Lena Karolina Dirikan Sekolah Eksplorasi di Jakarta Timur, Tawarkan Alternatif Pendidikan yang Memanusiakan

- Senin, 11 Mei 2026 | 07:45 WIB
Lena Karolina Dirikan Sekolah Eksplorasi di Jakarta Timur, Tawarkan Alternatif Pendidikan yang Memanusiakan

Kegelisahan terhadap sistem pendidikan yang dinilai terlalu berorientasi pada hafalan, angka, dan ujian mendorong Lena Karolina untuk mendirikan ruang belajar alternatif. Bersama Yudha Dwi Hapsara, ia meluncurkan Sekolah Eksplorasi di Jakarta Timur, sebuah lembaga yang mengedepankan eksplorasi diri dan keterhubungan dengan kehidupan nyata. Pendidikan, menurut Lena, semestinya tidak hanya mencetak nilai akademis, tetapi juga menumbuhkan kemandirian, interaksi sosial, dan kesadaran berkontribusi bagi masyarakat.

“Anak memang harus mendapatkan makna dari pembelajaran. Bukan hanya di-drill tentang materi dan rumus. Di Sekolah Eksplorasi ini kami mendekatkan bahwa di dunia nyata, yang penting bukanlah ranking atau nilai, melainkan proses kehidupan bersama masyarakat,” ujar Lena dalam program Sosok, beberapa waktu lalu.

Sekolah Eksplorasi menerima peserta didik jenjang SMP dan SMA dengan format kelas mikro yang hanya berisi 12 hingga 15 anak per kelas. Model ini, menurut Lena, memungkinkan setiap siswa mendapatkan perhatian lebih dan bimbingan yang personal. Dalam proses belajarnya, anak-anak diajak menjelajahi tiga ruang eksplorasi utama. Pertama, ruang realitas, tempat mereka memahami isu-isu sekitar dan mengolahnya menjadi karya. Kedua, ruang peran, yang memberi kesempatan untuk mencoba berbagai peran dalam kehidupan, mulai dari karier, rumah tangga, sekolah, warga negara, hingga peran ekologis. Ketiga, ruang potensi diri, yang dirancang untuk membantu siswa mengenali kepribadian, minat, bakat, serta keresahan pribadi. Sekolah ini juga memfasilitasi ijazah kesetaraan bagi peserta yang membutuhkan.

Sementara itu, Yudha Dwi Hapsara, rekan Lena sekaligus pendiri Sekolah Eksplorasi, mengungkapkan bahwa perancangan desain pembelajaran yang tepat memakan waktu bertahun-tahun. Ia dan Lena sepakat untuk memandang setiap peserta didik sebagai manusia utuh. Perspektif inilah yang kemudian menjadi fondasi kurikulum yang mereka susun.

“Apakah dia sebagai manusia utuh yang nantinya akan menjalani berbagai peran kehidupan seperti yang kita lakukan, atau kita hanya melihat dia sebagai salah satu komponen dari mesin pertumbuhan ekonomi negara di masa depan? Dua perspektif itu saja sudah membuat rancangan belajarnya berbeda. Kami memilih jalan untuk menerima anak-anak ini sebagai manusia yang utuh,” tutur Yudha.

Sebagai co-founder, kepala sekolah, dan fasilitator, Lena tidak hanya mengajar, tetapi juga memperjuangkan dan mempromosikan alternatif pendidikan di Indonesia. Meskipun tidak semua orang memahami pendekatan yang ia terapkan, ia tetap melangkah maju. Baginya, anak-anak berhak mendapatkan pendidikan yang tidak sekadar menekankan angka, nilai, dan hafalan, tetapi juga memanusiakan mereka.

“Kalau dianggap main-main, ya bermain itu adalah proses belajar. Masyarakat harus melihat bahwa proses pembelajaran tidak hanya sekolah yang bersifat akademis. Harus ada hal baru, dan harus tumbuh alternatif yang mungkin dianggap tidak serius. Tapi justru melalui alternatif inilah ruang keseriusan kami, bagaimana manusia dalam dunia pendidikan benar-benar dimanusiakan,” pungkas Lena.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags