MURIANETWORK.COM - Lembaga pemeringkat internasional Moody's telah mengubah prospek (outlook) lima bank besar Indonesia dari 'stabil' menjadi 'negatif'. Perubahan ini, yang diumumkan awal Februari 2026, menyasar Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA, dan BTN, meski peringkat kredit mereka tetap dipertahankan. Langkah ini menandakan meningkatnya tekanan risiko terhadap sektor perbankan nasional, meski fundamental peringkat belum berubah.
GCG Jadi Kunci Menjaga Kepercayaan
Merespons perkembangan ini, pengamat perbankan Trioksa Siahaan menekankan bahwa tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) adalah fondasi krusial dalam menghadapi koreksi outlook semacam ini. Sebagai lembaga intermediasi, eksistensi bank sangat bergantung pada kepercayaan publik, yang hanya bisa dijaga dengan praktik tata kelola yang sehat dan transparan.
Trioksa, yang juga menjabat sebagai Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), mengingatkan konsekuensi serius jika aspek ini diabaikan. "GCG di bank merupakan hal yang mutlak untuk dijalankan agar bisnis dapat tetap berkelanjutan, bila dijalankan dengan mengabaikan GCG dan kepercayaan masyarakat hilang maka tinggal menunggu waktunya saja untuk jatuh," tegasnya.
Momentum Evaluasi dan Perbaikan Internal
Menurutnya, penyesuaian dari lembaga pemeringkat sebenarnya bisa menjadi alarm dan momentum berharga bagi manajemen bank untuk melakukan introspeksi dan perbaikan. Peningkatan kualitas tata kelola, secara alamiah, akan berdampak positif pada penilaian eksternal di masa mendatang.
"Maksudnya tergantung pada kasus-kasus khusus di bank itu utk penerapan GCG. Termasuk untuk penyaluran kredit dan menjaga likuiditas juga harus memperhatikan GCG," lanjut Trioksa. Ia menegaskan bahwa seluruh operasional, mulai dari penyaluran kredit hingga manajemen likuiditas, harus dilandasi prinsip kehati-hatian dan rambu-rambu GCG yang ketat.
Tantangan Spesifik dan Peran Pemerintah
Di antara kelima bank tersebut, Moody's menyoroti tantangan spesifik yang dihadapi oleh Bank Tabungan Negara (BTN). Lembaga pemeringkat itu mencatat adanya beban struktural pada BTN, seperti portofolio kredit restrukturisasi yang relatif tinggi dan tingkat likuiditas yang perlu diperkuat.
Namun, di sisi lain, Moody's juga mengakui peran strategis BTN dan kepemilikan mayoritas pemerintah atas bank tersebut. Faktor-faktor ini menjadi pertimbangan utama dalam penilaiannya. "Peringkat simpanan Baa2 BTN mencerminkan probabilitas dukungan pemerintah yang sangat tinggi, mengingat peran sistemik BTN dan kepemilikan mayoritas pemerintah," tulis laporan Moody's.
Analisis ini menggarisbawahi dinamika kompleks dalam dunia perbankan, di mana kinerja operasional dan tata kelola berpadu dengan faktor dukungan eksternal. Keputusan Moody's pada akhirnya menjadi pengingat bagi semua pihak tentang pentingnya menjaga kesehatan dan kredibilitas sektor keuangan secara berkelanjutan.
Artikel Terkait
Kemendag Fasilitasi Ekspor 1.217 UMKM, Raih Transaksi USD 134,87 Juta
Polda Metro Jaya Gagalkan Peredaran 9,4 Kg Ganja di Cawang, Tiga Tersangka Diamankan
Iran Tuntut Protokol Keamanan IAEA Sebelum Izinkan Inspeksi di Situs yang Masih Ada Bom AS
Bapanas Perluas Pengawasan Satgas Saber Pangan ke Mutu dan Keamanan Jelang Ramadan