Suporter Jepang Dipuji Bersihkan Stadion, Tapi Dikritik Karena Minim Bantu Pekerjaan Rumah Tangga

- Minggu, 21 Juni 2026 | 07:25 WIB
Suporter Jepang Dipuji Bersihkan Stadion, Tapi Dikritik Karena Minim Bantu Pekerjaan Rumah Tangga

Kebiasaan suporter tim nasional sepak bola Jepang yang rajin membersihkan stadion usai pertandingan kembali menuai sorotan, namun kali ini bukan sekadar pujian. Di tengah gemerlap aksi mereka yang berhasil mengumpulkan sampah di bangku penonton, kritik tajam justru muncul dari sebagian warga Jepang sendiri. Mereka menilai ada standar ganda dalam budaya kebersihan yang ditunjukkan para pria tersebut.

Aksi bersih-bersih yang dilakukan suporter Jepang sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi ciri khas yang melekat. Pada gelaran Piala Dunia 2026, tradisi itu kembali terlihat setelah laga perdana. Foto-foto suporter yang menyisir tribun sambil membawa kantong sampah dan memunguti sampah yang berceceran hingga bersih pun berseliweran di media sosial.

Namun, di balik citra heroik itu, sebagian masyarakat Jepang justru menyoroti adanya ketimpangan. Mereka merasa bahwa laki-laki Jepang terlihat peduli kebersihan di depan umum, tetapi meninggalkan beban kebersihan rumah tangga kepada istri mereka. Kritik ini mencuat seiring dengan data yang menunjukkan rendahnya partisipasi pria Jepang dalam pekerjaan rumah tangga.

Kebersihan dan kebiasaan membersihkan diri di tempat umum memang sudah tertanam dalam budaya Jepang. Akan tetapi, laki-laki Jepang menempati peringkat terendah di antara negara-negara dengan ekonomi maju dalam hal kontribusi waktu untuk pekerjaan rumah tangga. Sebuah survei pemerintah pada tahun 2021 mengungkapkan bahwa perempuan Jepang masih mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah tangga dibandingkan suami mereka setiap hari.

Pada rumah tangga dengan dua penghasilan dan anak-anak di bawah usia enam tahun, perempuan menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari untuk pekerjaan rumah tangga. Sementara itu, laki-laki hanya menghabiskan kurang dari dua jam. Data Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) pada tahun 2021 juga mencatat bahwa perempuan di Jepang menghabiskan lebih dari tiga jam per hari untuk pekerjaan yang tidak dibayar. Angka ini lebih dari lima kali lipat dibandingkan laki-laki yang hanya menghabiskan 47 menit dalam sehari.

Kritik terhadap para pria suporter timnas sepak bola Jepang pun ramai beredar di media sosial. Sebuah poster berbahasa Jepang bahkan menjadi viral karena secara terang-terangan mengkritik minimnya kontribusi pria Jepang dalam pekerjaan rumah tangga. Poster itu menjadi simbol kegelisahan publik yang menuntut konsistensi antara sikap di ruang publik dan tanggung jawab di ranah domestik.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags