Maret 2026 menjadi bulan penuh kehati-hatian bagi para gubernur bank sentral di berbagai belahan dunia. Di tengah memanasnya ketegangan geopolitik khususnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel sebagian besar lembaga moneter itu memilih untuk berdiam diri. Mereka menahan suku bunga kebijakan, menunda langkah-langkah pelonggaran yang sebelumnya mungkin sudah diincar.
Langkah ini, seperti dilaporkan CNA awal April lalu, bukan tanpa alasan. Ada dua kekuatan yang saling tarik-menarik: ancaman inflasi yang bisa melonjak dan prospek pertumbuhan ekonomi yang justru melemah. Situasinya memang rumit. Harga minyak yang bergejolak, ditambah risiko perang yang tak jelas ujungnya, membuat keputusan moneter jadi seperti berjalan di atas tali.
“Dibutuhkan waktu bagi bank-bank sentral untuk menilai besarnya guncangan (harga minyak),”
begitu penjelasan analis JPMorgan dalam sebuah laporan. Mereka butuh jeda, butuh waktu untuk melihat arah angin.
Artikel Terkait
Lonjakan Harga Minyak Picu Kenaikan Tarif dan Dilema bagi Maskapai Penerbangan
Kemenperin Soroti Dampak Ketegangan Timur Tengah ke Rantai Pasok Industri
FIFA Pertimbangkan Perluasan Peserta Piala Dunia Menjadi 64 Tim
Diskon Tiket Kapal Mudik Lebaran 2026 Tembus Target, 467 Ribu Penumpang Terbantu