takut yang seolah tak pernah pergi.

Tokoh utama merasa tubuhnya bertingkah aneh, pikirannya kacau, dan hidupnya tidak pernah benar-benar nyaman. Trauma di sini tidak dihadirkan sebagai diagnosis medis semata, melainkan sebagai tanda bahwa ada peristiwa masa lalu yang belum selesai. Tubuh menjadi ruang tempat sejarah kembali. Ia tidak bisa sepenuhnya membungkam apa yang pernah terjadi, karena masa lalu justru muncul lagi melalui rasa takut, kegelisahan, dan kehancuran psikologis.

Perang mungkin telah usai. Penjajahan mungkin sudah berakhir. Namun, dampaknya tidak ikut selesai begitu saja. Luka sejarah seringkali tetap tinggal, hanya berubah bentuk. Ia hidup dalam trauma, rasa bersalah, ingatan yang terus kembali, dan ketidakmampuan untuk benar-benar berdamai dengan masa lalu. Sebuah bangsa bukan hanya dibangun oleh kemenangan, tetapi juga dibentuk oleh hal-hal yang tidak selalu diakui. Kita sering merayakan kemerdekaan dan kepahlawanan, tetapi jarang bertanya apa yang sebenarnya tersisa setelah semua itu berlalu. Padahal, dalam banyak kasus, sejarah meninggalkan jejak yang tidak langsung terlihat, tetapi terus memengaruhi kehidupan generasi setelahnya.

Propaganda dan Sejarah yang Dipoles

Salah satu bagian paling penting dalam cerpen ini adalah adegan wawancara tokoh utama untuk sebuah film. Di situlah pembaca melihat bahwa cerita tidak hanya membahas masa lalu, tetapi juga bagaimana masa lalu diproduksi ulang untuk publik. Film di sini berfungsi sebagai simbol propaganda: sebuah alat untuk memilih bagian mana dari sejarah yang boleh terlihat, dan bagian mana yang harus disembunyikan.

Unsur propaganda terasa sangat kuat. Ada bagian sejarah yang ditampilkan, ada pula bagian yang tampaknya harus disembunyikan. Masa lalu dipilih, diedit, dan diarahkan agar sesuai dengan citra tertentu. Cerpen ini seperti ingin mengatakan bahwa sejarah yang kita kenal tidak selalu hadir secara alami. Ia bisa dibentuk sedemikian rupa sehingga tampak rapi, heroik, dan mudah diterima.

Di Indonesia, bagian ini terasa sangat dekat. Kita hidup di negara yang memiliki pengalaman panjang dengan narasi sejarah resmi. Ada masa ketika film, buku sekolah, hingga simbol-simbol kenegaraan berperan besar dalam menentukan bagaimana masyarakat memahami masa lalu. Dalam kondisi seperti itu, propaganda tidak selalu hadir secara kasar. Kadang ia bekerja secara halus, melalui pengulangan cerita yang sama terus-menerus sampai akhirnya diterima sebagai satu-satunya kebenaran.

Kembalinya Suara Korban

Jika Kafka mewakili pahlawan yang dihormati, maka Sania hadir sebagai sisi lain dari sejarah sisi yang sunyi, tetapi justru sangat penting. Kehadiran Sania dalam cerpen ini terasa seperti pembuka luka yang selama ini ditutup rapat. Ia membawa suara korban, suara yang tidak masuk ke dalam film, monumen, atau narasi resmi tentang bangsa.

Luka semacam ini tidak selalu muncul dalam bentuk fisik, tetapi hidup dalam ingatan, trauma, dan keheningan. Ia adalah representasi dari mereka yang menderita, tetapi tidak pernah diberi ruang untuk bercerita. Dalam banyak sejarah kekerasan, justru orang-orang seperti inilah yang paling sering tersingkir. Mereka bukan pemenang, bukan tokoh utama, dan bukan wajah yang dipajang dalam perayaan nasional. Namun, tanpa mereka, sejarah menjadi pincang. Bangsa sering kali dibangun dengan merayakan suara pahlawan, tetapi melupakan suara korban. Akibatnya, identitas nasional berdiri di atas fondasi yang retak.

Bangsa, Ingatan, dan Wilayah Abu-Abu

Salah satu kekuatan utama cerpen ini adalah keberaniannya masuk ke wilayah abu-abu. Ia tidak memberi pembaca pembagian yang sederhana antara benar dan salah, pahlawan dan penjahat, atau korban dan pelaku. Sebaliknya, cerpen ini menunjukkan bahwa sejarah sering berjalan dalam ruang yang rumit.

Indonesia memiliki sejarah kolonial yang panjang, tetapi juga memiliki sejarah kekerasan internal, propaganda politik, dan perebutan tafsir atas peristiwa-peristiwa besar. Jepang pernah membuka peluang bagi elite pribumi untuk mengisi jabatan administrasi yang sebelumnya dibatasi oleh Belanda. Setelah kemerdekaan, perjuangan tidak otomatis menghadirkan satu kebenaran tunggal, sebab selalu ada wilayah abu-abu antara pembebasan, kompromi, kekerasan, dan penghapusan suara tertentu. Pengalaman ini tidak hanya dimiliki oleh Indonesia. Beberapa negara yang pernah dijajah seperti Vietnam, Kamboja, serta Filipina juga merasakannya.

Sastra sebagai Ruang Membongkar Ingatan

Pada akhirnya, kekuatan cerpen “Ibu Pertiwi” terletak pada kemampuannya menjadikan sastra sebagai ruang pembongkaran. Cerita ini tidak menawarkan kenyamanan. Ia tidak memberi pembaca heroisme yang sederhana, tidak menyuguhkan tanah air sebagai simbol yang sepenuhnya suci, dan tidak membiarkan sejarah berdiri sebagai monumen yang diam. Sebaliknya, cerpen ini menunjukkan bahwa di balik kata-kata seperti merdeka, bangsa, dan pahlawan, sering tersembunyi luka yang belum pernah sungguh-sungguh diselesaikan.

Sastra bukan hanya hiburan atau renungan personal. Sastra juga dapat menjadi alat kritik sosial-historis. “Ibu Pertiwi” mengingatkan bahwa bangsa yang dewasa bukanlah bangsa yang hanya pandai mengenang kemenangan, melainkan bangsa yang berani memeriksa cara kemenangan itu dibangun dan siapa saja yang mungkin dikorbankan di dalamnya. Cerpen ini menjelaskan bahwa sastra bukan sekadar hiburan semata, melainkan salah satu bentuk perlawanan untuk menyangkal sejarah yang telah disusun oleh negara guna menyembunyikan kebusukan yang ada di dalamnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.