Produksi emas Indonesia sepertinya mentok. Angkanya bertengger di kisaran 100 ton dan sulit naik. Padahal, potensi kita sebenarnya jauh lebih besar dari itu.
Lalu, apa yang menghambat? Menurut Ferdian Timur Satyagraha dari PT Pegadaian, salah satu biang keroknya adalah soal pajak. Struktur pajak domestik dinilainya kurang bersaing, bahkan lebih tinggi ketimbang skema untuk ekspor-impor. Hal ini ia sampaikan dalam seminar di FEB UI, Jumat lalu.
"Kenapa cuma 100 ton? Salah satunya ya terkait pajak ini. Posisi pajak domestik lebih tinggi dibandingkan pajak ekspor-impor sendiri,"
ujar Ferdian.
Memang, persoalan fiskal bukan satu-satunya. Tapi jelas jadi faktor penting yang perlu dicermati.
Di sisi lain, produksi juga sangat bergantung pada pasar. Permintaan dalam negeri yang masih rendah bikin industri tak bisa berproduksi secara optimal. Logikanya sederhana: kalau permintaannya kecil, untuk apa produksi ditingkatkan?
"Posisi produksi kan tergantung demand juga. Harapannya ke depan, makin banyak yang mulai investasi atau menabung emas. Itu akan mendorong optimalisasi produksi,"
tambahnya.
Nah, untuk mendongkrak permintaan itulah, pengembangan ekosistem emas nasional digaungkan. Salah satu bentuknya adalah melalui pembentukan bullion bank. Lembaga ini diharapkan bisa jadi penggerak, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih nyata.
"Semoga dengan adanya bullion bank dan pengembangannya, dampak positif emas bagi Indonesia bisa lebih optimal,"
harap Ferdian.
Gagasan bullion bank sendiri sudah diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Sambutan dari pelaku industri pun terbilang hangat. Mereka melihat langkah ini sebagai terobosan strategis untuk memperkuat fondasi ekosistem sekaligus menopang sistem keuangan.
Pendapat senada datang dari Sandra Sunanto, Dirut PT Hartadinata Abadi. Baginya, kehadiran bullion bank punya nilai ekonomi yang luar biasa, apalagi mengingat Indonesia adalah produsen emas besar.
"Ini hal penting untuk membangun ekosistem kuat di negara kita. Supaya emas tidak beredar ke luar, tetap di pasar domestik untuk memperkuat ekonomi. Bullion bank ini juga sangat mendukung sistem keuangan kita,"
tutur Sandra.
Jadi, jalan menuju optimalisasi produksi emas nasional ternyata berliku. Butuh penyesuaian aturan, terutama pajak, dan juga terobosan institusi seperti bullion bank untuk memacu permintaan. Semua saling terkait. Tinggal menunggu, apakah langkah-langkah ini bisa membawa angin segar bagi industri emas dalam negeri.
Artikel Terkait
Menpora Apresiasi Runner-up Timnas Futsal Indonesia di Piala Asia 2026
Prabowo Janjikan Penurunan Biaya Haji dan Pembangunan Kampung Indonesia di Makkah
Batik Keris Solo Bertahan Seabad dengan Strategi Heritage dan Teknologi
Harga Pangan Pokok Turun Jelang Ramadan 2026