Di sisi lain, Indonesia sejak awal punya tuntutan yang keras. Di BoP dan forum internasional mana pun, Jakarta selalu menyerukan penghentian kekerasan terhadap sipil. Mereka juga mengecam pelanggaran hukum humaniter internasional yang terjadi di Gaza, mendesak akses bantuan kemanusiaan, dan tentu saja, mendorong solusi dua negara.
Nabyl melanjutkan, dalam situasi yang pelik ini, Indonesia justru melihat nilai strategis dari keterlibatan berbagai pihak yang berkonflik. Itu dianggap sebagai bagian dari proses menuju perdamaian yang sulit dihindari.
Kabarnya, kepastian keanggotaan Israel ini datang langsung dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Saat berada di Washington DC, usai bertemu Menlu AS Marco Rubio pada Rabu (11/2/2026), Netanyahu mengunggah kabar bahagia itu di media sosial X. Dia menyatakan telah menandatangani dokumen yang mengikat negaranya dengan dewan bentukan Trump tersebut.
Kini, dengan komposisi anggota yang semakin beragam, tantangan Board of Peace justru semakin nyata. Indonesia, dari dalam, mengklaim akan terus memperjuangkan narasinya sendiri.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Tegaskan WFH Tak Berlaku untuk Pegawai Pelayanan Publik
Ekspor Korea Selatan Tembus Rekor Tertinggi Didorong Lonjakan Permintaan Chip
Israel Bantah Keterlibatan dalam Ledakan yang Tewaskan Prajurit TNI di Lebanon, Tuding Hizbullah
Pemerintah Dorong WFH Satu Hari per Minggu, Sektor Vital Dikecualikan