Harga Minyak Anjlok 5 Persen ke Level Terendah Tiga Bulan Imbas Kesepakatan Buka Kembali Selat Hormuz

- Rabu, 17 Juni 2026 | 07:00 WIB
Harga Minyak Anjlok 5 Persen ke Level Terendah Tiga Bulan Imbas Kesepakatan Buka Kembali Selat Hormuz

Harga minyak mentah dunia anjlok hingga sekitar lima persen pada Selasa (16/6/2026), menandai hari kedua berturut-turut penurunan tajam dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir. Pergerakan ini dipicu oleh munculnya rincian kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri konflik bersenjata di Timur Tengah, termasuk rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini diblokade.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat jatuh 5,1 persen menjadi 78,96 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat merosot lebih dalam, yakni 5,8 persen menjadi 76,05 dolar AS per barel. Level penutupan tersebut menjadi yang terendah bagi Brent sejak 2 Maret dan bagi WTI sejak 4 Maret.

Sebelum perang antara Amerika Serikat dan Iran pecah pada 28 Februari, harga Brent tercatat di posisi 72,48 dolar AS per barel dan WTI di 67,02 dolar AS per barel. Kini, pasar merespons cepat prospek dibukanya kembali jalur strategis yang sebelumnya menjadi pusat ketegangan.

“Minyak mentah turun dengan cepat karena asumsi bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali,” ujar Direktur Perdagangan Berjangka Energi Mizuho, Bob Yawger, dalam catatan risetnya. Sebelum konflik berlangsung, sekitar 20 persen pasokan minyak global mengalir melalui selat tersebut.

Rincian kesepakatan sementara mulai terungkap pada Selasa. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan itu akan mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir. Seorang pejabat AS menambahkan bahwa Iran akan diizinkan kembali menjual minyak setelah perjanjian ditandatangani. Kesepakatan tersebut juga akan memperpanjang gencatan senjata rapuh yang diumumkan pada April selama 60 hari tambahan serta membuka kembali Selat Hormuz, yang secara efektif diblokir Iran sejak serangan awal AS dan Israel terhadap negara itu.

Meski demikian, keraguan terhadap implementasi kesepakatan masih mengemuka. Sejumlah pakar memperingatkan bahwa aktivitas pengiriman dan ekspor energi membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk pulih sepenuhnya. Di Lebanon, kelompok Hizbullah yang didukung Iran menyatakan keyakinannya bahwa Iran tidak akan menandatangani kesepakatan nuklir final sebelum Israel menarik diri dari Lebanon.

“Untuk saat ini, pasar memberikan kepercayaan besar terhadap keberhasilan rencana ini, dengan mengabaikan sejumlah persoalan rumit seperti kompensasi finansial, sanksi, dan terutama kesepakatan nuklir yang memuaskan, yang sebagian besar menjadi alasan terjadinya perang,” kata analis dari perusahaan penasihat energi Ritterbusch and Associates dalam catatan risetnya.

Kabar mengenai kesepakatan awal tersebut mendorong sejumlah bank investasi besar, termasuk Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citi, untuk memangkas proyeksi harga minyak mereka. Faktor lain yang turut menekan harga adalah kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China, meningkatnya inflasi global dan suku bunga, serta seruan AS untuk mencapai perdamaian antara Rusia dan Ukraina.

Pasar minyak kini menantikan laporan persediaan mingguan dari kelompok perdagangan American Petroleum Institute pada Selasa serta laporan Badan Informasi Energi AS pada Rabu. Para analis memperkirakan perusahaan energi telah mengurangi persediaan minyak mentah sebesar 4,6 juta barel dalam sepekan hingga 12 Juni.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags