Lebih dari sekadar menyepakati angka tarif, strategi yang dibahas juga menyentuh aspek jangka panjang. Pemerintah ingin agar kerja sama dengan AS tidak hanya meningkatkan ekspor, tetapi juga mendorong hilirisasi dan daya saing industri lokal. Hal ini dianggap krusial untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Teddy Indra Wijaya menegaskan kembali poin penting dari arahan presiden. “Presiden menginginkan setiap kebijakan yang diambil segera memberikan keuntungan konkret bagi Indonesia,” tuturnya.
Tim Perundingan yang Solid
Untuk merumuskan strategi tersebut, Presiden Prabowo didampingi oleh tim ekonomi inti Kabinet Merah Putih. Hadir dalam rapat terbatas itu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga Kepala BKPM, Rosan Roeslani. Kehadiran Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga mengindikasikan pentingnya aspek administrasi dan hukum dalam persiapan ini.
Dengan persiapan yang teliti dan melibatkan para ahli di bidangnya, pemerintah berupaya maksimal agar hasil perundingan nanti benar-benar mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan kedaulatan industri nasional.
Artikel Terkait
Gempa Megathrust 7,6 SR Guncang Bitung, Picu Tsunami Kecil di Beberapa Wilayah
Pemilik SPBE Cimuning Bakal Dipanggil Usai Kebakaran Diduga Akibat Kebocoran
Prabowo Tunjukkan Finger Heart dengan Idola K-Pop di Tengah Perkuat Kemitraan Strategis dengan Korsel
Microsoft Investasikan Rp94 Triliun untuk Cloud dan AI di Singapura