Mantan Dirjen WHO: Hantavirus Bukan Ancaman Baru Seperti Covid-19, Sudah Dikenal Sejak 1970-an

- Senin, 11 Mei 2026 | 19:00 WIB
Mantan Dirjen WHO: Hantavirus Bukan Ancaman Baru Seperti Covid-19, Sudah Dikenal Sejak 1970-an

Di tengah kegaduhan pemberitaan mengenai wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius, publik diingatkan bahwa penyakit ini bukanlah ancaman baru seperti Covid-19. Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa virus tersebut telah dikenal dunia medis sejak puluhan tahun lalu. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah diskusi di podcast Hola Dok by Trijaya FM pada Senin, 11 Mei 2026.

Menurut Prof. Tjandra, Hantavirus pertama kali tercatat menginfeksi manusia pada sekitar tahun 1970-an di Korea Selatan. Nama virus itu sendiri, jelasnya, diambil dari nama sebuah sungai di negara tersebut. “Hanta ini sebenarnya nama sungai di Korea Selatan pada waktu pertama kali keluar. Jadi penting dipahami, ini bukan virus baru, ini bukan seperti Covid-19. Ini sudah ada sejak 1970-an,” ujarnya. Ia menambahkan, kemungkinan virus tersebut sudah ada jauh sebelum era itu, namun dokumentasi medis terhadap kasus pada manusia baru dimulai pada periode tersebut.

Fenomena penamaan virus berdasarkan lokasi penemuan pertama bukanlah hal asing. Prof. Tjandra mencontohkan Virus Nipah yang juga dinamai sesuai nama desa tempat pertama kali diidentifikasi. “Seperti Nipah Virus juga, itu ternyata nama desa. Hanta juga begitu,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Hantavirus terbagi ke dalam dua kelompok besar yang memiliki karakteristik berbeda, yaitu tipe Asia-Eropa dan tipe Amerika. Wabah yang kini menjadi sorotan di kapal pesiar tersebut, menurut Prof. Tjandra, termasuk dalam tipe Amerika yang dikenal lebih berbahaya. “Yang terjadi sekarang ini adalah tipe Amerika, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS. Pulmonary artinya paru-paru,” jelasnya.

Jenis HPS ini menyerang sistem pernapasan dan memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi. Sementara itu, tipe yang lebih umum ditemukan di Asia, termasuk Indonesia, dikenal sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Jenis ini lebih banyak menyerang ginjal dan gejalanya menyerupai demam berdarah.

Wabah di kapal pesiar MV Hondius mulai menarik perhatian dunia sejak April lalu. Kasus tersebut akhirnya dilaporkan ke WHO pada 2 Mei karena dinilai memiliki potensi penyebaran lintas negara. Prof. Tjandra mengungkapkan bahwa setidaknya ada tiga alasan utama WHO memasukkan kasus ini ke dalam Disease Outbreak News. “Karena ada banyak kewarganegaraan di kapal, kapal itu transit ke beberapa negara, dan sebagian penumpang sudah turun. Jadi ada potensi penyebaran internasional,” jelasnya.

Situasi di atas kapal memicu kepanikan setelah sejumlah penumpang membagikan video dan cerita mengenai kondisi di dalam kapal melalui media sosial. “Ada rasa panik dan gelisah karena informasi menyebar cepat sekali di media sosial,” kata Prof. Tjandra. Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak bereaksi berlebihan. Ia menekankan bahwa Hantavirus bukanlah penyakit baru dan dunia medis telah lama mengenalnya, sehingga penanganan dapat dilakukan berdasarkan pengetahuan yang sudah ada.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags