Wall Street ditutup dengan hasil beragam pada Selasa (16/6/2026) di tengah tekanan lanjutan pada harga minyak mentah. Pergerakan ini terjadi setelah euforia sesi sebelumnya yang dipicu oleh kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun pelaku pasar masih bersikap hati-hati sembari menunggu detail lebih lanjut mengenai perjanjian tersebut.
Para investor juga mengalihkan perhatian pada keputusan penting Federal Reserve terkait suku bunga. Pertemuan komite kebijakan moneter kali ini menjadi yang pertama di bawah kepemimpinan ketua baru, Kevin Warsh. Bank sentral Amerika Serikat itu diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga saat ini, sekaligus menerbitkan serangkaian pembaruan proyeksi ekonomi.
Indeks acuan S&P 500 tercatat turun 0,6 persen ke level 7.512,15 poin. Sementara itu, NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi terkoreksi lebih dalam, yakni 1,2 persen menjadi 26.376,34 poin. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru mencatat sejarah dengan naik 0,6 persen dan ditutup di atas 52.000 poin untuk pertama kalinya, tepatnya pada rekor tertinggi 52.002,94 poin.
Sektor teknologi dan energi menjadi dua dari sebelas sektor dalam S&P 500 yang mengalami pelemahan terbesar. Para trader melakukan rotasi keluar dari saham teknologi, sementara penurunan harga minyak menekan kinerja sektor energi.
“Kisah pasar utama hari ini adalah rotasi yang terus berlanjut. Sementara sektor teknologi mengalami penurunan, kita melihat pergerakan pasar yang kuat di sektor keuangan, industri, dan real estate. Ini adalah tanda ketahanan ekonomi di samping meredanya kekhawatiran inflasi karena harga minyak yang lebih rendah,” ujar Keith Lerner, Kepala Investasi dan Kepala Strategi Pasar di Truist, kepada Investing.com.
Ia menambahkan bahwa investor kini menunggu hasil pertemuan The Fed untuk melihat apakah ketua baru akan menolak perkiraan pasar saat ini mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga di akhir tahun. “Kami tidak melihat kenaikan suku bunga sebagai hal yang mungkin terjadi,” katanya.
Di sisi lain, harga minyak Brent turun di bawah 80 dolar AS per barel pada Selasa. Tekanan ini dipicu oleh meningkatnya ekspektasi bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali sepenuhnya. Perwakilan Washington dan Teheran dijadwalkan bertemu di Swiss pada Jumat untuk menandatangani nota kesepahaman antara kedua pihak yang sebelumnya terlibat konflik.
Presiden Donald Trump telah mengisyaratkan bahwa selat tersebut, yang secara efektif ditutup sejak konflik dimulai pada akhir Februari, sudah mulai dibuka sebagian. “Kapal-kapal mulai berlayar sekarang, dan pada hari Jumat akan dibuka sepenuhnya,” katanya kepada wartawan di sela-sela pertemuan G7 di Prancis.
Artikel Terkait
Hendropriyono Bantah Keras Tuduhan Terlibat Rencana Kudeta dalam Video Viral
MUI Sambut Baik Kesepakatan Damai AS-Iran, Desak Penghentian Agresi Israel di Gaza
Harga Emas Antam Naik Rp4.000 per Gram, Buyback Melonjak Rp14.000
Kritik Mengalir, Jakarta Fair 2026 Dinilai Kehilangan Esensi Pesta Rakyat karena Tiket Mahal