Trump Kecam Respons Iran terhadap Proposal Damai, Sebut ‘Sama Sekali Tidak Dapat Diterima’

- Senin, 11 Mei 2026 | 06:51 WIB
Trump Kecam Respons Iran terhadap Proposal Damai, Sebut ‘Sama Sekali Tidak Dapat Diterima’

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan kecaman keras terhadap respons yang diberikan Iran atas proposal perdamaian yang diajukan pemerintahannya. Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform Truth Social, Trump secara terbuka menyatakan kekecewaannya dan menyebut jawaban Teheran sama sekali tidak dapat diterima.

“Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut sebagai ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya, SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!” tulis Trump dalam unggahannya, Senin (11/5/2026). Pernyataan bernada tinggi ini muncul setelah Kantor Berita Resmi Iran, IRNA, melaporkan bahwa para negosiator Teheran telah menyerahkan tanggapan resmi kepada Amerika Serikat pada hari sebelumnya, Minggu (10/5/2026). Hingga saat ini, Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait perkembangan tersebut.

Di sisi lain, Pemerintah Pakistan turut mengonfirmasi telah menerima salinan respons dari Iran. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, bersama Panglima Angkatan Darat Asim Munir dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar, diketahui memainkan peran sebagai mediator dalam pembicaraan damai antara pejabat Teheran dan Washington DC. Keterlibatan Pakistan ini menunjukkan upaya diplomasi regional yang lebih luas untuk meredakan ketegangan yang kian memanas.

Sejumlah media internasional melaporkan bahwa proposal yang diajukan pemerintahan Trump mencakup penghentian sementara program pengayaan uranium oleh Iran. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat bersedia mencabut sanksi yang selama ini membebani perekonomian Iran. Selain itu, kedua negara disebut-sebut akan sepakat untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu titik strategis perdagangan energi dunia.

Namun, laporan dari The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa respons Iran tidak sejalan dengan tuntutan Washington terkait pengayaan uranium. Sebaliknya, proposal dari Teheran lebih menitikberatkan pada penghentian perang serta pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap. Iran juga mengusulkan agar sebagian uranium yang telah diperkaya diencerkan, sementara sisanya dipindahkan ke negara ketiga. Menariknya, uranium tersebut akan dikembalikan ke Iran apabila negosiasi gagal atau Amerika Serikat keluar dari perjanjian di kemudian hari.

Situasi ini tidak terlepas dari konteks konflik yang lebih besar. Sebelumnya, militer Iran mengancam akan menargetkan negara-negara nonsekutu yang melintasi Selat Hormuz dan telah menempatkan ranjau sejak konflik dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada 28 Februari. Sementara itu, Angkatan Laut AS telah memblokade pelabuhan Iran sejak 13 April, semakin memperkeruh suasana di kawasan tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Jumat (8/5/2026) lalu telah menegaskan sikap negaranya. Dalam pernyataannya, Araghchi menekankan bahwa Iran tidak akan tunduk terhadap tekanan dalam proses negosiasi dengan Amerika Serikat.

“Iran tidak akan pernah tunduk pada tekanan,” tegas Araghchi, menegaskan posisi keras Teheran di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar