Prabowo dan Trump Tandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas Tarif untuk Tekstil Indonesia-AS

- Jumat, 20 Februari 2026 | 12:20 WIB
Prabowo dan Trump Tandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas Tarif untuk Tekstil Indonesia-AS

MURIANETWORK.COM - Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perjanjian perdagangan bersejarah di Washington DC, Kamis (19 Februari 2026). Kesepakatan yang disebut Agreement on Reciprocal Trade (ART) ini memberikan akses bebas tarif bagi produk tekstil dan pakaian jadi Indonesia ke pasar AS, sebuah terobosan yang diharapkan mampu mendongkrak ekspor dan menjaga lapangan kerja bagi jutaan pekerja di dalam negeri.

Manfaat Langsung bagi Pekerja dan Industri

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan bahwa dampak langsung dari perjanjian ini akan sangat terasa di tingkat lapangan. Dengan dihapuskannya hambatan tarif, produk tekstil Indonesia diproyeksikan menjadi lebih kompetitif di pasar global, khususnya di Amerika Serikat.

Hal ini pada gilirannya berpotensi meningkatkan kapasitas produksi dan menjaga stabilitas penyerapan tenaga kerja di sektor yang padat karya tersebut.

Airlangga Hartarto menjelaskan skala manfaat dari kebijakan ini. "Hal ini tentunya memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini. Dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini akan sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia," ujarnya.

Ekspansi ke Pasar yang Lebih Luas

Selain manfaat jangka pendek, kesepakatan ini membuka pintu untuk ekspansi yang lebih ambisius. Airlangga memaparkan bahwa pasar AS memiliki ukuran yang sangat besar, kira-kira 28 kali lipat dari pasar domestik Indonesia. Akses yang lebih mudah ini menjadi peluang emas bagi industri untuk meningkatkan penetrasi.

Dengan optimisme yang terjaga, pemerintah menargetkan lompatan signifikan dalam nilai ekspor dalam satu dekade ke depan.

"Indonesia merencanakan untuk mengembangkan ekspor industri tekstil dari sekitar USD4 miliar ke USD40 miliar dalam 10 tahun, jadi saya pikir pembukaan pasar ini sangat perlu untuk industri Indonesia," tutur Airlangga.

Jalan Panjang Negosiasi

Pencapaian kesepakatan yang menguntungkan ini bukanlah proses yang instan. Ia merupakan hasil dari negosiasi intensif yang berlangsung sejak AS mengumumkan kebijakan tarif resiprokal pada April 2025. Awalnya, Indonesia menghadapi tarif setinggi 32 persen.

Melalui diplomasi ekonomi yang gigih, kedua belah pihak akhirnya menyepakati tarif dasar resiprokal sebesar 19 persen, sebelum Indonesia berhasil mengamankan konsesi tarif nol hingga 10 persen untuk produk-produk tertentu melalui perjanjian ART ini. Proses ini menggambarkan perjuangan diplomasi yang alot untuk mencapai titik yang saling menguntungkan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar