Jurnalisme Disebut Cahaya di Saat Gelap di Tengah Guncangan Industri Media

- Minggu, 12 April 2026 | 15:30 WIB
Jurnalisme Disebut Cahaya di Saat Gelap di Tengah Guncangan Industri Media

Industri media lagi-lagi terhuyung-huyung. Tekanan datang dari mana-mana: disrupsi digital yang belum usai, ditambah lagi gelombang baru kecerdasan buatan. Dampaknya nyata, dari pendapatan yang terus merosot sampai kepercayaan publik yang ikut terkikis. Di tengah situasi serba sulit ini, ada satu pertanyaan besar: masih relevankah jurnalisme?

Nah, pertanyaan itu coba dijawab dalam sebuah talkshow bertajuk “Babak Belur Industri Media: Masihkah Jurnalisme Dibutuhkan?” Acara itu bagian dari Pesta Media AJI Jakarta 2026, digelar di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, pada suatu Minggu di awal April 2026.

Tiga pembicara hadir memberi pandangan. Ada Wahyu Dhyatmika dari Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Abdul Manan dari Dewan Pers, dan Luviana Ariyanti, Pemimpin Redaksi Konde.co.

Luviana bicara dengan keyakinan penuh. Baginya, peran jurnalisme justru kian krusial, terutama saat krisis melanda. Ia bukan sekadar penyampai info, tapi lebih dari itu sebuah proses mencari tahu yang melibatkan verifikasi dan turun langsung ke lapangan.

“Kalau di rumah kita tidak mendapatkan apa-apa. Jadi memang harus proses mencari fakta, terus wawancara, dan verifikasi kondisinya seperti apa. Jadi ketika gelap, makanya saya menyebut jurnalisme adalah cahaya di saat gelap,” ucap Luviana.

Ia juga menekankan bahwa jurnalisme punya tugas mulia: memberi suara pada mereka yang kerap terpinggirkan, yang jarang dapat tempat di pemberitaan arus utama. Menurutnya, kerja jurnalistik mengajarkan untuk memikirkan orang lain, bukan cuma ekspresi diri seperti yang ramai di media sosial.

“Di jurnalisme itu mengajari saya, mengajari jurnalis-jurnalis cara berpikir memikirkan orang, memberikan ruang pada orang lain, dan berada di balik-balik peristiwa itu, sehingga menyebabkan peristiwa itu penting,” tambahnya.

Di sisi lain, Wahyu Dhyatmika menyoroti tekanan konkret yang datang dari AI. Ia mengungkap fakta yang cukup mengerikan: dalam setahun terakhir, trafik media menyusut drastis.

“Jadi hampir separuh dari page views media itu hilang di 2025 kemarin,” katanya.

Parahnya, saat trafik asli turun, media justru dibebani lonjakan aktivitas bot atau crawler AI yang menyedot konten. Biaya operasional pun melambung. Wahyu menyebut situasi ini sebagai tekanan ganda, atau "double squeeze". Pendapatan dari iklan berbasis page view anjlok, sementara biaya server malah naik karena ulah bot.

Lalu solusinya apa? Wahyu mendorong pergeseran model bisnis. Dari yang mengandalkan iklan, beralih ke yang berbasis pembaca. Media, katanya, harus kembali menguasai distribusi dan membangun hubungan langsung dengan audiens. Hanya dengan begitu mereka bisa bertahan.

Sementara itu, Abdul Manan dari Dewan Pers punya sudut pandang lain. Ia yakin masalah utamanya ada di model bisnis, bukan pada nilai jurnalisme itu sendiri. Di tengah banjir informasi dan maraknya AI, publik justru semakin haus akan informasi yang terverifikasi dan bisa dipertanggungjawabkan.

Wahyu sependapat. Teknologi memang mempermudah segalanya, hingga informasi membanjir. Tapi yang sering hilang adalah konteks, keaslian, dan yang paling penting rasa percaya.

Jadi, jawabannya? Meski industri terlihat babak belur, esensi jurnalisme justru makin dibutuhkan. Sebagai cahaya di tengah gelapnya informasi, dan penjaga autentisitas di era di mana semua serba mudah, namun serba tidak pasti.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar