Semangat menuntut ilmu tak mengenal batas usia. Endiah Puji Hastuti, seorang peneliti utama di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), membuktikan hal tersebut dengan meraih gelar doktor dari Program Studi Rekayasa Nuklir Institut Teknologi Bandung (ITB) di usianya yang ke-62 tahun.
Perjalanan akademik yang ia tempuh tidaklah mudah. Untuk mencapai prestasi ini, Endiah harus melewati serangkaian ujian, mulai dari tes potensi akademik hingga tes kemampuan bahasa Inggris atau TOEFL, sebagaimana mahasiswa pada umumnya. Perempuan yang akrab disapa Endiah ini sebelumnya telah menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Kimia di Universitas Diponegoro dan melanjutkan studi magister di bidang Rekayasa Energi Nuklir di ITB.
Pengalaman panjangnya di dunia riset nuklir menjadi modal berharga. Pada akhir 1980-an, ia tercatat terlibat langsung dalam proses commissioning Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy, yaitu tahap pengujian dan pembuktian bahwa reaktor dapat beroperasi sesuai dengan rancangan desainnya. Kala itu, ia masih bernaung di bawah Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
Kesempatan untuk melanjutkan studi doktoral datang setelah BATAN bergabung dengan BRIN. Meski usianya sudah tidak muda lagi, Endiah memutuskan untuk mengambil peluang tersebut dan kembali menjadi mahasiswa ITB. Ia menegaskan bahwa keputusan itu lahir dari cita-cita yang belum sempat ia tuntaskan sejak lama.
“Kesempatan itu seperti awan. Kalau lewat di depan kita, ya harus diraih,” ucapnya dalam pernyataan yang dikutip dari laman resmi ITB.
Dalam proses seleksi, Endiah mengaku tidak mendapatkan perlakuan khusus. Ia tetap harus memenuhi seluruh persyaratan akademik, termasuk Tes Potensi Akademik (TPA) dan tes bahasa Inggris. Menurutnya, hal itu menjadi pembuktian bagi dirinya sendiri.
“Usia 62 tahun tetap diminta lulus TPA dan TOEFL. Itu menjadi pembuktian bagi diri saya sendiri, apakah saya masih mampu secara kognitif untuk belajar,” ungkapnya.
Tantangan terbesar selama menjalani studi, menurut Endiah, bukanlah perbedaan usia dengan mahasiswa lain. Justru, ia harus berjuang menjaga ritme belajar dan mengelola stres. Oleh karena itu, ia menerapkan disiplin ketat dalam membagi waktu dan menghindari kebiasaan belajar mendadak.
“Kalau waktu muda mungkin masih bisa sistem kebut semalam. Tapi kalau usia saya sekarang, itu bisa membuat stres dan sakit. Semuanya harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari,” ujarnya.
Di tengah kesibukannya sebagai peneliti dan mahasiswa doktoral, Endiah tetap berusaha menjaga keseimbangan hidup. Ia mengaku senang berjalan-jalan bersama teman-temannya, aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan rumah, serta rutin melakukan olahraga ringan.
“Hidup itu harus seimbang. Jangan sampai sekolah terus, tapi kita malah tidak menikmati hidup,” katanya.
Selama menjalani kehidupan akademik, Endiah juga banyak belajar dari budaya diskusi di ITB. Ia kerap mengikuti seminar atau sidang mahasiswa lain untuk memperluas wawasan dan memahami cara dosen membedah suatu persoalan ilmiah secara mendalam.
“Hal yang terlihat sederhana bisa menjadi sangat ilmiah karena masukan dari dosen-dosen yang sangat mendalam,” kata Endiah.
Artikel Terkait
Pakar: Sistem Keamanan Perbankan RI Paling Kuat, Nasabah Diminta Waspadai Kebocoran Data Pihak Ketiga
Wamendagri Ribka Haluk Turun Langsung ke Wamena Kawal Perdamaian Konflik Antar Suku
Tolak Pinjamkan Motor ke Suami, Seorang Istri di Depok Jadi Korban KDRT
Puasa Asyura 2026 Diperkirakan Jatuh pada 26 Juni, Sunah Penghapus Dosa Setahun