Sebanyak 28 ton lidi sawit asal Indonesia resmi dikirim ke China untuk pertama kalinya. Ekspor perdana ini merupakan hasil kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia. Lidi sawit yang dikirim berasal dari perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau, Sumatera Utara, dan Aceh.
Produk tersebut dikumpulkan dan diusahakan oleh para petani sawit, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta koperasi yang tergabung dalam Aspekpir. Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan UMKM dan koperasi yang diselenggarakan oleh Aspekpir bersama BPDP. Dalam proses ekspor, Aspekpir menggandeng PT Arra Setya Abadi sebagai eksportir yang akan memasarkan lidi sawit ke pasar internasional.
Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, Pangihutan Siagian, menyatakan bahwa lembaganya telah lama melakukan promosi mengenai potensi nilai tambah ekonomi dari produk samping dan limbah kelapa sawit, termasuk lidi sawit. Kerja sama intensif dengan Aspekpir telah dilakukan melalui berbagai kegiatan workshop dan diseminasi sejak 2024 hingga saat ini.
Rangkaian workshop produksi lidi sawit telah dilaksanakan di berbagai wilayah, antara lain Kabupaten Siak, Kampar, Bengkalis, Muaro Jambi, Belitung Timur, hingga Kabupaten Pasang Kayu, Sulawesi Barat. “Upaya tersebut dilakukan untuk mengenalkan potensi lidi sawit dan ketersediaan pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan kapasitas petani agar kualitas produk sesuai standar pasar ekspor,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (21/6/2026).
Menurut Pangihutan, lidi sawit memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi beragam produk bernilai ekonomi, mulai dari bahan baku ekspor hingga aneka kerajinan yang dapat dikerjakan oleh pelaku UMKM di daerah. “BPDP sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini karena mampu memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat serta menunjukkan bahwa limbah sawit dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi,” kata dia.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa BPDP saat ini memiliki berbagai program strategis untuk mendukung penguatan kapasitas dan peningkatan produktivitas petani sawit. Program tersebut meliputi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Program Sarana dan Prasarana, Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan, Penelitian dan Pengembangan, serta program Promosi Perkebunan yang bertujuan mengenalkan manfaat komoditas perkebunan bagi masyarakat dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Keberhasilan ekspor perdana lidi sawit ini, menurut Pangihutan, menunjukkan bahwa sawit adalah komoditas yang inklusif. Manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari petani, perempuan, pemuda, UMKM, koperasi, hingga pelaku ekspor. “Rantai pasok produksi lidi sawit melibatkan banyak pihak, dari petani, pengrajin, koperasi, dan pelaku ekspor, sehingga dapat memberikan efek ganda bagi penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi di daerah,” ujar dia.
Pangihutan menambahkan, kegiatan ini juga sejalan dengan visi pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Visi tersebut mencakup upaya memperkuat kemandirian ekonomi nasional melalui ekonomi hijau, memperluas kesempatan kerja berkualitas dengan kewirausahaan, serta pemerataan pembangunan hingga ke desa-desa.
Sementara itu, Ketua Umum Aspekpir Setiyono menegaskan bahwa sedikitnya tujuh koperasi anggota Aspekpir terlibat dalam penyediaan bahan baku lidi sawit yang diekspor ke China. Manfaatnya kemudian akan dirasakan oleh kurang lebih 2.800 anggota koperasi tersebut. Keterlibatan koperasi ini menunjukkan bahwa pengembangan usaha berbasis limbah sawit mampu menjadi sumber ekonomi baru bagi petani.
“Ekspor perdana ini membuktikan bahwa lidi sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kami berharap semakin banyak petani sawit yang tertarik menjadikan pengumpulan dan pengolahan lidi sawit sebagai sumber penghasilan tambahan,” kata Setiyono.
Di sisi lain, Direktur Utama PT Arra Setya Abadi Ilham Setiadi menjelaskan bahwa sejak akhir 2024 pihaknya bersama Aspekpir dan didukung BPDP terus melakukan sosialisasi serta pendampingan pengembangan usaha ekspor lidi sawit di berbagai daerah. Menurut Ilham, permintaan pasar internasional terhadap lidi sawit terus menunjukkan tren positif sehingga peluang pengembangan usaha ini masih sangat terbuka lebar bagi petani dan UMKM di berbagai daerah sentra perkebunan sawit.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumatera Utara yang diwakili Tsarwah menyampaikan apresiasi atas keberhasilan ekspor perdana tersebut. Dia berharap kegiatan serupa dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lainnya untuk memanfaatkan potensi limbah pertanian dan perkebunan yang memiliki nilai ekonomi. “Sumatera Utara memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan berbagai produk turunan berbasis limbah kelapa sawit, termasuk lidi sawit. Kerja sama dan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi petani, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan keberhasilan ekspor seperti ini,” ujarnya.
Pengembangan produk lidi sawit menjadi bukti bahwa sektor sawit mampu mendukung prinsip ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan. Pemanfaatan pelepah dan biomassa sawit sebagai bahan baku produk UMKM membantu mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat sekitar perkebunan. “Produk lidi sawit ini juga sekaligus dapat memperluas pasar ekspor perkebunan melalui diversifikasi produk turunan kelapa sawit,” katanya.
Artikel Terkait
Polisi Palmerah Amankan Pria Bawa Badik saat Patroli Dini Hari Antikejahatan
Mendagri Tito Tinjau Langsung Bedah Rumah Warga di Papua, Targetkan 22.379 Unit Direnovasi
Grace Natalie dan Wamen Isyana Bagoes Oka Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke Jokowi di Solo
Latar Pendidikan Ruben Onsu dan Sarwendah Tan Jadi Sorotan Usai Resmi Bercerai