Ketika Katolik dan Protestan di Jerman Berbagi Satu Gereja

- Senin, 10 Agustus 2026 | 18:05 WIB
Ketika Katolik dan Protestan di Jerman Berbagi Satu Gereja

Di kawasan Neuostheim, Mannheim, Jerman, berdiri sebuah gereja Katolik bernama St. Pius yang tampak biasa dari luar. Namun, di dalamnya terjadi praktik ibadah yang tidak lazim: umat Katolik dan Protestan menggunakan altar yang sama secara bergantian. Mereka telah hidup berdampingan dalam satu rumah ibadah selama beberapa dekade, sebuah contoh nyata dari tren yang semakin meluas di Jerman.

Annette Hübner, seorang umat Katolik setempat yang aktif di gereja, menuturkan bahwa kerja sama ini bermula pada awal 1970-an. Saat itu, pastor St. Pius berkomitmen untuk mempererat hubungan dengan komunitas Protestan. Ibadah bersama pertama digelar pada 1970, dan menjadi permanen setelah Gereja Protestan St. Thomas di dekatnya rusak parah pada akhir 2009 dan tidak dapat diperbaiki lagi. "Semakin jelas bahwa kami memang perlu terus bekerja sama," kenang Hübner.

Sebuah spanduk di fasad gereja bertuliskan: "Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan." Kalimat itu bukan sekadar slogan, melainkan cerminan kehidupan sehari-hari di St. Pius.

Katolik dan Protestan dalam satu atap

Jerman memiliki 65 Simultankirchen, yaitu gereja yang digunakan bersama oleh lebih dari satu denominasi. Tradisi ini berawal dari keputusan penguasa sekuler setelah Reformasi dan perpecahan Gereja. Beberapa Simultankirchen memiliki aturan ketat tentang jadwal penggunaan, seperti Katedral Altenberg dekat Köln dan Katedral St. Peter di Bautzen, Saxony.

Penggunaan ruang ibadah bersama sebenarnya sudah umum di kapel rumah sakit dan bandara. Namun, kini semakin banyak paroki biasa yang mengadopsi model ini. Di North Rhine-Westphalia, negara bagian terpadat di Jerman, gereja Protestan dan Katolik telah membahas masalah ini sejak 2017, bertepatan dengan peringatan 500 tahun Reformasi Martin Luther. Sebuah panduan praktis berjudul "Bagaimana Jika Kita Semua Tinggal Bersama?" diterbitkan, memuat contoh-contoh dari berbagai keuskupan. Panduan itu menyoroti "berkurangnya jumlah bangunan gereja dengan cepat". Data resmi gereja pada 2025 menunjukkan ada 24.500 gereja Katolik dan 21.100 gereja Protestan di Jerman, namun setiap tahun puluhan gereja dinonaktifkan, dihancurkan, atau dialihfungsikan.

Menghadiri gereja Protestan sempat dianggap "dosa"

Di Schildow, pinggiran utara Berlin, hanya satu gereja yang akan tetap digunakan, yaitu gereja Protestan yang lebih besar. Kantor pers Keuskupan Agung Berlin menyebut inisiatif ini sebagai "proyek ekumenis yang memiliki nilai teladan". Mereka menegaskan bahwa ibadah bersama kini dianggap biasa, meskipun umat Katolik yang terlibat masih ingat masa-masa ketika menghadiri gereja Protestan dianggap dosa.

Jemaat kecil di Jerman timur

Para uskup Katolik di Jerman timur sudah terbiasa menggelar misa di gereja Protestan karena gereja Katolik sering kali terlalu kecil untuk menampung jemaat, terutama saat acara besar seperti krisma atau perayaan ulang tahun paroki. Konferensi Uskup Jerman juga tengah menyusun panduan praktis terkait hal ini, seiring menurunnya jumlah jemaat dan berkurangnya kebutuhan akan bangunan gereja.

Dua altar bersatu

Gereja St. Pius di Mannheim berbeda dari sekadar solusi sementara. Kedua jemaat telah membangun kerja sama yang erat. Pada 2020–2022, gereja direnovasi besar-besaran. Tempat altar lama kini menjadi lokasi bejana pembaptisan, simbol kebersamaan. Sebuah altar baru dari batu merah dan abu-abu berdiri di tengah gereja. "Batu pasir merah berasal dari altar gereja Protestan, sementara batu kapur abu-abu berasal dari altar gereja Katolik," jelas Hübner. Kedua altar dihancurkan dan materialnya dicetak menjadi satu altar baru dengan permukaan yang sebagian halus dan sebagian kasar, melambangkan persatuan yang masih memiliki perbedaan. "Itu menjadi simbol yang indah dari hubungan antara umat Protestan dan Katolik. Kami ingin bersatu, tapi masih ada perbedaan dan pertanyaan yang belum terselesaikan," ujarnya.

Pengaturan hukum yang jelas

Di Kiel, Jerman utara, Gereja St. Birgitta-Thomas telah menjalankan konsep serupa sejak 1980. Paroki Katolik St. Birgitta dan jemaat Protestan Thomas menggunakan gereja dan gedung paroki bersama dengan pengaturan hukum yang jelas. Secara resmi, bagian gereja milik Katolik, sedangkan balai paroki milik Protestan. Namun, Pendeta Rebekka Ulrich menegaskan bahwa kedua kompleks digunakan bersama secara setara. "Pihak Protestan menyewa mesin printer, tetapi pihak Katolik juga menggunakannya," katanya sambil tersenyum. Pendeta berusia 36 tahun itu melihat banyak titik temu, termasuk ibadah bersama, perayaan, dan dialog antarummat. Setiap tahun, kedua denominasi memilih tema bersama, dan lagu pujian bulanan dipilih bergantian dari buku nyanyian Protestan dan Gotteslob, buku Katolik.

Kekurangan pastor dan organis

Kerja sama bahkan mencakup musik gereja. Kedua jemaat menggunakan organis yang sama. "Pada hari Minggu, dia mengiringi misa Katolik pukul 09.30 dan kemudian ibadah Protestan pukul 11.00," kata Ulrich. Namun, tantangan muncul dari menurunnya jumlah pastor Katolik. Di Mannheim, Annette Hübner menggambarkan proses ini sebagai perjalanan panjang yang layak dijalani. Jumlah rohaniwan terus berkurang di kedua denominasi, sehingga ibadah tanpa pastor semakin sering digelar.

Selain itu, tradisi Kristen Timur juga mendapat tempat di St. Pius. Sejak 1971, Mannheim menjadi rumah bagi "Pusat Gereja Timur Kiril dan Metodius" yang berlokasi di gereja tersebut. Sebulan sekali, liturgi Katolik dirayakan menurut Ritus Bizantium. Setelah renovasi, area pintu masuk dilengkapi ruang khusus dengan ikon dan pemisah ruang. Semua itu berlangsung di bawah satu atap gereja.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags