Saham perancang chip kecerdasan buatan asal Amerika Serikat, Cerebras, ambles sekitar 14 persen pada perdagangan pra-pasar Wall Street, Rabu (24/6/2026). Kejatuhan ini dipicu oleh laporan keuangan perdana pasca-IPO yang memuat proyeksi penurunan margin keuntungan.
Jika koreksi berlanjut hingga pembukaan perdagangan, saham Cerebras diproyeksikan menyentuh level terendah sejak melantai di bursa lebih dari sebulan lalu. Potensi kerugiannya besar: kapitalisasi pasar perusahaan bisa terhapus hingga lebih dari USD6 miliar, atau setara sekitar Rp98,4 triliun.
Pemicu utama aksi jual investor adalah target margin laba kotor penyesuaian Cerebras untuk tahun penuh 2026 yang dipatok di kisaran 38 hingga 41 persen. Angka ini menyusut signifikan dibandingkan capaian margin kuartal I-2026 yang sempat menyentuh 47 persen.
Meski proyeksi internal itu masih di atas ekspektasi konsensus analis yang sebesar 29,58 persen, angka tersebut dinilai jauh tertinggal dibandingkan para kompetitor di sektor chip AI. Sebagai perbandingan, Nvidia konsisten mengantongi margin laba kotor di kisaran pertengahan 70 persen, sementara Advanced Micro Devices (AMD) berada di kisaran pertengahan 50 persen.
Analis pasar modal mencatat margin laba kotor Cerebras tertekan oleh tingginya biaya manufaktur karena ukuran fisik chip yang relatif lebih besar. Selain itu, perusahaan terpaksa menyewa kembali sistemnya sendiri dari klien yang sudah ada demi memenuhi lonjakan permintaan jangka pendek sembari membangun kapasitas pusat data baru.
Sejak debut perdana di bursa saham, harga saham emiten yang berbasis di California ini telah merosot lebih dari 27 persen. Penurunan ini mencerminkan mulai mendinginnya euforia investor terhadap saham-saham sektor AI, karena pasar mulai mengkhawatirkan besarnya belanja modal yang digelontorkan perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur baru.
Meski demikian, sejumlah institusi keuangan global tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang Cerebras berkat kerja sama strategis dengan para raksasa teknologi dunia. Cerebras berhasil mengamankan kontrak tahun jamak senilai USD20 miliar dengan OpenAI.
CEO Cerebras, Andrew Feldman, mengonfirmasi bahwa model AI terbaru GPT 5.4 kini dijalankan menggunakan chip milik Cerebras. Produsen ChatGPT tersebut siap mengerahkan infrastruktur semikonduktor berdaya 750 megawatt di bawah kesepakatan ini. Amazon Web Services juga disebut akan segera mengadopsi chip Cerebras di pusat data mereka, dengan arus pendapatan yang diproyeksikan mulai mengalir pada tahun depan.
Merespons potensi jangka panjang tersebut, Morgan Stanley justru menaikkan target harga saham Cerebras dari USD250 menjadi USD273 per saham. Senada, lembaga riset TD Cowen menilai kesepakatan besar bersama Amazon dan OpenAI akan menjadi mesin pertumbuhan utama bagi kinerja keuangan Cerebras di masa depan.
Artikel Terkait
Kementerian Ekonomi Kreatif Dorong Musisi Lokal Tembus Pasar Global Lewat Platform Streaming
Pemerintah Pastikan Harga Gas Industri dan Listrik Tidak Naik Sepanjang 2026
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Didakwa Terima Suap Rp4,8 Miliar dan Gunakan 10 Nama Samaran
Qualcomm Targetkan Pendapatan Rp269 Triliun dari Bisnis Data Center pada 2029