IHSG Anjlok 4,32 Persen, Rupiah Tembus Rp17.668 per Dolar AS di Tengah Outflow Asing dan Ketegangan Global

- Senin, 18 Mei 2026 | 11:30 WIB
IHSG Anjlok 4,32 Persen, Rupiah Tembus Rp17.668 per Dolar AS di Tengah Outflow Asing dan Ketegangan Global

Pasar keuangan Indonesia mengalami guncangan hebat pada awal pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat ambles lebih dari empat persen, sementara nilai tukar rupiah menyentuh titik terendah sepanjang sejarah di level Rp17.668 per dolar Amerika Serikat. Tekanan ini dipicu oleh derasnya arus keluar dana asing serta meningkatnya ketegangan geopolitik global akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.55 WIB, Senin (18/5/2026), IHSG terkoreksi sebesar 4,32 persen ke posisi 6.432,96. Bahkan, pada sekitar pukul 10.00 WIB, indeks sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari satu tahun terakhir, yakni 6.428,93, setelah jatuh hingga 4,38 persen. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp9,54 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 16,18 miliar saham. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 720 saham melemah, 68 saham menguat, dan 171 saham bergerak stagnan. Tekanan terbesar berasal dari saham-saham konglomerasi dan bank-bank berkapitalisasi besar.

Di pasar valuta asing, rupiah juga kembali tertekan. Pada perdagangan pagi, mata uang Garuda sempat melemah lebih dari satu persen ke level Rp17.668 per dolar AS. Mengutip laporan Reuters, pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal domestik, transparansi pasar, serta independensi bank sentral. Sentimen eksternal turut memperburuk situasi setelah konflik Iran-AS kembali memicu ketidakpastian global dan mendorong harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Kondisi ini memicu aksi hindari risiko (risk off) terhadap aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tekanan terhadap pasar domestik juga diperparah oleh derasnya arus keluar dana asing setelah perubahan konstituen indeks global MSCI dan FTSE Russell. Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan, aliran dana keluar pada bulan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa periode terakhir.

“Pada bulan ini, terjadi outflow terbesar dari indeks MSCI maupun FTSE. Dari enam emiten berkapitalisasi besar yang keluar, yaitu DSSA dan BREN yang berada dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC), kemudian AMMN, AMRT, CUAN, dan TPIA,” ujar Michael, Senin (18/5/2026).

Dia menambahkan, tekanan pasar berpotensi berlanjut setelah FTSE Russell juga akan menghapus DSSA dari konstituennya. “Selain itu perlu diingat juga bahwa FTSE akan mengeluarkan DSSA dari konstituennya. Nilai outflow yang diperkirakan ada di kisaran Rp30 triliun,” katanya. Menurut Michael, arus dana keluar tersebut masih akan membebani pasar hingga periode rebalancing berikutnya pada Juni mendatang. “Yang akan dieksekusi oleh passive fund sampai pada bulan depan Juni, yaitu rebalancing selanjutnya,” tuturnya.

Dari sisi teknikal, Michael menilai IHSG kini berada dalam pola pelemahan besar setelah gagal mempertahankan level support penting. “IHSG memiliki pola head and shoulders besar, di mana gagal mempertahankan 6.850 sebagai support terakhir, dan menuju angka 6.000,” ujarnya.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya turut menanggapi pelemahan rupiah saat menghadiri agenda di Jawa Timur pada Sabtu (16/5/2026). Menurut dia, pelemahan kurs tidak terlalu berdampak bagi masyarakat desa karena mayoritas tidak bertransaksi menggunakan dolar AS. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) dilaporkan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas rupiah. Pelaku pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu pekan ini.

Menurut riset Phintraco Sekuritas, pergerakan pasar global sepanjang pekan ini masih dibayangi eskalasi konflik AS-Iran. Dari Amerika Serikat, investor menunggu risalah rapat The Fed (FOMC minutes) serta laporan keuangan NVIDIA Corporation untuk mencari petunjuk arah suku bunga setelah inflasi AS tercatat lebih tinggi dari perkiraan. Dari China, perhatian pasar tertuju pada data industrial production dan retail sales, sementara Bank Sentral China diperkirakan mempertahankan suku bunga pinjaman utama tenor satu tahun dan lima tahun masing-masing di level tiga persen dan 3,5 persen.

Sementara dari domestik, investor menunggu hasil RDG BI yang diperkirakan tetap menahan BI Rate di level 4,75 persen pada 20 Mei 2026. Selain itu, pasar juga mencermati rilis data pertumbuhan kredit, transaksi berjalan kuartal I-2026, serta M2 Money Supply pada pekan ini. Phintraco Sekuritas juga menyoroti keputusan FTSE Russell yang masih menunda pemeringkatan ulang indeks Indonesia secara penuh, termasuk kenaikan free float dan penambahan saham baru melalui IPO, hingga review September 2026 meski telah meninjau perkembangan pasar modal domestik.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar