Washington diguncang kabar mengejutkan. Menurut laporan eksklusif Wall Street Journal, Presiden Donald Trump diam-diam mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran. Bukan perang total, melainkan serangan terbatas sebagai pukulan pertama. Tujuannya jelas: memaksa Teheran berunding soal program nuklirnya yang kontroversial.
Nah, rencana ini disebut-sebut bisa dieksekusi dalam hitungan hari tentu saja jika Trump memberi lampu hijau. Namun begitu, ancaman di baliknya jauh lebih besar. Jika Iran tetap bersikeras melanjutkan pengayaan uranium, AS dikabarkan siap melancarkan operasi militer skala penuh. Operasi yang, dalam skenario terburuk, berpotensi menggulingkan pemerintahan di sana.
Lingkaran dalam Gedung Putih yang enggan disebut namanya mengungkapkan, pertemuan penting sudah digelar. Pada Rabu lalu, Trump mengumpulkan para penasihat utamanya di Ruang Situasi. Mereka membicarakan langkah-langkah apa saja yang tersedia di meja, sambil menimbang risikonya masing-masing.
“Iran punya waktu 10 sampai 15 hari untuk capai kesepakatan,” ujar Trump sehari kemudian, dalam pertemuan Dewan Perdamaian. Kalimat itu menggantung, lebih mirip ultimatum ketimbang ajakan berdiplomasi.
Di sisi lain, persiapan militer nyatanya sudah berjalan. Dalam beberapa pekan terakhir, Pentagon dikabarkan telah mengerahkan lebih dari seratus pesawat tempur dan selusin kapal perang ke kawasan Timur Tengah. Termasuk di antaranya dua kapal induk yang mengangkut kekuatan udara besar-besaran. Menurut sejumlah analis, aset yang sudah dikumpulkan itu cukup untuk mendukung kampanye militer intensif selama beberapa minggu.
Tuntutan Washington pada Iran terbilang berat. Pertama, AS meminta semua pasokan uranium yang diperkaya dipindahkan keluar dari Iran. Kedua, persediaan rudal jarak jauh mereka harus dibatasi. Dan yang tak kalah penting, Iran diharuskan menghentikan dukungannya terhadap kelompok-kelompok militan di kawasan, seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.
Sayangnya, hingga detik ini Iran tampaknya belum mau mengalah. Setelah putaran pembicaraan di Jenewa awal pekan ini, pihak Iran hanya berjanji akan menawarkan proposal tertulis baru dalam dua minggu ke depan. Sebuah respons yang mungkin dianggap Washington sebagai aksi mengulur waktu.
Jadi, situasinya benar-benar genting. Di satu sisi, ada ancaman serangan terbatas yang bisa meletus kapan saja. Di sisi lain, ada janji proposal yang belum jelas isinya. Semuanya kini bergantung pada hitungan hari dan keputusan satu orang di Oval Office.
Artikel Terkait
Pengiriman Perdana Pipa Dimulai, Proyek Gas Dusem Rp6,5 Triliun Masuki Fase Konstruksi Intensif
Indonesia Ditunjuk sebagai Wakil Komandan Pasukan Penjaga Perdamaian Internasional di Gaza
Trump Puji Kepemimpinan Prabowo, Indonesia Siap Kirim 8.000 Pasukan Perdamaian ke Gaza
Tesla Pangkas Harga Cybertruck dan Model Y Hadapi Persaingan Global