Pola Makan Sehari-hari Terbukti Tingkatkan Risiko Kanker, Daging Olahan hingga Gorengan Jadi Pemicu Utama

- Minggu, 17 Mei 2026 | 09:30 WIB
Pola Makan Sehari-hari Terbukti Tingkatkan Risiko Kanker, Daging Olahan hingga Gorengan Jadi Pemicu Utama

Pola makan merupakan salah satu faktor signifikan yang memengaruhi risiko perkembangan kanker. Sejumlah riset mengindikasikan bahwa beberapa jenis makanan tertentu dapat memicu peradangan, obesitas, hingga paparan zat karsinogen yang berpotensi mempercepat pertumbuhan sel kanker. Kanker sendiri merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari genetik hingga gaya hidup, namun sebagian besar kasus dilaporkan berkaitan dengan faktor eksternal, termasuk kebiasaan konsumsi sehari-hari.

Daging olahan menjadi salah satu jenis makanan yang perlu diwaspadai. Produk seperti sosis, ham, kornet, salami, hot dog, dan dendeng melalui proses pengawetan berupa pengasapan, penggaraman, pengalengan, atau penambahan bahan pengawet tertentu. Proses tersebut dapat menghasilkan senyawa karsinogen yang berpotensi memicu kanker. Beberapa penelitian mengaitkan konsumsi daging olahan dengan peningkatan risiko kanker usus besar dan kanker lambung. Selain itu, penggunaan nitrit sebagai pengawet juga dapat membentuk senyawa berbahaya di dalam tubuh.

Sementara itu, makanan yang digoreng, terutama yang berbahan dasar tepung atau kentang, berpotensi menghasilkan akrilamida saat dimasak pada suhu tinggi. Zat ini terbentuk ketika makanan berpati dipanaskan melalui proses menggoreng, memanggang, atau membakar. Kentang goreng dan keripik termasuk contoh makanan dengan kadar akrilamida yang cukup tinggi. Sejumlah studi menemukan bahwa akrilamida dapat merusak DNA sel dan meningkatkan risiko kanker. Konsumsi gorengan berlebihan juga dikaitkan dengan obesitas dan diabetes tipe 2 yang dapat memicu peradangan dalam tubuh.

Di sisi lain, memasak makanan, terutama daging, dengan suhu terlalu tinggi juga dapat menghasilkan zat karsinogen seperti heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). Zat tersebut biasanya muncul pada makanan yang dibakar langsung di atas api, dipanggang terlalu lama, atau digoreng hingga gosong. Para ahli menyarankan penggunaan metode memasak yang lebih sehat, seperti merebus, mengukus, atau memanggang dengan suhu rendah, guna mengurangi pembentukan senyawa berbahaya tersebut.

Makanan dan minuman tinggi gula serta karbohidrat olahan, seperti roti putih, nasi putih, minuman manis, sereal tinggi gula, hingga kue manis, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker. Konsumsi berlebihan dapat memicu obesitas dan diabetes tipe 2 yang meningkatkan stres oksidatif serta peradangan dalam tubuh. Kondisi tersebut diketahui berhubungan dengan beberapa jenis kanker, seperti kanker payudara, kanker rahim, dan kanker usus besar. Sebagai alternatif, disarankan memilih sumber karbohidrat yang lebih sehat, seperti gandum utuh, nasi merah, dan roti whole wheat.

Konsumsi alkohol juga diketahui dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker. Saat diproses dalam tubuh, alkohol menghasilkan zat yang bersifat karsinogenik. Paparan alkohol dalam jangka panjang dikaitkan dengan risiko kanker hati, kanker payudara, kanker mulut, hingga kanker usus besar.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags