Target ambisius datang dari PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Mereka mengejar tambahan dua juta nasabah baru sebelum tahun 2026 berakhir. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Direktur Finance & Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho, di Jakarta pada Kamis pekan lalu.
"Kami optimistis tahun ini menargetkan penambahan 2 juta customer," ujar Cahyo.
Optimisme itu punya dasar. Sepanjang 2025, kinerja BSI terbilang solid. Hampir semua indikatornya meroket dengan pertumbuhan dua digit, jauh mengungguli rata-rata industri. Menurut Cahyo, hasil ini tak lepas dari fungsi intermediasi yang berjalan baik. Pendanaan yang kuat dan penyaluran pembiayaan yang sehat serta tepat sasaran jadi penopang utamanya, ditambah dukungan pada program-program pemerintah.
Di sisi lain, ada faktor unik di balik kesuksesan itu. BSI mengoptimalkan 'dual license' yang dimilikinya. Mereka bukan cuma bank syariah dengan ekosistem Islami sebagai daya jual, tapi juga punya izin sebagai bullion bank.
Dan izin untuk bisnis emas itu membuahkan hasil yang fantastis.
‘’Terbukti dalam kurun waktu 8 bulan terakhir sejak BSI mendapat license Bullion Bank, kenaikan bisnis emas melesat di atas 100 persen," tegasnya.
Namun begitu, jalan mereka tak sepenuhnya mulus. Berdasarkan riset internal, tantangan terbesar bank syariah saat ini adalah kehadiran fisik di ruang publik dan produk yang mudah diakses semua kalangan. Dulu, jarang sekali menemui ATM bank syariah di tempat umum; kebanyakan masih terpaku di cabang.
Merespons hal itu, BSI lalu menjalankan transformasi digital selama dua tahun terakhir. Strateginya konkret: menebar 5.000 ATM/CRM di ruang publik, memperbanyak mesin EDC, dan memperluas kerja sama QR dengan merchant. Kehadiran cabang fisik di lokasi strategis juga ditingkatkan, khususnya untuk menjangkau segmen retail yang punya ketertarikan pada literasi keuangan syariah.
"Sekarang mesin ATM BSI berlokasi di tempat-tempat umum atau pusat keramaian," tutur Cahyo.
Langkah-langkah itu rupanya efektif. Transformasi digital, penguatan IT, serta peningkatan awareness berhasil mendongkrak kinerja. Sepanjang 2025 saja, basis nasabah bertambah 2 juta orang. Aset emas bullion yang dikelola pun mencapai sekitar 2 ton.
Di sini, emas memainkan peran krusial. BSI masuk dengan produk yang lebih inklusif, dan emas adalah jawabannya. Instrumen ini dianggap mudah, universal, dan aman untuk investasi jangka panjang, sehingga cepat diterima masyarakat. BSI lalu menggabungkan kekuatan IT dan daya tarik emas dalam satu platform bernama BYOND by BSI. Di platform ini, nasabah bisa membeli emas mulai dari Rp50 ribu saja, atau setara 0,02 gram.
"Inilah yang akan terus kami dorong sebagai literasi dan entry gate bahwa produk syariah itu kompetitif, sesuai kebutuhan dan mudah diakses," kata dia.
Keunikan BSI tak berhenti di transaksi finansial. Mereka juga menyiapkan layanan sahabat sosial dan spiritual, memungkinkan nasabah berdonasi melalui kerja sama dengan LAZNAS. Inilah pembedanya: bank syariah menawarkan one stop solution, tidak cuma untuk urusan uang, tapi juga untuk berbuat baik.
Perubahan perilaku masyarakat jelas membantu. Kesadaran akan gaya hidup halal dan manfaat produk syariah telah tumbuh pesat dalam dekade terakhir. Dukungan regulasi dan keberpihakan pemerintah terhadap ekonomi syariah akhirnya memperluas basis nasabah dan pasar. Semuanya berpadu, mendorong pertumbuhan yang begitu cepat.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Gariskan Peran BUMN Baru Agrinas Jaladri Dongkrak Sektor Perikanan
Persija Jakarta Terancam Pindah Kandang ke JIS Jelang Laga Kontra PSM
Ibu Bogor Temani Anak Cuci Darah Ratusan Kali, BPJS PBI Jadi Penopang Harapan
Jasindo dan Perbanas Institute Luncurkan Program Literasi Asuransi untuk Mahasiswa