Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat menyentuh kisaran Rp17.700 nyatanya tidak serta-merta melumpuhkan gairah belanja masyarakat, melainkan mengubah cara mereka berbelanja menjadi lebih cermat dan penuh perhitungan. Di ajang Jakarta Fair Kemayoran (PRJ), daya beli terhadap barang-barang sekunder seperti elektronik dan otomotif tetap terpantau tinggi, namun pola konsumsi yang diterapkan jauh lebih selektif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Jurnalis Metro TV, Elma Rosana, melaporkan bahwa antusiasme warga untuk mengunjungi pameran terbesar di Jakarta ini tidak surut. Ribuan pengunjung tetap memadati area pameran sejak gerbang dibuka pukul 10.00 WIB. Alih-alih mengerem total pengeluaran, masyarakat justru mengubah strategi belanja dengan memanfaatkan momentum Jakarta Fair untuk berburu promo dan diskon besar-besaran.
Para pengunjung kini cenderung menghindari pembelian impulsif. Mereka rela meluangkan lebih banyak waktu untuk membandingkan harga barang di area pameran dengan toko daring maupun toko ritel lainnya. Hal ini diakui oleh Linus dan Devita, dua pengunjung yang sengaja datang untuk membeli barang elektronik setelah melakukan riset harga secara mendalam.
"Kita sebenarnya sudah dari jauh-jauh hari mau beli dan sudah di-list. Tapi pas riset online sama datang ke PRJ, ternyata lebih murah di PRJ. Bedanya diskonnya sampai 10 hingga 20 persen. Di kondisi ekonomi sekarang kita harus cari yang termurah karena memang butuh," ungkap mereka.
Senada dengan hal tersebut, Lina, pengunjung lainnya, mengaku mampir ke pameran untuk mencari rice cooker baru karena harganya yang jauh lebih miring. "Kita ibu-ibu tahunya adalah promo diskon. Lumayan bedanya kalau kita bandingkan dengan toko elektronik lainnya," tuturnya.
Sementara itu, meski situasi ekonomi cukup menantang, para pengunjung jarang terlihat keluar dari area pameran dengan tangan kosong. Banyak dari mereka yang memborong berbagai kebutuhan, mulai dari pakaian, helm, hingga perabotan rumah tangga berskala besar. Pola ini menunjukkan bahwa masyarakat tetap memiliki daya beli, namun dengan prioritas dan strategi yang lebih terukur di tengah tekanan nilai tukar.
Artikel Terkait
Perbaikan Tol Cipularang dan Padaleunyi Dimulai Rabu Dinihari, Jasa Marga Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
Tino Livramento Dipastikan Absen dari Piala Dunia 2026 karena Cedera, Inggris Panggil Trevoh Chalobah sebagai Pengganti
Kecelakaan Beruntun di Jalinsum Lampung Selatan Akibat Rem Blong, Dua Sopir Tewas
RSUD Undata Palu Evakuasi 44 Pasien ke Halaman Rumah Sakit Antisipasi Gempa Susulan