Di sisi lain, persiapan militer nyatanya sudah berjalan. Dalam beberapa pekan terakhir, Pentagon dikabarkan telah mengerahkan lebih dari seratus pesawat tempur dan selusin kapal perang ke kawasan Timur Tengah. Termasuk di antaranya dua kapal induk yang mengangkut kekuatan udara besar-besaran. Menurut sejumlah analis, aset yang sudah dikumpulkan itu cukup untuk mendukung kampanye militer intensif selama beberapa minggu.
Tuntutan Washington pada Iran terbilang berat. Pertama, AS meminta semua pasokan uranium yang diperkaya dipindahkan keluar dari Iran. Kedua, persediaan rudal jarak jauh mereka harus dibatasi. Dan yang tak kalah penting, Iran diharuskan menghentikan dukungannya terhadap kelompok-kelompok militan di kawasan, seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.
Sayangnya, hingga detik ini Iran tampaknya belum mau mengalah. Setelah putaran pembicaraan di Jenewa awal pekan ini, pihak Iran hanya berjanji akan menawarkan proposal tertulis baru dalam dua minggu ke depan. Sebuah respons yang mungkin dianggap Washington sebagai aksi mengulur waktu.
Jadi, situasinya benar-benar genting. Di satu sisi, ada ancaman serangan terbatas yang bisa meletus kapan saja. Di sisi lain, ada janji proposal yang belum jelas isinya. Semuanya kini bergantung pada hitungan hari dan keputusan satu orang di Oval Office.
Artikel Terkait
Pemerintah dan Arab Saudi Pastikan Haji 2026 Aman dan Biaya Turun Rp2 Juta
Pemerintah Jamin Biaya Haji 2026 Tak Naik Meski Ada Dampak Konflik Timur Tengah
Pemerintah Alokasikan Rp1,77 Triliun APBN untuk Tanggung Kenaikan Biaya Haji Akibat Lonjakan Avtur
Presiden Prabowo Tegaskan Kunjungan Luar Negeri untuk Jamin Pasokan Minyak