UGM Nonaktifkan Mahasiswi PPDS Selama Tiga Bulan Usai Sindir Pasien BPJS

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 11:25 WIB
UGM Nonaktifkan Mahasiswi PPDS Selama Tiga Bulan Usai Sindir Pasien BPJS

Universitas Gadjah Mada (UGM) menjatuhkan sanksi nonaktif sementara kepada Elda Putri Rahardini, mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK), menyusul komentar kontroversialnya di media sosial yang dinilai menghina pasien BPJS. Sanksi berupa penonaktifan selama tiga bulan ini berlaku sejak keputusan tersebut diumumkan, sementara kampus masih melakukan investigasi mendalam terhadap dugaan pelanggaran etika.

Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana, membenarkan langkah tersebut. Ia menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah pihak fakultas mempertimbangkan berbagai aspek, dan proses pemeriksaan terhadap yang bersangkutan masih terus berjalan. "Keterangan dari Wakil Dekan FK-KMK, yang bersangkutan dinonaktifkan selama tiga bulan untuk menjalani proses dengan semestinya," ujarnya pada Sabtu (8/8/2026). Andi menambahkan bahwa hasil investigasi akan menjadi dasar bagi UGM untuk menentukan apakah ada sanksi tambahan yang perlu dijatuhkan.

Kasus ini bermula dari unggahan akun media sosial yang diduga milik Elda. Dalam komentarnya, ia menyinggung kondisi ekonomi dan kemampuan berpikir Yurizal Tri Chaerawan, seorang pasien BPJS yang sebelumnya mengeluhkan antrean panjang hingga delapan jam untuk mendapatkan kamar rawat inap. Komentar tersebut cepat menyebar dan memicu kecaman publik karena dianggap tidak pantas, terlebih disampaikan oleh calon dokter spesialis yang kelak akan berhadapan langsung dengan pasien dari berbagai latar belakang.

Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya etika tenaga medis dalam memperlakukan pasien secara setara, tanpa memandang jenis pembiayaan layanan kesehatan. Pasien BPJS memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan yang layak dan bermartabat. Keluhan terhadap kualitas layanan seharusnya dijawab dengan perbaikan sistem, bukan dengan merendahkan pasien.

Keputusan UGM menonaktifkan Elda selama tiga bulan menjadi sinyal bahwa perilaku di ruang digital dapat berimplikasi nyata terhadap proses pendidikan profesi. Bagi calon dokter spesialis, kemampuan medis saja tidak cukup. Integritas, empati, komunikasi, dan penghormatan terhadap pasien merupakan bagian tak terpisahkan dari profesionalisme kedokteran.

UGM kini masih memproses kasus tersebut. Hasil investigasi akan menentukan apakah sanksi lebih lanjut perlu diberikan kepada mahasiswi PPDS tersebut.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags