Keputusan Shin Tae-yong untuk menerima pinangan Persija Jakarta ternyata tidak lahir begitu saja. Di balik langkah besarnya menukangi Macan Kemayoran, pelatih asal Korea Selatan itu mengaku sempat kebanjiran tawaran dari sejumlah klub luar negeri, termasuk dari Jepang dan China, sebelum akhirnya memantapkan hati kembali ke Indonesia.
Kehadiran Shin Tae-yong di kursi pelatih Persija Jakarta menjadi salah satu peristiwa yang paling menyita perhatian menjelang musim 2026/2027. Namun, di balik pengumuman resmi tersebut, tersimpan cerita menarik yang baru diungkap langsung oleh pria yang akrab disapa STY itu. Ia mengaku telah menerima beberapa tawaran dari klub-klub asing sebelum akhirnya memilih untuk menukangi tim berjuluk Macan Kemayoran.
Meskipun memiliki banyak opsi untuk melanjutkan karier kepelatihannya, pelatih berusia 55 tahun itu justru merasa Persija adalah pilihan yang paling tepat. Menurutnya, pengalaman panjang bersama Timnas Indonesia sejak akhir 2019 hingga awal 2025 membuatnya tidak perlu memulai semuanya dari nol, seperti yang harus ia lakukan jika menerima pekerjaan di negara baru.
“Ada banyak hal kenapa harus memilih Jakarta. Sebelum tawaran dari Persija Jakarta, sudah ada tawaran dari liga Jepang dan China,” kata Shin Tae-yong dalam sebuah wawancara yang diunggah di kanal YouTube resmi Persija.
Pelatih yang membawa Timnas Indonesia ke berbagai pencapaian bersejarah itu mengaku sudah memahami karakter sepak bola Indonesia secara mendalam. Situasi ini, menurutnya, menjadi keuntungan besar yang tidak akan ia dapatkan jika menerima tawaran dari negara lain. “Kalau misalnya ke China, mungkin ada kesulitan ya, salah satunya seperti pelatih asing yang baru datang jadi enggak kenal apa-apa. Tetapi kan ya kalau Jakarta saya sangat kenal,” ujarnya.
Selama lima tahun membesut skuad Garuda, STY tidak hanya mengenal para pemain tim nasional. Ia juga terbiasa memantau kompetisi domestik untuk mencari talenta yang layak dipanggil membela Indonesia. Kedekatan dengan atmosfer sepak bola nasional itulah yang membuat proses adaptasinya diyakini akan berjalan jauh lebih cepat bersama Persija.
Namun, bukan hanya faktor teknis yang menjadi pertimbangan. Shin mengungkapkan ada alasan emosional yang membuatnya sulit menolak tawaran klub ibu kota tersebut. “Sebenarnya hanya satu hal saja (alasan memilih Persija), ini tim ibu kota dan juga ya memang sudah cinta Jakarta jadi akhirnya memilih Jakarta,” tuturnya.
Di sisi lain, bersamaan dengan dimulainya petualangan baru di Persija, Shin juga membeberkan filosofi permainan yang akan ia terapkan. Baginya, kemampuan teknik semata tidak cukup untuk membawa sebuah tim meraih kesuksesan. Mentalitas, disiplin, kerja keras, dan kemauan berkorban menjadi fondasi utama yang harus dimiliki seluruh pemain.
Shin menegaskan tidak ada tempat bagi pemain yang hanya mengandalkan bakat tanpa kontribusi maksimal untuk tim. “Kami membutuhkan pemain yang siap berkorban untuk tim. Pemain yang merasa dirinya paling hebat, enggan bekerja keras, dan hanya berdiri menunggu bola tidak akan masuk dalam pilihan saya. Itulah filosofi sepak bola yang saya pegang,” tegas Shin.
Menurutnya, sepak bola modern menuntut semua pemain terlibat aktif dalam setiap fase permainan, baik saat menyerang maupun bertahan. Karena itu, seorang penyerang tidak boleh hanya fokus mencetak gol. Saat kehilangan penguasaan bola, pemain depan juga harus ikut bekerja keras membantu tim merebut kembali kendali permainan. “Seorang striker harus mau turun membantu hingga area pertahanan ketika kehilangan bola. Dia harus berusaha melakukan tekel, memenangkan kembali bola, lalu ikut membangun serangan,” katanya.
Meski mengakui intensitas permainan seperti itu sulit dilakukan sepanjang laga, Shin percaya satu aksi pengorbanan dari seorang pemain dapat memberikan dampak besar terhadap mental seluruh tim. Menurutnya, semangat juang yang ditunjukkan satu pemain bisa menular dan menciptakan solidaritas yang lebih kuat di dalam lapangan. “Tidak harus terjadi terus-menerus. Tetapi ketika ada pemain yang rela berkorban demi tim, semangat itu bisa menular kepada rekan-rekannya. Dari situ kebersamaan dan mental juang akan terbentuk,” jelasnya.
Shin menilai kekuatan tim tidak selalu ditentukan oleh kualitas individu. Kesamaan visi, kedisiplinan, dan komitmen untuk berjuang bersama justru menjadi faktor yang mampu membedakan tim juara dengan tim biasa. Melalui filosofi tersebut, ia berharap Persija dapat membangun identitas permainan yang kuat, tampil lebih solid sepanjang musim, dan menjadi salah satu kandidat utama dalam perebutan gelar Super League 2026/2027.
Artikel Terkait
Belanda Hadapi Swedia di Laga Krusial Piala Dunia 2026, Jerman Uji Kekuatan Lawan Pantai Gading
Jemaah Haji Napak Tilas Gua Hira, Saksi Bisu Turunnya Wahyu Pertama
PDIP Dinilai Masih Ambigu soal Sikap ke Pemerintahan Prabowo, Demokrat dan PKB Desak Kejelasan
Tabrakan Kereta Barang di Munich Tewaskan Satu Orang, Selang Beberapa Jam dari Kecelakaan Maut di Inggris