Selain manfaat jangka pendek, kesepakatan ini membuka pintu untuk ekspansi yang lebih ambisius. Airlangga memaparkan bahwa pasar AS memiliki ukuran yang sangat besar, kira-kira 28 kali lipat dari pasar domestik Indonesia. Akses yang lebih mudah ini menjadi peluang emas bagi industri untuk meningkatkan penetrasi.
Dengan optimisme yang terjaga, pemerintah menargetkan lompatan signifikan dalam nilai ekspor dalam satu dekade ke depan.
"Indonesia merencanakan untuk mengembangkan ekspor industri tekstil dari sekitar USD4 miliar ke USD40 miliar dalam 10 tahun, jadi saya pikir pembukaan pasar ini sangat perlu untuk industri Indonesia," tutur Airlangga.
Jalan Panjang Negosiasi
Pencapaian kesepakatan yang menguntungkan ini bukanlah proses yang instan. Ia merupakan hasil dari negosiasi intensif yang berlangsung sejak AS mengumumkan kebijakan tarif resiprokal pada April 2025. Awalnya, Indonesia menghadapi tarif setinggi 32 persen.
Melalui diplomasi ekonomi yang gigih, kedua belah pihak akhirnya menyepakati tarif dasar resiprokal sebesar 19 persen, sebelum Indonesia berhasil mengamankan konsesi tarif nol hingga 10 persen untuk produk-produk tertentu melalui perjanjian ART ini. Proses ini menggambarkan perjuangan diplomasi yang alot untuk mencapai titik yang saling menguntungkan.
Artikel Terkait
Ronaldo Diduga Ucapkan Bismillah Sebelum Eksekusi Penalti, Tuai Sorotan
Lurah Kalisari Minta Maaf, Petugas Diberi Sanksi Usai Unggah Foto AI untuk Laporan Parkir Liar
Libur Panjang Paskah 2026: 340 Ribu Penumpang Padati Kereta Jarak Jauh di Daop 1 Jakarta
Cara Cek Penerima PKH Tahap 2 dan Besaran Bantuannya