Prabowo dan Megawati Bergandengan Tangan di Hari Lahir Pancasila, PAN Apresiasi Simbol Kedewasaan Politik

- Rabu, 03 Juni 2026 | 06:50 WIB
Prabowo dan Megawati Bergandengan Tangan di Hari Lahir Pancasila, PAN Apresiasi Simbol Kedewasaan Politik

Momen Presiden Prabowo Subianto bergandengan tangan dengan Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menuai apresiasi luas. Banyak pihak menilai gestur tersebut sebagai simbol keakraban dan kedewasaan politik para pemimpin bangsa.

Peristiwa itu terjadi usai upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar di halaman Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, pada Senin, 1 Juni 2026. Awalnya, Prabowo terlihat berbincang dengan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla serta Wakil Presiden ke-13 Ma’ruf Amin. Sementara itu, Megawati berdiri di belakang keduanya.

Prabowo kemudian mempersilakan Megawati, Jusuf Kalla, dan Ma’ruf Amin untuk berjalan lebih dulu. Namun, Megawati justru mengajak Prabowo berjalan bersama. Ia tampak menggandeng tangan Prabowo, dan keduanya pun melangkah sambil tertawa.

Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Saleh Daulay, turut menanggapi momen tersebut. Menurutnya, gambaran itu menjadi potret positif hubungan antarelite politik di tengah dinamika nasional yang terus bergerak.

“Momentum itu adalah potret yang sangat baik. Ada keakraban antarelite politik. Di tengah dinamika politik global dan lokal yang dinamis, semua pihak diharapkan menjaga keteduhan,” kata Saleh kepada wartawan pada Selasa, 2 Juni 2026.

Saleh menambahkan bahwa Prabowo dan Megawati selama ini dikenal memiliki hubungan yang dekat. Meskipun kerap muncul perbedaan pandangan, komunikasi politik di antara keduanya tetap terjaga.

“Prabowo dan Megawati itu kan dekat. Setahu saya, mereka banyak mengambil jalan yang sama. Kalaupun ada perbedaan, komunikasi politik selalu terjalin. Karenanya, persoalan yang ada bisa dicarikan penyelesaiannya secara bijaksana,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa PAN menyambut baik jika seluruh tokoh politik dapat terus menjaga kebersamaan. Sebab, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja.

“PAN tentu ikut senang jika semua tokoh politik bergandeng tangan. Persoalan bangsa Indonesia masih banyak. Tidak bisa dikerjakan secara sektoral. Semua diharapkan ambil bagian. Karena masing-masing memiliki keahlian dan kontribusi yang dibutuhkan,” jelasnya.

“Politik nasional kita sekarang sangat baik. Itu harus dipertahankan dalam bentuk kerja sama lintas partai. Ini kekuatan yang harus dipertahankan ke depan,” sambungnya.

Menurut Saleh, Indonesia akan dipandang sebagai negara kuat apabila hubungan antarelite politiknya terjaga dengan baik. Ia berharap dinamika yang ada saat ini tidak justru melemahkan citra bangsa.

“Malah sebaliknya, Indonesia dipandang sebagai negara kuat karena semua kekuatan politik yang ada bersatu padu dalam ikatan NKRI,” tuturnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar