Bursa saham Asia kompak menguat pada perdagangan Jumat, dengan indeks Jepang dan Korea Selatan menorehkan rekor baru di tengah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi itu menekan harga minyak global dan meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi.
Sentimen pelaku pasar membaik setelah kapal tanker kembali melintasi Selat Hormuz, menyusul pencabutan blokade yang diterapkan Amerika Serikat terhadap Iran pada Kamis. Kebijakan itu merupakan bagian dari kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir. Kendati demikian, sejumlah analis menilai risiko gangguan pasokan energi belum sepenuhnya hilang.
Harga minyak ikut tertekan. Brent crude tercatat turun sekitar satu persen ke level 79,03 dolar AS per barel. Secara mingguan, harga minyak mentah acuan itu telah melemah hampir 9,5 persen seiring ekspektasi normalisasi pasokan energi global.
Di pasar saham, indeks Nikkei 225 kembali mencatat rekor dengan kenaikan 0,8 persen, menandai reli lima hari beruntun. Secara mingguan, indeks acuan Jepang itu telah melonjak 8,5 persen. Sementara itu, KOSPI naik 3,1 persen dan mengakumulasi penguatan hingga 15,3 persen dalam sepekan.
Pasar saham di China daratan dan Hong Kong tutup karena libur Festival Perahu Naga. Taiwan juga menjalani periode libur yang sama. Kenaikan tajam di kawasan ini didorong oleh kombinasi meredanya risiko geopolitik serta ekspektasi inflasi yang lebih terkendali akibat turunnya harga minyak.
Di pasar valuta asing, dolar Amerika Serikat tetap menguat mendekati level tertinggi dalam 13 bulan terhadap mata uang utama lainnya. Sikap hawkish Federal Reserve mendorong ekspektasi bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga lebih dari satu kali tahun ini. Tekanan tersebut membuat yen Jepang melemah ke posisi terendah dalam dua tahun terhadap dolar, sehingga memicu spekulasi bahwa otoritas Jepang akan melakukan intervensi untuk menahan pelemahan lebih lanjut.
Meski pasar tengah berada dalam mode risk-on, sejumlah analis mengingatkan bahwa stabilitas di Selat Hormuz masih rentan. Di Wall Street, indeks berjangka tercatat turun 0,2 persen setelah reli sebelumnya. Di sisi korporasi, saham Intel Corporation melonjak 10 persen ke rekor tertinggi setelah Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa Apple Inc. telah sepakat bekerja sama dengan Intel untuk desain dan produksi chip di Amerika Serikat.
Artikel Terkait
Gubernur Pramono: Tambahan Jadwal Konser BTS Bukti Kepercayaan Dunia pada Jakarta
Telkom Resmi Terbitkan Laporan Keberlanjutan 2025, Perkuat Integrasi ESG dan Transisi Rendah Karbon
KSEI Kembali Angkat A Fuad Rahmany sebagai Komisaris Utama untuk Periode 2026–2030
Kesalahan Kiper Korea Selatan Antar Meksiko ke Babak Gugur Piala Dunia 2026