JAKARTA – Ketegangan di kawasan Teluk tampaknya memasuki babak baru. Pakistan, dalam langkah yang cukup mencolok, baru saja mendepak pasukan dan sejumlah jet tempurnya ke Arab Saudi. Menurut keterangan resmi dari Kerajaan, kedatangan kontingen militer ini dimaksudkan untuk memperkuat keamanan negara mereka.
Personel dan pesawat tempur itu mendarat di Pangkalan Udara King Abdulaziz pada Sabtu lalu. Demikian siaran dari Kementerian Pertahanan Arab Saudi yang dikutip media.
“Pengerahan ini bertujuan meningkatkan koordinasi militer dan kesiapan operasional,” jelas pernyataan itu, seraya menambahkan bahwa langkah ini juga untuk mendukung stabilitas, baik di tingkat regional maupun internasional.
Latar belakangnya, ini bukan aksi spontan. Semua berangkat dari sebuah perjanjian kerja sama pertahanan yang diteken kedua negara pada September tahun lalu. Inti pakta itu keras: serangan terhadap salah satu pihak, akan dianggap sebagai serangan terhadap keduanya.
Nah, pengiriman bantuan militer ini terjadi dalam atmosfer yang cukup panas. Beberapa waktu sebelumnya, serangan yang diklaim berasal dari Iran menghantam infrastruktur energi Saudi dan menewaskan seorang warganya. Serangan itulah yang memicu kecaman keras dari berbagai pihak.
Pakistan sendiri tak tinggal diam. Mereka secara terbuka mengutuk serangan rudal dan drone pekan lalu itu. Pemerintah Islamabad menyebutnya sebagai “eskalasi berbahaya” yang berpotensi merusak perdamaian di kawasan.
Menariknya, sebelumnya Iran justru menyambut baik perjanjian pertahanan antara Saudi dan Pakistan. Tapi tampaknya, sambutan hangat itu kini memudar setelah aksi-aksi militer belakangan ini.
Di sisi lain, laporan-laporan keuangan mengungkap dimensi lain dari hubungan ini. Islamabad disebut-sebut akan mendapat bantuan keuangan sekitar 5 miliar dolar AS dari Riyadh dan Doha. Bantuan ini datang tepat saat Pakistan bersiap menunaikan komitmen pembayaran utang yang besar.
Beban itu nyata. Negeri itu harus melunasi pembayaran sekitar 3,5 miliar dolar AS kepada Uni Emirat Arab pada akhir bulan ini. Tak heran jika kemudian Islamabad juga memohon bantuan lebih lanjut dari Saudi, termasuk perpanjangan fasilitas pembiayaan minyak yang hampir habis masa berlakunya.
Jadi, selain soal keamanan, ada pula benang merah ekonomi yang mengikat dua sekutu ini. Semuanya berjalan beriringan di tengah situasi Teluk yang semakin bergejolak.
Artikel Terkait
BMKG Deteksi Siklon Tropis Jangmi di Laut Filipina, Picu Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia
Baznas Salurkan Daging Dam Haji ke Warga Kurang Mampu di Pemalang
Maybank Indonesia Raup Laba Rp299 Miliar di Kuartal I 2026, Kredit Tumbuh 5,4 Persen
Israel Tutup Paksa Masjid Ibrahimi di Hebron Tanpa Batas Waktu, Palestina Kecam Pelanggaran Kebebasan Beribadah