Brellian menegaskan bahwa membangun kesadaran ini adalah tanggung jawab kolektif. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pelaku usaha, regulator, dan dunia pendidikan untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar kegiatan literasi, namun juga investasi jangka panjang untuk membentuk pola pikir yang lebih matang dalam menyikapi risiko kehidupan,” tuturnya.
Mengubah Perspektif tentang Asuransi
Lebih dari sekadar transaksi finansial, asuransi ingin dipresentasikan sebagai bagian dari perencanaan hidup yang komprehensif. Tujuannya adalah menggeser pandangan masyarakat, khususnya anak muda, yang mungkin masih memandang asuransi sebagai produk yang rumit atau tidak prioritas.
Brellian berharap program ini dapat membuka wawasan baru bagi para peserta. Asuransi diharapkan dapat dipahami sebagai sebuah bentuk kesiapan, yang memberikan ketenangan dan kepercayaan diri untuk menjalani hidup dan meraih cita-cita.
“Melalui program literasi ini, kami ingin membuka perspektif bahwa asuransi bukan sekadar produk keuangan, melainkan salah satu bentuk kesiapan diri dalam menghadapi berbagai kemungkinan, agar mereka dapat melangkah lebih fokus, tenang dan percaya diri dalam menggapai cita-citanya," ungkap Brellian.
Dengan langkah ini, Asuransi Jasindo memperkuat perannya tidak hanya sebagai penyedia layanan, tetapi juga sebagai mitra edukasi bagi masyarakat, khususnya dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi kompleksitas kehidupan di masa depan.
Artikel Terkait
PMI Manufaktur Indonesia Melambat Drastis ke 50,1 pada Maret 2026, Dampak Perang Timur Tengah
Harga Emas Antam Naik Rp75.000, Buyback Melonjak Rp110.000
Aplikasi X Lumpuh Total, Ribuan Pengguna Global Terdampak
Harga Referensi Ekspor CPO Naik 5,5% Jadi USD989,63 per Ton