MURIANETWORK.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kontribusi dana sebesar 10 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp169 triliun, untuk mendukung Dewan Perdamaian, sebuah lembaga internasional baru yang ia bentuk. Pengumuman ini disampaikan dalam pertemuan perdana dewan tersebut di Washington DC, yang dihadiri perwakilan dari sekitar 40 negara, dengan fokus utama pada upaya rekonstruksi Gaza dan menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Komitmen Dana untuk Gaza dan Perdamaian
Pertemuan di Institut Perdamaian AS pada Kamis (20/2/2025) itu menjadi panggung bagi Trump untuk menegaskan kembali komitmennya di kawasan tersebut. Selain janji dana dari AS, sembilan negara lain juga disebutkan telah berkomitmen menyumbang total 7 miliar dolar AS untuk keamanan dan rekonstruksi di Jalur Gaza. Langkah ini digambarkan sebagai fondasi awal untuk sebuah proyek perdamaian ambisius.
Dalam pidatonya, Trump menekankan visi kolektif untuk mengakhiri konflik yang telah berlarut-larut. "Bersama-sama kita dapat mencapai impian untuk membawa harmoni abadi ke wilayah yang telah lama menghadapi perang, penderitaan, dan pembantaian," ujarnya dengan penuh keyakinan.
Peringatan Keras terhadap Iran
Namun, di balik pesan perdamaian, Trump juga menyampaikan peringatan keras yang mengisyaratkan eskalasi ketegangan. Presiden AS itu memberikan ultimatum kepada Iran, menyebutkan kemungkinan tindakan militer dalam waktu dekat jika ancaman terhadap stabilitas kawasan terus berlanjut.
“Mereka tidak dapat terus mengancam stabilitas seluruh kawasan dan mereka harus membuat kesepakatan,” tegas Trump. Pernyataan ini memberikan nuansa berbeda pada pertemuan tersebut, mengingatkan semua pihak pada kompleksitas dan tantangan berat yang masih menghadang di lapangan.
Dengan komitmen dana yang besar dan peringatan yang tegas, langkah kebijakan luar negeri AS di bawah kepemimpinan Trump kali ini kembali menarik perhatian dunia. Observasi dari berbagai kalangan menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian di Timur Tengah tetap berliku, membutuhkan lebih dari sekadar komitmen finansial, tetapi juga diplomasi yang berkelanjutan dan kehati-hatian dalam membaca dinamika regional.
Artikel Terkait
Pengiriman Perdana Pipa Dimulai, Proyek Gas Dusem Rp6,5 Triliun Masuki Fase Konstruksi Intensif
Indonesia Ditunjuk sebagai Wakil Komandan Pasukan Penjaga Perdamaian Internasional di Gaza
Trump Puji Kepemimpinan Prabowo, Indonesia Siap Kirim 8.000 Pasukan Perdamaian ke Gaza
Tesla Pangkas Harga Cybertruck dan Model Y Hadapi Persaingan Global