Wall Street Ditutup Bervariasi, Dow Cetak Rekor di Atas 52.000 Poin di Tengah Tekanan Minyak dan Rotasi Sektor

- Rabu, 17 Juni 2026 | 07:15 WIB
Wall Street Ditutup Bervariasi, Dow Cetak Rekor di Atas 52.000 Poin di Tengah Tekanan Minyak dan Rotasi Sektor

Wall Street ditutup dengan pergerakan beragam pada Selasa (16/6/2026) di tengah tekanan lanjutan pada harga minyak yang merosot, meskipun sebelumnya pasar sempat terangkat oleh kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, investor tetap berada dalam posisi wait and see, menanti detail lebih lanjut dari perjanjian tersebut sembari mengalihkan perhatian pada pertemuan penting bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.

Para pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan diumumkan dalam waktu dekat. Pertemuan ini menjadi momen pertama bagi komite kebijakan moneter yang dipimpin oleh ketua baru, Kevin Warsh. Secara luas, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan, namun publik juga menanti proyeksi ekonomi terbaru yang akan dirilis bersamaan dengan pengumuman kebijakan tersebut.

Indeks acuan S&P 500 tercatat turun 0,6 persen ke level 7.512,15 poin, sementara NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi terkoreksi lebih dalam, yakni 1,2 persen menjadi 26.376,34 poin. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru mencatat sejarah baru dengan naik 0,6 persen dan ditutup di atas 52.000 poin untuk pertama kalinya, tepatnya pada rekor tertinggi 52.002,94 poin.

Sektor teknologi dan energi menjadi dua sektor dengan kinerja terburuk di antara sebelas sektor utama S&P 500. Para trader melakukan rotasi besar-besaran keluar dari saham teknologi, sementara penurunan harga minyak memberikan tekanan tambahan pada sektor energi.

“Kisah utama pasar hari ini adalah rotasi yang terus berlanjut. Sementara sektor teknologi mengalami penurunan, kita melihat pergerakan yang kuat di sektor keuangan, industri, dan real estate. Ini menandakan ketahanan ekonomi di tengah meredanya kekhawatiran inflasi akibat harga minyak yang lebih rendah,” ujar Keith Lerner, Kepala Investasi sekaligus Kepala Strategi Pasar di Truist, kepada Investing.com.

Investor juga menanti apakah ketua baru The Fed akan memberikan sinyal yang berbeda dari ekspektasi pasar saat ini, terutama terkait kemungkinan kenaikan suku bunga di akhir tahun. “Kami tidak melihat kenaikan suku bunga sebagai sesuatu yang mungkin terjadi,” tambah Lerner.

Sementara itu, harga minyak Brent terus merosot dan sempat berada di bawah 80 dolar AS per barel pada Selasa. Tekanan ini muncul seiring meningkatnya ekspektasi bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali sepenuhnya. Perwakilan Washington dan Teheran dijadwalkan bertemu di Swiss pada Jumat mendatang untuk menandatangani nota kesepahaman antara kedua pihak yang sebelumnya terlibat konflik.

Presiden Donald Trump telah mengindikasikan bahwa selat strategis tersebut, yang secara efektif ditutup sejak pecahnya konflik pada akhir Februari, kini sudah mulai berfungsi sebagian. “Kapal-kapal mulai berlayar sekarang, dan pada hari Jumat akan dibuka sepenuhnya,” kata Trump kepada wartawan di sela-sela pertemuan G7 di Prancis.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar