Maret 2026 menjadi bulan penuh kehati-hatian bagi para gubernur bank sentral di berbagai belahan dunia. Di tengah memanasnya ketegangan geopolitik khususnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel sebagian besar lembaga moneter itu memilih untuk berdiam diri. Mereka menahan suku bunga kebijakan, menunda langkah-langkah pelonggaran yang sebelumnya mungkin sudah diincar.
Langkah ini, seperti dilaporkan CNA awal April lalu, bukan tanpa alasan. Ada dua kekuatan yang saling tarik-menarik: ancaman inflasi yang bisa melonjak dan prospek pertumbuhan ekonomi yang justru melemah. Situasinya memang rumit. Harga minyak yang bergejolak, ditambah risiko perang yang tak jelas ujungnya, membuat keputusan moneter jadi seperti berjalan di atas tali.
“Dibutuhkan waktu bagi bank-bank sentral untuk menilai besarnya guncangan (harga minyak),”
begitu penjelasan analis JPMorgan dalam sebuah laporan. Mereka butuh jeda, butuh waktu untuk melihat arah angin.
Kalau dilihat, negara-negara maju hampir seragam bersikap. Dari sembilan pertemuan kebijakan yang digelar bulan itu, delapan di antaranya berakhir dengan keputusan suku bunga tak berubah. Hanya Australia yang bergerak, menaikkan biaya pinjam sebesar 25 basis poin. Untuk pemotongan suku bunga? Nihil. Tidak ada satu pun negara maju utama yang berani memangkasnya di tengah situasi seperti ini.
Di sisi lain, dunia berkembang menunjukkan sedikit variasi, meski sikap hati-hati tetap dominan. Dari 15 pertemuan, sepuluh bank sentral memilih bertahan. Empat lainnya baru melakukan pemotongan, itupun dengan porsi yang sangat moderat. Tapi ada satu pengecualian yang mencolok: Kolombia. Berbeda dengan yang lain, mereka justru memperketat kebijakan secara agresif dengan menaikkan suku bunga acuan hingga 100 basis poin.
Yang menarik, beberapa bank sentral secara gamblang menyebutkan sumber ketidakpastian ini. Bank Indonesia, misalnya, bersama dengan Afrika Selatan, Filipina, Hongaria, dan Republik Ceko, secara eksplisit menyoroti konflik di Timur Tengah. Mereka khawatir dampaknya terhadap inflasi, dan itulah yang jadi alasan untuk menunda atau membatasi rencana pemotongan suku bunga. Intinya, perang di sana bukan cuma soal geopolitik, tapi sudah merambah ke ruang rapat kebijakan moneter kita semua.
Artikel Terkait
Arus Balik Iduladha: 98 Ribu Kendaraan Masuk Jakarta, Lonjakan Tertinggi di Tol Cikunir
Zdrink, UMKM Binaan BRI, Buktikan Ide Sederhana dari Kebiasaan Anak Sekolah Bisa Tumbuh Jadi Bisnis Minuman Cokelat
PBB Kecam Rencana Israel Perluas Pendudukan di Gaza hingga 70 Persen
Pemprov DKI Hapus Denda Pajak Kendaraan Bermotor Mulai 1 Juni hingga 31 Agustus 2026